Buku Incognito Pak Harto

Incognito Pak Harto, Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya Sahabat Sekalian pada kesempatan kali ini Kata Ilmu akan share artikel mengenai Sinopsis atau Ringkasan Buku Incognito Pak Harto, Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya, yang baru baru ini diluncurkan di Jakarta.
  • Judul Buku: Incognito Pak Harto, Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya

  • Tebal: 279 halaman

  • Penulis: Mahpudi

Sinopsis Buku Incognito / Penyamaran Soeharto


Sekitar  tahun 1970-an, almarhum Presiden Soeharto kerap mengadakan kunjungan diam-diam (incognito) ke desa-desa. Benar-benar incognito,karena dilakukan secara rahasia, dengan menggunakan mobil jeep  bukan mobil kepresidenan. Jeep yang digunakan Toyota Hardtop yang populer ketika itu dan dapat masuk ke pelosok-pelosok desa. Rombongan incognito Pak Harto ketika itu tidak lebih dari tiga kendaraan  termasuk ajudan dan pengawal presiden. Begitu rahasianya kunjungan diam-diam itu hingga dilakukan tanpa memberitahukan kepada para menteri,apalagi pejabat daerah setempat. Pak Harto ingin mendapat informasi langsung dari sumber pertama, rakyat yang diajaknya berdialog.

Begitu rahasianya kunjungan itu, sehingga wartawan Antara,Pattirajawane, yang ketika itu bertugas di Istana sejak masa Bung Karno, diminta datang oleh Kepala Dokumentasi dan Media Massa Setneg, Dwipayana, yang lebih akrab di kalangan teman-teman pers dengan panggilan Pak Dipo. ‘’Besok Anda berangkat ikut Presiden Soeharto,’’ kata Pattirajawane menirukan kata-kata Pak Dipo. Dia juga mengingatkan bahwa perjalanan tersebut rahasia dan tak boleh seorang pun tahu. Juga istri dan kantor,tidak boleh tahu. Keesokan harinya, berangkatlah dia, antara lain bersama Saidi, fotografer yang menjadi kepercayaan Pak Harto. Patti sengaja dipilih, karena selain senior, juga menguasai bahasa Jawa yang banyak digunakan Pak Harto dalam berdialog saat menemui rakyat kecil.

Setelah bergabung dengan Pak Harto di Bekasi  seperti dipesankan Pak Dipo rombongan menuju Majalengka.Dalam kunjungan ini Pak Harto mengaku sebagai Pak Mantri.Rupanya karena di perjalanan sering berdialog dengan rakyat, di antara para pedagang di pasar dan petani di persawahan,ada yang tahu bahwa yang mengaku Pak Mantri itu adalah Presiden Soeharto.Rupanya, seorang kepala desa tidak siap menyambutnya.Hingga terpaksa tengah malam menggedor sebuah toko milik Cina untuk membeli kain blacu guna dijadikan seprai untuk tidur Pak Harto. Di sini, Pak Harto mandi di sumur.

Ketika berada di Cilacap, Jawa Tengah, saat meninjau SD Inpres, Pak Harto rupanya melihat ketidakberesan pembangunan gedung sekolah yang disubsidi pemerintah itu. Ia menendang dinding sekolah dengan sepatunya dan ternyata dinding itu ambruk.‘’Siapa anemer (pemborong) bangunan ini?’’ tanyanya sambil sekali lagi menendang dinding yang keropos. Dia minta agar pihak pemborong bertanggung jawab terhadap bangunan tersebut. Suatu hari, ketika berada di Jawa Tengah, kedatangan diam-diam Pak Harto diketahui banyak orang. Pasalnya, ada yang mengenalinya dan akhirnya kunjungan yang sebelumnya dirahasiakan itu terbongkar. Kontan saja, bupati, gubernur, dan para pejabat Pemda berdatangan memburunya. Masih dalam penyamaran, ketika berada di Gunung Kidul, ada rapat di kelurahan. Mereka tidak tahu yang masuk adalah Pak Harto yang minta agar rapat diteruskan setelah berhenti sejenak. Ketika itu, rapat membahas soal pupuk. Pak Harto yang anak petani itu mengoreksi cara-cara dan ukuran penggunaan pupuk. Di Kemusuk, desa tempat kelahirannya, Pak Harto menginap di kediamannya.

Begitu rahasianya kunjungan Pak Harto ke desa-desa itu,sampai Ismail Saleh yang ketika itu menjadi sekretaris kabinet dan pemimpin umum LKBN Antara tidak tahu.Ketika kembali ke Jakarta setelah menyertai Pak Harto,Pattiradjawane dipanggilnya. Pak Ismail memarahinya kenapa tidak memberi tahunya. ‘’Saya ini Sekretaris Kabinet, kenapa kamu tidak kasih tahu saya,’’ kata Ismail Saleh seperti dituturkan Patti.

Di kediamannya, di Jl Cendana, menjelang ulang tahunnya yang ke-64, pada 8 Juni 1985, Pak Harto pernah menerima rombongan tamu istimewa, jumlahnya sekitar 50 orang. Mereka adalah murid SD Petukangan, dan siswa Jakarta International School, Cilandak — keduanya di Jakarta Selatan. Mereka datang guna membacakan puisi untuk Pak Harto yang dengan tekun duduk bersama Ibu Tien. Puisi itu merupakan cuplikan riwayat hidup Pak Harto yang dibacakan sebagai hadiah ulang tahun dari murid-murid SD tersebut. Puisi itu berjudul Putra Pertiwi dan dibacakan oleh murid-murid Jakarta International School, dicuplik dari buku biografi Anak Desa. Yang tak kalah menyentuh adalah ungkapan hati anak-anak SD Petukangan pada Pak Harto, ‘’Semoga panjang umur, semoga sering tersenyum.’’

Dalam usia yang semakin tua, Pak Harto memang mendapat tempat tersendiri di hati anak-anak. Lebih dari 23 ribu surat setahun dikirim anak-anak dari berbagai pelosok Tanah Air kepadanya. Dan, isinya pun khas anak-anak — lugu dan spontan. Mereka misalnya minta perangko, foto Presiden sekeluarga, sampai minta dikirimi sepeda mini. Sebagian besar permintaan itu dikabulkan oleh Pak Harto.

Demikian Artikel mengenai Incognito Pak Harto, Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya, semoga artikel ini dapat memebrikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua.[ki]