Pengertian dan Konsep Penerapan SKS Kurikulum SMA

Pengertian dan Konsep PenerapanSKS Kurikulum SMA – Sahabat Sekalian, pada kesempatan kali ini Kata Ilmu akan berbagi artikel mengenai Pengertian dan konsep pemberlakuan sistem kredit semester atau SKS di jejnag pendididkan menengah atas atau SMA.
Sistem Kredit Semester (SKS) adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang siswanya menentukan sendiri beban belajar dan  mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. Beban belajar setiap mata pelajaran pada sistem kredit semester dinyatakan dalam  satuan kredit semester (sks). Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka, satu jam penugasan terstruktur, dan satu jam kegiatan mandiri tidak terstruktur(Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi). Beban belajar merupakan ukuran yang menunjukkan kuantitas yang harus dilakukan oleh siswa mengikuti tugas-tugas pembelajaran dalam bentuk kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur, dan kegiatan mandiri tidak terstruktur dalam rangka mencapai kompetensi yang dituntut oleh mata pelajaran. Beban belajar menuntut konsekuensi siswa meluangkan waktu dan tenaga untuk melakukan kegiatan yang telah didesain dalam silabus mata pelajaran yang waktunya telah ditentukan. Beban belajar dengan kredit lebih besar menuntut pengorbanan lebih banyak untuk melakukan tugas pembelajaran. Beban belajar mata pelajaran dihitung untuk kegiatan tiap semester dan dinyatakan dalam satuan kredit semeter.
Prinsip penyelenggaraan SKS di SMA:
  • Peserta didik menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti pada setiap semester sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya;
  • Peserta didik yang berkemampuan dan berkemauan tinggi dapat mempersingkat waktu penyelesaian studinya dari periode belajar yang ditentukan dengan tetap memperhatikan ketuntasan belajar;
  • Peserta didik didorong untuk memberdayakan dirinya sendiri dalam belajar secara mandiri;
  • Peserta didik dapat menentukan dan mengatur strategi belajar dengan lebih fleksibel. Peserta didik memiliki kesempatan untuk memilih program studi dan mata pelajaran sesuai dengan potensinya;
  • Peserta didik dapat pindah (transfer) kredit ke sekolah lain yang sejenis yang menggunakan SKS dan semua kredit yang telah diambil dapat dipindahkan ke sekolah yang baru;
  • Sekolah menyediakan sumber daya pendidikan yang lebih memadai secara teknis dan administratif;
  • Penjadwalan kegiatan pembelajaran diupayakan dapat memenuhi kebutuhan untuk pengembangan potensi peserta didik yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan;
  • Guru memfasilitasi kebutuhan akademik peserta didik sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya;
Penentuan sendiri beban belajar dan mata pelajaran tiap semester dilakukan dengan penjadwalan pola on/off. Penyelenggaraan SKS di SMA pada sekolah kategori standar, sekolah kategori mandiri, dan sekolah bertaraf internasional harus didukung persiapan yang mengacu pada pemenuhan delapan standar nasional pendidikan. Implementasi pelaksanaan SKS yang bersifat fleksibel terdapat pada proses pembelajaran dan pengelolaan yang mengakomodasi peserta didik sesuai dengan potensi, minat, kebutuhan, dan kecepatan belajarnya. SMA Bertaraf Internasional dan SMA Kategori Mandiri wajib melaksanakan SKS, sedangkan SMA Kategori Standar dapat melaksanakan SKS. Persiapan penyelenggaraan SKS terdiri atas persiapan dokumen kurikulum dan sumber daya. Persiapan dokumen kurikulum yang dimaksud terdiri atas struktur kurikulum dan beban belajar, peraturan akademik, kalender akademik, dan pedoman pendukung pelaksanaan, serta perangkat pembelajaran dan penilaian. Persiapan sumber daya terdiri atas sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan dan sarana prasarana. Sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk mendukung penyelenggaraan SKS terdiri atas guru, pembimbing akademik, konselor, dan tenaga administrasi akademik. Sumber daya tersebut harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang implementasi SKS dan standar nasional pendidikan pada umumnya. Jumlah guru cukup dan sesuai dengan latar belakang pendidikan. Sumber daya sarana prasarana