Hakikat Keindahan

Hakikat Keindahan Sahabat sekalian, pada kesempatan kali ini Kata Ilmu akan share artikel mengenai Hakekat Keindahan. jika kita berbicara mengenai keindahan, pasti akan menimbulkan pertanyaan ; ‘’apakah hakikat keindahan itu ?’’ atau ‘’dimanakah letak  hakekat keindahan itu ?‘’ utuk menjawab pertanyaan yang dimaksud, terlebih dahulu dipahami pendapat para ahli mengenai pengertiaan keindahan seperti termaktub dalam kumpulan essay Mustopo (1983;98-101) ringkasnya sebagai berikut;
Leo Tolstoy (rusia), ‘’keindahan itu adalah suatu yang mendatangkan rasa menyenangkan bagi yang melihat’’. Alexander Baumgarten (jerman), ‘’kaindahan itu dipandang sebagai kaseluruhan yang merupakan susunan yang teratur daripada bagian-bagian, yang bagian-bagian itu erat hubungannya dengan yang lain, juga dengan keseluruhan. (beauty is on of parts in their manual realtions and in their relations to the whole)’’.
Menurut sulzer, ’’yang indah itu hanyalah yang baik. Jika belum baik, ciptaan itu belum indah. Keindahan harus dapat mumupuk perasaan moral. Jadi ciptaan amoral adalah tidak indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral’’. Winchelman, ‘’keindahan itu dapat terlepas sama sekali dari pada kebaikan’’.
Shallesbury (jerman), ‘’keindahan itu adalah yang memiliki proporsi yang hormanis. Karena yang proporsinya harmonis itu nyata, maka keindahan itu dapat disamakan dengan kebaikan. Yang indah adalah yang nyata dan yang nyata adalah yang baik’’.
Menurut Humo (inggris), ‘’keindahan adalah sesuatu yang dapat mendatangkan rasa senang’’. Hemsterhuis (Belanda), ‘’keindahan adalah yang paling banyak mendatangkan rasa senang, dan itu adalah yang dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak memberikan pengamatan-pengamatan yang menyenangkan itu’’. Menurut Emannuel kant, ‘’meninjau keindahan dari 2 segi’’. Pertama dari segi arti yang subyektif dan kedua dari segi obyektif.
Yang subyektif
Keindahan adalah sesuatu yang tanpa direnungkan dan tanpa sangkut-paut dengan kegunaan praktis, tetapi mendatangkan rasa senang pada si penghayat.
Yang obyektif
Keserasian dari suatu obyek terhadap tujuan yang dikandungnya, sejauh obyek ini tidak ditinjau dari segi gunanya.
Menurut Al-Ghazali, ‘’keindahan mempunyai persyaratan’’, seperti;
  1. Perwujudan dari kesempurnaan yang dapat dikenali kembali dalam suatu dengan sifatnya;
  2. Memiliki perfeksi yang karakteristik;
  3. Semua sifat pada sesuatu yang indah, merupakan representasi ( mewakili) keindahan yang bernilai tinggi;
  4. Nilai keindahan dari suatu yang indah, sebanding dengan nilai keindahan yang terdapat di dalamnya;
  5. Dalam sebuah karangan (tulisan) harus memiliki sifat-sifat perfeksi yang khas, keharmonisan huruf-huruf, hubungan arti yang tepat satu sama lain, pelanjutan dan spasi yang tepat serta susunan kata dan kalimat yang menyenangkan;
  6. Syarat lain untuk keindahan adalah tercakupnya nilai-nilai spiritual, moral,dan agama.
Sedangkan menurut Read (1959), ‘’keindahan itu dipandang sebagai gejala-gejala Yang tidak tetap sifatnya’’. Sarpertreit, ‘’perasaan dan keindahan sebagai gejalah tak tetap sifatnya, maka manifestasinya juga tidak tetap wujudnya’’. Sederetan pendapat para ahli tentang kaindahan, selain isinya sangat bervariasi, juga makna terdalam tentang hakekat keindahan aksentuasinya berbeda-beda. Walaupun penentuan terakhir tantang keindahan selalu bertumpu pada 2 (dua) aspek, yaitu ada sesuatu yang indah misalnya berbeda dan ada yang melihat, mengamati, memandang, serta menghayati keindahan benda tersebut.
Oleh karena itu, hakekat keindahan yang paling esensial sangat ditentukan antara lain oleh;
  1. Rasa menyenangkan dan menimbulkan rasa senang.
  2. Adanya hubungan antara bagian-bagian sebagai suatu keseluruhan (obyek, sub okyeb,subyek,sub subyek,subyek-obyek, dan obyek-subyek) sebagai suatu kesatuan didalam suatu keseluruhan.
  3. Tercakup unsure kebaikan, sehingga dapat memupuk rasa kemoralan.
  4. Sebaliknya antara keindahan dan kebaikan tidak  saling berhubungan namun memiliki keterdekatan. Karena intisari mutlak dari hakekat yang indah itu harus baik, mengandung keharmonisan, nyata dan teraga, berguna serta lebih bermanfaat.
  5. Harus terkait dengan nilai-nilai spiritual, moral,,, dan agama.
Walaupun keindahan itu tidak tetap sifatnya. Berdasarkan rumusan-ruusan  yang dikemukakan, disimpulkan bahwa hakekat keindahan itu terletak di dalam keabadian dari keindahan itu sendiri. Walaupun cara memandang, mengamati,menghayati sesuatu yang indah senantiasa ditentukan oleh alur pikiran dan peresaan masing-masing.[ki]