Kontroversi Gerakan 30 September1965

Kontroversi Gerakan 30 September1965 – Sahabat sekalian, pada kesempatan kali ini Blog Kata Ilmu akan share artikel mengenai kontroversi G30S/PKI. Dalam bulan-bulan setelah peristiwa G 30 S/PKI itu, semua anggota dan pendukung PKI, atau mereka yang dianggap sebagai anggota dan simpatisan PKI, semua partai kelas buruh yang diketahui dan ratusan ribu pekerja dan petani Indonesia yang lain dibunuh atau dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk disiksa dan diinterogasi. Pembunuhan-pembunuhan ini terjadi di Pulau Jawa dan Bali (bulan Oktober-Desember 1965 ) Berapa jumlah orang yang dibantai tidak diketahui dengan persis - perkiraan yang konservatif menyebutkan 500.000 orang, sementara perkiraan lain menyebut dua sampai tiga juga orang. Namun diduga setidak-tidaknya satu juta orang menjadi korban dalam bencana enam bulan yang mengikuti kudeta itu.Dihasut dan dibantu oleh tentara, kelompok-kelompok pemuda dari organisasi-organisasi muslim dan organisasi organisasi Tameng PNI melakukan pembunuhan-pembunuhan massal, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada laporan-laporan bahwa Sungai Brantas di dekat Surabaya menjadi penuh mayat-mayat sampai di tempat-tempat tertentu sungai itu "terbendung mayat".Oleh kaum beragama, orang- orang PKI adalah orang orang yang halal darahnya. Dalam kasus pembantaian orang PKI oleh kaum beragama ini, dapat dilihat bagaimana kekuasaan telah berhasil melakukan manipulasi. Kaum beragama dijadikan alat bagi kepentingan membasmi musuh ideologi penguasa. Di atas kesadaran kaum beragama yang melakukan pembunuhan atas nama keyakinan agama mereka, berjalan kepentingan penguasa (Orde Baru) untuk membasmi musuh ideologi sang penguasa dan usaha menegakkan pamor kekuasaan di atas kenistaan ideologi lawan.
Pada akhir 1965, antara 500.000 dan satu juta anggota-anggota dan pendukung-pendukung PKI telah menjadi korban pembunuhan dan ratusan ribu lainnya dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi, tanpa adanya perlawanan sama sekali. Sewaktu regu-regu militer yang didukung dana CIA menangkapi semua anggota dan pendukung PKI yang terketahui dan melakukan pembantaian keji terhadap mereka.
Di pulau Bali, yang sebelum itu dianggap sebagai kubu PKI, paling sedikit 35.000 orang menjadi korban di permulaan 1966. Koresponden khusus dari Frankfurter Allgemeine Zeitung bercerita tentang mayat-mayat di pinggir jalan atau dibuang ke dalam galian-galian dan tentang desa-desa yang separuh dibakar di mana para petani tidak berani meninggalkan kerangka-kerangka rumah mereka yang sudah hangus.Di daerah-daerah lain, para terdakwa dipaksa untuk membunuh teman-teman mereka untuk membuktikan kesetiaan mereka. Di kota-kota besar pemburuan-pemburuan rasialis "anti-Tionghoa" terjadi. Pekerja-pekerja dan pegawai-pegawai pemerintah yang mengadakan aksi mogok sebagai protes atas kejadian-kejadian kontra-revolusioner ini dipecat.Paling sedikit 250,000 orang pekerja dan petani dipenjarakan di “kamp-kamp konsentrasi” negeri ini.
Letkol Untung Sutopo Bin Syamsuri lahir di Desa Jayengan, Solo, pada tahun 1927. Nama kecilnya adalah Kusman. Ayahnya bernama Abdullah dan bekerja di sebuah toko peralatan batik di Pasar Kliwon, Solo. Sejak kecil Kusman telah diangkat anak oleh pamannya yang bernama Syamsuri. Kusman masuk sekolah dasar di Ketelan dan di sanalah dia mengenal permaina bola dan menjadi hobinya kemudian hari. Karena senang bermain bola Kusman pernah menjadi anggota KVC (Kaparen Voetball Club) di desanya. Setelah lulus sekolah dasar, Kusman melanjutkan ke sekolah dagang namun tidak sampai selesai karena Jepang mulai masuk ke Indonesia dan Kusman bergabung ke dalam Heiho.