mampu memfasilitasi pelaksanaan pembelajaran berbasis TIK, pembelajaran berbasis mata pelajaran (subject based classroom), dan penjadwalan pembelajaran yang fleksibel. Pembelajaran dengan pola on/off adalah penjadwalan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik memilih atau tidak memilih mata pelajaran tertentu pada semester tertentu. Struktur kurikulum dan beban belajar memuat mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri. Beban belajar seluruh mata pelajaran dan muatan lokal dinyatakan dengan satuan kredit semester (sks), yaitu minimal 114 sks dan maksimal 126 sks. Penetapan beban belajar seluruh mata pelajaran dan masing-masing mata pelajaran dilakukan oleh sekolah dengan mengacu pada panduan penyelenggaraan SKS dari BSNP dan petunjuk teknis penyelenggaraan SKS dari Direktorat Pembinaan SMA (Dit. PSMA). Sekolah menetapkan serial mata pelajaran sehingga pembelajaran dapat dilaksanakan secara fleksibel dengan pola on/off bagi peserta didik untuk melaksanakan layanan pendidikan yang mengakomodasi keragaman kecepatan belajar peserta didik dan variasi pilihan beban belajar dan mata pelajaran;

Mata pelajaran disusun maksimal dalam empat seri untuk mengakomodasi kebutuhan peserta didik dengan bakat dan kecerdasan istimewa yang berhak menyelesaikan masa studi paling cepat dua tahun (empat semester). Masa studi paling lama adalah 5 tahun (10 semester);

Penyusunan serial mata pelajaran mempertimbangkan potensi dan kebutuhan sekolah, serta mengacu pada standar isi dan standar kompetensi lulusan. Setiap seri mata pelajaran memuat standar kompetensi lulusan (SKL Mata Pelajaran) dan standar isi (SK-KD) sesuai dengan Permendiknas Nomor 22 dan 23 Tahun 2006.
Penyusunan kembali seluruh SK-KD sesuai standar isi pada serial mata pelajaran dilakukan dengan cara mengurutkan SK-KD tersebut sesuai dengan urutan seri dan beban belajarnya (sks). Peserta didik pada semua program jurusan wajib mengikuti mata pelajaran yang kontennya (SK-KD) tercantum pada semester 1 dan 2 (sesuai standar isi sistem paket). Sekolah memfasilitasi penjadwalan fleksibel dengan pola on/off. Penetapan beban belajar dan struktur kurikulum melibatkan unsur guru, konselor, tim penyusun kurikulum, dan kepala sekolah dalam rapat kerja sekolah.
Peraturan akademik menjelaskan ketentuan tentang mekanisme pilihan beban belajar dan mata pelajaran, mekanisme penilaian, penjurusan, dan kelulusan;
Mekanisme pilihan beban belajar dan mata pelajaran dilakukan pada awal semester dengan cara mengisi kartu rencana studi (KRS)  yang disetujui pembimbing akademik (PA) dengan ketentuan sebagai berikut.
Pilihan beban belajar dan mata pelajaran pada semester satu dilakukan dalam bentuk paket dengan jumlah tertentu. Peserta didik dengan bakat dan kecerdasan istimewa (sesuai hasil seleksi) berhak memilih beban belajar dan mata pelajaran melebihi peserta didik lainnya;
Beban belajar dan mata pelajaran pada semester dua dan seterusnya mempertimbangkan hasil indeks prestasi (IP) semester sebelumnya, yaitu:
  • IP < 5,0 dapat mengambil maksimal 8 sks
  • IP 5,0 s.d 5,9 dapat mengambil maksimal 10 sks
  • IP 6,0 s.d 6,9 dapat mengambil maksimal 16 sks
  • IP 7,0 s.d 7,4 dapat mengambil maksimal 20 sks
  • IP 7,5 s.d 7,9 dapat mengambil maksimal 24 sks
  •  IP 8,0 s.d 8,5 dapat mengambil maksimal 28 sks
  • IP > 8,5 dapat mengambil maksimal 32 sks
Mekanisme penilaian menjelaskan kriteria ketuntasan, teknik penilaian dan pengolahan hasil penilaian, dan mekanisme perbaikan nilai melalui remedial dan/atau semester pendek. Mekanisme penjurusan menjelaskan kriteria penjurusan, waktu pelaksanaan penjurusan, dan tahap penetapan penjurusan. Penjurusan dapat dilakukan mulai semester satu berdasarkan potensi, minat, kebutuhan, dan prestasi akademik. Data potensi diperoleh melalui psikotes. Data minat dan kebutuhan diperoleh melalui wawancara atau isian kuesioner. Data prestasi akademik diperoleh melalui tes seleksi penerimaan peserta didik baru;
Penjurusan disarankan mulai semester dua agar informasi yang dijadikan pertimbangan penentuan jurusan lebih lengkap setelah diamati selama satu semester Tahapan penjurusan dilakukan secara bertahap dengan langkah-langkah  sebagai berikut.
