Kata Mutiara Pramoedya Ananta Toer


Kata Mutiara Pramoedya Ananta Toer – Sahabat Sekalian, pada kesempatan kali ini Kata Ilmu ingin mengenang kembali kata-kata mutiara Pramoedya Ananta Toer, Sang sastrawan handal yang pernah dimilik I Indonesia, namun juga pernah termarjinalkan oleh sesama bangsa sendiri diakibatkan tuduhan-tuduhan politik, berikut ini beberapa kata-kata mutiara mas pram yang berhasil dikumpulkan.
Kata Mutiara Pramoedya Ananta Toer
  • Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya.
  • Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.
  • Revolusi Perancis, mendudukkan harga manusia pada tempatnya yang tepat. Dengan hanya memandang manusia pada satu sisi, sisi penderitaan semata, orang akan kehilangan sisinya yang lain. Dari sisi penderitaan saja, yang datang pada kita hanya dendam, dendam semata.
  • Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya.
  • Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai."
  • "seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan"
  • "Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita."
  • "Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari."
  • "A mother knows what her child's gone through, even if she didn't see it herself."
  • "Menulis adalah sebuah keberanian..."
  • "Dahulu dia selalu katakan apa yang dia pikirkan, tangiskan, apa yang ditanggungkan, teriakan ria kesukaan di dalam hati remaja. Kini dia harus diam- tak ada kuping sudi suaranya."
  • "Menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi."
  • "Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."
  • "At the beginning of all growth, everything imitates."
  • "Barangsiapa muncul di atas masyarakatnya, dia akan selalu menerima tuntutan dari masyarakatnya-masyarakat yang menaikkannya, atau yang membiarkannya naik.... Pohon tinggi dapat banyak angin? Kalau Tuan segan menerima banyak angin, jangan jadi pohon tinggi"
  • "Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri"
  • "Seorang terpelajar harus berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan,"
  • "Tak pernah ada perang untuk perang. Ada banyak bangsa yang berperang bukan hendak keluar sebagai pemenang. Mereka turun ke medan perang dan berguguran berkeping-keping seperti bangsa Aceh sekarang ini...ada sesuatu yang dibela, sesuatu yang lebih berharga daripada hanya mati, hidup atau kalah-menang."
  • "Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana""
  • "Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain"
  • "Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua"
  • "Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain."
  • "Kau Pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, Pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka , dengan bahasa yang mereka tahu"
  • Barang siapa tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati.[ki]