Semasa perang kemerdekaan untung bergabung dengan Batalyon Sudigdo yang berada di Wonogiri, Solo. Selanjutnya Gubernur Militer Kolonel Sobroto memerintahkan agar Batalyon Sudigdo dipindahkan ke Cepogo, di lereng gunung Merbabu. Kemudian Kusman pergi ke Madiun dan bergabung dengan teman-temannya. Setelah peristiwa Madiun, Kusman berganti nama menjadi Untung Sutopo dan masuk TNI melalui Akademi Militer di Semarang.Letkol Untung Sutopo bin Syamsuri, tokoh kunci Gerakan 30 September 1965 adalah salah satu lulusan terbaik Akademi Militer. Pada masa pendidikan ia bersaing dengan Benny Moerdani, perwira muda yang sangat menonjol dalam lingkup RPKAD. Mereka berdua sama-sama bertugas dalam operasi perebutan Irian Barat dan Untung merupakan salah satu anak buah Soeharto yang dipercaya menjadi Panglima Mandala. Untung dan Benny tidak lebih satu bulan berada di Irian Barat karena Soeharto telah memerintah gencatan senjata pada tahun 1962.
Sebelum ditarik ke Resimen Cakrabirawa, Untung pernah menjadi Komandan Batalyon 454/Banteng Raiders yang berbasis di Srondol, Semarang. Batalyon ini memiliki kualitas dan tingkat legenda yang setara dengan Yonif Linud 330/Kujang dan Yonif Linud 328/Kujang II. Kelak dalam peristiwa G30S ini, Banteng Raiders akan berhadapan dengan pasukan elite RPKAD di bawah komando Sarwo Edhie Wibowo.Setelah G30S meletus dan gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri dan menghilang beberapa bulan lamanya sebelum kemudian ia tertangkap secara tidak sengaja oleh dua orang anggota Armed di Brebes, Jawa Tengah. Ketika tertangkap, ia tidak mengaku bernama Untung. Anggota Armed yang menangkapnya pun tidak menyangka bahwa tangkapannya adalah mantan Komando Operasional G30S. Setelah mengalami pemeriksaan di markas CPM Tegal, barulah diketahui bahwa yang bersangkutan bernama Untung.Setelah melalui sidang Mahmillub yang kilat, Untung pun dieksekusi di Cimahi, Jawa Barat pada tahun 1969, empat tahun setelah G30S meletus.
Bagi Soeharto, Untung bukanlah orang lain. Hubungan keduanya cukup erat apalagi Soeharto pernah menjadi atasan Untung di Kodam Diponegoro. Indikasi kedekatan tersebut terlihat pada resepsi pernikahan Untung yang dihadiri oleh Soeharto beserta Ny. Tien Soeharto. Pernikahan tersebut berlangsung di Kebumen beberapa bulan sebelum G30S meletus. Kedatangan komandan pada resepsi pernikahan anak buahnya adalah hal yang jamak, yang tidak jamak adalah tampak ada hal khusus yang mendorong Soeharto dan istrinya hadir pada pernikahan tersebut mengingat jarak Jakarta - Kebumen bukanlah jarak yang dekat belum lagi ditambah pada masa tahun 1965 sarana transportasi sangatlah sulit.