  • Jika hasil belajar semester satu sesuai dengan minat, potensi dan kebutuhannya, peserta didik dapat memilih program jurusan sesuai dengan pilihannya mulai semester dua. Dalam hal ini peserta didik memilih beban belajar dan mata pelajaran sesuai dengan ciri khas program jurusan (IPA, IPS, atau Bahasa);
  • Peserta didik yang belum dapat memenuhi persyaratan penjurusan di awal semester dua dapat memperbaiki hasil belajar semester satu melalui kegiatan semester pendek agar memperoleh penetapan penjurusan paling lambat di awal semester tiga. Dalam hal ini peserta didik tidak berhak memilih beban belajar dan mata pelajaran ciri khas jurusan pada semester dua;
  • Peserta didik diberi hak untuk pindah jurusan paling lambat di awal semester tiga. Mekanisme pindah jurusan dilakukan setelah mendapat persetujuan PA dan Konselor/BK dengan mempertimbangkan ketuntasan mata pelajaran prasyarat jurusan.
Persyaratan prestasi akademik untuk penjurusan ditentukan oleh sekolah melalui rapat kerja sekolah dengan mengacu pada panduan penyusunan laporan hasil belajar dari Dit. PSMA (Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen Nomor 12/C/KEP/TU/2008):
  • Persyaratan program IPA adalah lulus mata pelajaran fisika, kimia, dan biologi;
  • Persyaratan program IPS adalah lulus mata pelajaran ekonomi, sosiologi, dan geografi;
  • Persyaratan program Bahasa adalah lulus mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa asing. Kriteria lulus mata pelajaran adalah mengikuti kegiatan pembelajaran dengan kehadiran minimal 90%, memiliki sikap baik, dan memperoleh nilai mata pelajaran sekurang-kurangnya sama dengan nilai KKM. 
Sekolah penyelenggara SKS dapat memberikan layanan bagi siswa cerdas istimewa (SCI) dengan pembelajaran khusus sesuai dengan kemampuan dan daya dukung. Pembelajaran khusus bagi siswa cerdas istimewa dapat dilakukan dengan merekonstruksi secara khusus strategi tatap muka dan tugas terstruktur. Sekolah dapat menyusun kriteria beban belajar secara khusus bagi siswa cerdas istimewa. Kriteria penentuan siswa cerdas istimewa dilakukan oleh sekolah dengan mengacu pada karakteristik SCI, yaitu:
  • Memiliki tingkat kecerdasan intelegensi tinggi di atas rata-rata secara konsisten;
  • Memiliki riwayat belajar istimewa secara konsisten;
  • Memiliki karakter mandiri, cepat memahami, gemar membaca, dan motivasi tinggi dalam belajar; dan
  • Memiliki keingintahuan dan kreativitas tinggi serta komitmen tinggi dalam melaksanakan tugas  yang ditunjukan dengan skor kreativitas (CQ) dan komitmen tugas (TC)
Kriteria kelulusan menjelaskan kriteria dan mekanisme penentuan kelulusan, yaitu lulus penilaian mata pelajaran dan lulus dari satuan pendidikan. Penentuan kriteria kelulusan ditentukan oleh sekolah dalam rapat kerja sekolah; Kalender akademik memuat informasi hari dan jam belajar, hari libur, kegiatan ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester, jadwal pengisian kartu rencana studi (KRS), kegiatan semester pendek, dan jadwal ujian sekolah. Pedoman pendukung pelaksanaan menjelaskan informasi yang diperlukan untuk memperjelas dan memudahkan pelaksanaan penyelengaraan SKS. Pedoman pendukung terdiri atas , pedoman moving class, pedoman PA, dan pedoman Konselor/BK. Pedoman tersebut disusun oleh sekolah dengan melibatkan unsur guru, konselor/BK, tim penyusun kurikulum, dan kepala sekolah. Pelaksanaan penyelenggaraan SKS dilakukan secara bertahap dengan strategi phasing in/out dimulai tahun pertama, sedangkan peserta didik lainnya yang duduk di kelas XI dan XII tetap menggunakan sistem paket. Pada tahun kedua terdapat dua angkatan yang menggunakan SKS sedangkan peserta didik kelas XII masih menggunakan sistem paket. Pada tahun ketiga seluruh peserta didik di sekolah menggunakan SKS;
Untuk menyelengarakan SKS di sekolah pada tahap awal:
  • Tersedia KTSP yang memuat struktur kurikulum dengan sistem paket dan SKS yang telah ditandatangani Dinas Pendidikan Provinsi;
  • Tersedia perangkat pembelajaran (Silabus dan RPP) sesuai dengan serial mata pelajaran, minimal untuk tahun pertama;
  • Tersedia jadwal mata pelajaran dan jadwal konsultasi PA dan Konselor/BK;
  • Mendapat izin tertulis dari dinas pendidikan Kabupaten/Kota dan/atau Provinsi. Izin tersebut kemudian dilaporkan kepada Direktorat PSMA;
  • Melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat dan orangtua;
Jadwal mata pelajaran mengakomodasi kebutuhan dan potensi peserta didik,  dan daya dukung sekolah. ; Jadwal mata pelajaran digunakan untuk kegiatan pembelajaran tatap muka dan penugasan terstruktur yang ditetapkan pada awal semester. Sekolah merancang pilihan beban belajar dan mata pelajaran sampai semester enam untuk  mengakomodasi kebutuhan distribusi tugas mengajar. Kegiatan semester pendek dilaksanakan hanya untuk perbaikan nilai bagi mereka yang belum mencapai kelulusan mata pelajaran sampai akhir semester. Ketentuan tentang semester pendek;
  • Jadwal ditentukan oleh sekolah dengan waktu pelaksanaan disesuaikan dengan kebutuhan dan daya dukung;
  • Waktu belajar dilaksanakan pada sore hari setelah jadwal belajar berakhir atau pada jeda antar semester.
  • Pembelajaran semester pendek mengacu pada hasil ketuntasan standar kompetensi (SK) mata pelajaran;
  • Jumlah kegiatan dilakukan dalam 8 pertemuan yang diakhiri dengan penilaian;
  • Guru yang mengajar di semester pendek adalah guru mata pelajaran terkait yang mendapat tugas dari kepala sekolah;
Pembimbing Akademik (PA) adalah guru yang diberi tugas untuk membimbing perkembangan prestasi akademik peserta didik sampai akhir masa studinya. PA membimbing peserta didik maksimal 20 orang dengan tugas sebagai berikut:
  • Memantau dan  melakukan analisis terhadap data potensi, kebutuhan, minat, dan prestasi yang diperoleh dari Konselor/BK, serta memberikan rekomendasi konstruktif selama mengikuti pendidikan di sekolah agar peserta didik berkembang potensi akademiknya secara maksimal;
  •  Membimbing siswa pada saat pengisian kartu rencana studi (KRS), pemilihan jurusan, pembagian laporan hasil belajar (LHB), dan/ atau melaksanakan konsultasi akademik;
  • Mengelola hasil penilaian akhlak mulia dan kepribadian berdasarkan hasil penilaian dari guru mata pelajaran pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan dan masukan guru mata pelajaran lainnya. 