Menurut Peter Gribben dalam tulisannya di jurnal CounterSpy terbitan Amerika edisi 1980, mungkin, takkan pernah terungkap. Soalnya, terlalu banyak pihak yang bermain di dalamnya. Jika mau diusut secara seksama dan kritis, pihak-pihak yang ikut berperan dalam tragedi G30S/PKI tidak terhingga jumlahnya. Namun, 4 (empat) pemeran penting bisa diidentifikasi, yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI), Mayor Jenderal Soeharto selaku Panglima Kostrad, Presiden Soekarno, dan CIA.Siapa yang lebih besar perannya, ini pun sebenarnya sulit dijawab, kalau kita mau jujur dan menganalisisnya dengan kepala dingin. Makin lama suatu peristiwa berlalu, pengungkapannya bertambah sukar lagi, karena sebagian besar pelakunya sudah mati dan banyak dokumen penting yang musnah atau dimusnahkan.Dari sisi Soeharto dan pemerintah yang didirikannya-Orde Baru, G30S jelas-jelas buatan PKI. PKI merebut kekuasaan sah dengan memanfaatkan sejumlah "perwira muda progresif" yang selama bertahun-tahun berhasil mereka bina. Brigjen Soepardjo, Letnan Kolonel Untung, Kolonel Latief, Letnan Kolonel (U) Heru, dll, adalah pelaku-pelaku kudeta yang dimaksud.
Saling Tuding Selama 30 tahun sejak 1965, PKI tidak dapat mengeluarkan suaranya karena dibungkam dan para gembongnya dihabisi.G 30 S merupakan ciptaan militer dengan dalang Soeharto, dibantu penuh oleh Amerika (baca: CIA). Mereka pun membeberkan sejumlah "fakta", antara lain Untung dan Latief-dua pelaku utama G30S-sesungguhnya eks anak buah
Soeharto; sebagian pasukan yang terlibat berasal dari Kodam Diponegoro yang pernah dikomandani Soeharto; Batalyon 530/Brawijaya yang juga ikut dalam penculikan para Jenderal sebenarnya didatangkan ke Jakarta atas perintah langsung Soeharto (selaku P anglima Kostrad) dengan pesan untuk mengikuti peringatan HUT ABRI 5 Oktober 1965.
Menurut pengakuan Soeharto, menjelang dini hari 1 Oktober 1965 ia meninggalkan anaknya di RSPAD Gatot Subroto dan pulang ke rumahnya di Jalan H Agus Salim. Menurutnya, saat meninggalkan RSPAD itu ia sendirian (tanpa pengawal) dengan mengendarai jeep Toyota. Dari RSPAD mobilnya melewati depan Makostrad, lantas masuk ke Jalan Merdeka Timur. Ia mengaku di sana sempat merasakan suasana yang tidak biasa. Di sekitar Jalan Merdeka Timur berkumpul banyak pasukan, tetapi Soeharto terus berlalu dan tidak menghiraukan puluhan pasukan yang berkumpul di Monas.Setelah itu Soeharto mengaku pulang ke rumah dan tidur (ini dikatakan Soeharto di beberapa kesempatan terbuka). Lantas pagi harinya pukul 05.30 WIB dia mengaku dibangunkan oleh seorang tetangganya dan diberitahu bahwa baru saja terjadi penculikan terhadap para jenderal. Setelah itu saya langsung menuju ke markas Kostrad, kata Soeharto.
Sebagian orang-orang dekat Soeharto, sebagian lagi Amerika juga. Paling tidak, BK tahu ada gerakan perwira muda Angkatan Darat untuk mengadili para perwira tinggi "antek Amerika", tapi ia tidak bertindak. Kenapa pula BK pilih Halim sebagai tempat persembunyiannya pada 1 Oktober? Namun, jika kita baca biografi Mangil (eks ajudan), pemilihan Halim bukanlah kehendak Soekarno.Pagi itu, Soekarno dibawa putar-putar dulu di Jakarta oleh para ajudan dan pengawal, sebab mereka pun panik dan tidak tahu bagaimana mengamankan BK.
Gerakan 30 September/PKI memang kejadian yang multikompleks, hasil konspirasi jahat banyak kekuatan politik, termasuk kekuatan asing-AS, RRC, Uni Soviet, Malaysia, Inggris dan sejumlah negara komunis Eropa Timur.
Siapa pun tidak boleh memutarbalikkan sejarah. Hendaknya kita bisa memisahkan secara tegas antara peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM pasca-G30S dan kebenaran seputar G30S. dan Pembantaian terhadap orang-orang tidak berdosa memang kita kutuk. Secara keruhanian.[ki]