Menjalin komunikasi dan kerjasama dengan orangtua, Konselor/BK, dan guru mata pelajaran. PA memberikan layanan konsultasi akademik minimal enam kali dalam tiap semester. Konselor/BK adalah pendidik profesional yang bertugas memberikan pelayanan bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan formal; Konselor/BK memberikan bimbingan dan konsultasi pada peserta didik (konseli) agar mampu mengembangkan potensi dan mandiri dalam mengambil keputusan dan pilihan untuk mewujudkan kehidupan yang produktif, sejahtera, dan peduli kemaslahatan umum. Dalam pelaksanaan SKS, Konselor/BK membimbing siswa dengan jumlah minimal 150 orang selama masa studi dengan tugas sebagai berikut:
  • Memantau, menghimpun dan mendokumentasi data,  serta melakukan analisis potensi, kebutuhan, minat, dan prestasi peserta didik;
  • Memantau, mendeteksi, dan memberikan rekomendasi konstruktif agar peserta didik mampu mencapai tugas perkembangannya melalui kegiatan pengembangan diri di sekolah termasuk peserta didik yang membutuhkan layanan khusus;
  • Memberikan bimbingan siswa pada saat kegiatan layanan dan kosultasi kelompok sesuai jadwal layanan, serta layanan individu sesuai dengan kebutuhan peserta didik; dan
  • Melaporkan hasil penilaian kegiatan pengembangan diri tiap semester;
  • Menjalin komunikasi dan kerjasama dengan orang tua, PA, dan guru mata peajaran
Konselor/BK melaksanakan kegiatan layanan bimbingan dan konsultasi kelompok minimal enam kali dalam tiap semester. Penilaian dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah. Penilaian oleh pendidik dilakukan melalui tes dan nontes dalam kegiatan ulangan harian (UH), ulangan tengah semester (UTS), dan ulangan akhir semester (UAS). Penilaian oleh satuan pendidikan dilakukan melalui ujian sekolah (US). Penilaian oleh pemerintah dilakukan melalui ujian nasional (UN). Penilaian hasil belajar pada tiap mata pelajaran oleh pendidik mengukur pencapaian kompetensi tiap KD dan/atau SK untuk diakumulasi menjadi nilai mata pelajaran.
Penilaian hasil belajar dalam penyelenggaraan SKS menyertakan indeks prestasi (IP) pada laporan hasil belajar.
Perhitungan indeks prestasi menggunakan rumus:
  • IP = Indeks Prestasi
  • Ni = Nilai tiap mata pelajaran
  • Bi = Beban belajar tiap mata pelajaran (sks)
Laporan hasil belajar (LHB) memuat hasil penilaian mata pelajaran yang terdiri atas pengetahuan, praktik, dan sikap, disertai dengan deskripsi pencapaian standar kompetensi. LHB juga melaporkan hasil pengembangan diri dan akhlak mulia/kepribadian, serta hasil indeks prestasi semester dan kumulatifnya. Contoh LHB disajikan pada lampiran 3m. Pengelolaan, pengorganisasian, dan kontrol data penilaian, serta pencetakan laporan hasil belajar (LHB) menerapkan sistem administrasi akademik berbasis TIK. Kriteria lulus satuan pendidikan (lulus SMA) adalah menyelesaikan seluruh program pembelajaran dengan beban belajar minimal yang ditentukan satuan pendidikan, memiliki sikap yang baik, lulus ujian sekolah, dan lulus ujian nasional. Ujian sekolah dilaksanakan dua kali setiap tahun yaitu pada semester ganjil dan genap. Sekolah memfasilitasi peserta didik untuk dapat mengikuti ujian sekolah mata pelajaran tertentu setelah menyelesaikan seluruh serial mata pelajaran. Dengan demikian peserta didik berhak untuk mengikuti ujian sekolah secara bertahap. Ujian Nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada beberapa mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.  Pemerintah memfasilitasi ujian nasional (UN) dua kali setiap tahun, yaitu pada semester ganjil dan genap. Peserta didik juga berhak untuk mengikuti ujian nasional secara bertahap.[ki]