Manusia Nilai Moral dan Hukum

Manusia Nilai Moral dan Hukum – Sahabat Sekalian, pada kesempatan kali ini Kata Ilmu akan berbagi artikel mengenai manusia ditinjau dari segi nilai, manusia dari segi moral dan manusia dilihat dari segi hokum. Langsung saja disimak sebagai berikut:
Hakikat Nilai Moral dalam Kehidupan Manusia
Karena bervariasinnya pengertian nilai, sulit untuk mencari kesimpulan yang komprehensif agar mewakili setiap yang disepakati  dari semua pengertian  nilai tersebut, bahwa nilai berhubungan dengan manusia  dan selanjutnya nilai itru penting. Untuk melihat sejauh mana variasi pengertian nilai tersebut , terutama bagaimana hubungan  antara setisp pengertian itu dengan pendidikan, di  bawah ini  akan dikemukakan  beberapa defenisi tentang nilai :
  • Menurut Cheng (1955) : Nilai merupakan sesuatu yang potensial, dalam arti terdapatnya hubungan yang harmonis dan kreatif , sehingga berfungsi untuk menyempurnakan manusia , sedangkan kualitas merupakan  atribut atau sifat yang seharusnya dimiliki.
  • Menurut Lasyo (1999, hlmn.9) : Nilai bagi manusia merupakan  landasan dan motivikasi  dalam segala tingkah laku atau perbuatannya.
  • Menurut Dardji Darmowiharjo ( 1986, hlmn.36 ) : Nilai adalah yang berguna bagi jasmani dan rohani manusia.
Upaya mereduksi nilai dengan kondisi psikologis terjadi apabila  nilai dihubungkan dengan hal-hal sebagai berikut :
  • Sesuatu yang menyenangkan dan kenikmatan
  • Identik dengan yang  diinginkan
  • Merupakan sasaran perhatian
Karena kesenangan, kenikmatan, keinginan, dan perhatian merupakan kondisi kewajiban, maka pereduksi nilai dengan kondisi psikologis ini hanya menetapkan diri sebagai pengalaman pribadi semata.
Makna Nilai Bagi Manusia
Upaya menjelaskan nilai dengan kondisi psikologis , dengan objek yang ideal dengan status benda, bukan berarti ingin mengurangi hakikat nilai, akan tetapi mencoba mengisi relung-relung kosong yang belum tersntuh, sehingga dapat menjelaskan sisi nilai yan lain. Yang menjadi persoalan, ketika relung-relung diisi sering memperkecil maka niali yang dijelaskannya, sehingga nilai itu seolah-olah hanya merupakan kondisi psikologis, atau hanya merupakan objek yang ideal, hanya status benda saja, sebenarnya nilai itu dapat dan harus menyentuh seluruhnya,  akan tetapi sudut pandang berbeda akan menimbulkan pandangan yang berbeda dan akan menghasilkan  kesimpulan berbeda pula. Oleh karena itu pendefenisian nilai itu bervariasi , namun ada yang dapat disimpulkan dari penjelasan di atas,  nilai itu penting bagi manusia.
Nilai, Moral, sebagai Materi Pendidikan
Ada  beberapa bidang filsafat yang berhubungan dengan cara manusia  mencari hakikat sesuatu, salah satu itu diantaranya adalah aksikologi, bidang ini disebut filsafat nilai, memiliki dua kajian utama yaitu Estetika dan Etika .  Estetika berhubungan dengan keindahan sedangkan Etika berhubungan dengan kajian baik buruk dan benar salah.
Ketika persoalan etika dan estetika semakin diperluas tentu semakin kompleks, sebab menyentuh hal-hal yang berhubungan dengan eksistensi manusia, apakah jasmaninya, rohaninya, fisiknya, mentalnya, pikirannya bahkan perasaannya.
Namun tema Etika memiliki makna yang bervariasi, Bertnes (2001, hlmn 6) menyebutkan ada 3 makna etika:
  • Kata etika bisa dipakai  dalam arti nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan  bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah laku.
  • Etika juga berarti kumpulan asas atau nilai moral, yang dimaksud disini adalah kode etik.
  • Etika mempunyai arti lagi, ilmu tentang yang baik dan yang buruk. Etika disini artinya sama denga filsafat moral.
Dalam bidang pendidikan, ketiga pengertian di atas menjadi materi pembahasan, oleh karena itu bukan hanya nilai moral individu yang dikaji , tetapi juga membahas kode-kode etik yang menjadi patokan individu dalam memahami apa yang diyakini tanpa menggunakan aturan main yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat.
Nilai Moral diantara Pandangan Objektif dan Subjektif bagi Manusia
Nilai erat hubungannya dengan manusia,  baik dalam bidang etika yang mengatur kehidupan manusia dalam kehidupan sehari-hari, maupun bidang estetika  yang berhubungan dengan persoalan  keindahan, bahkan nilai masuk ketika manusia memahami agama dan keyakinan beragama.
Nilai di antara Kulitas Primer dan Kualitas Sekunder
Menurut Frondizi ( 2001, hlmn. 7-10 ) kualitas dibagi menjadi  dua :
  • Kualitas Primer : yaitu kualitas dasar tanpa  itu  objek   tidak akan  menjadi ada , seperti panjang dan beratnya batu          sudah  ada sebelum batu itu  dipahat (menjadi patung          misalnya) . kualitas primer ini merupakan bagian dari            eksistensi objek, objek tidak akan ada tanpa adanya kualitas primer.
  • Kualtas Sekunder, yaitu kualitas yang boleh ditangkap  oleh panca indra  seperti warna,  rasa,  bau , dan sebagainya. Kualitas ini  dipengaruhi oleh tingkat subjektifitas.
Perbedaan yang mendasar  antara kualitas primer dan kualitas sekunder bukan pada bersatu tidaknya kualitas tersebut pada objek, melainkan pada keniscayaannya:
  • Problematika Pembinaan Nilai Moral
  • Pengaruh Kehidupan keluarga dalam pembinaan nilai moral.
  • Pengaruh teman sebaya terhadap pembinaan nilai moral.
  • Pengaruh figur otoritas terhadap perkembangan nilai moral individu.
  • Pengaruh media komunikasi terhadap perkembangan nilai moral.
  • Pengaruh otak atau berfikir terhadap perkembangan nialii moral.
  • Pengaruh informasi terhadap perkembngan nilai moral.
Manusia  dan Hukum
Disepakati bahwa manusia adalah mahluk sosial, adalah makhluk yang selalu berinteraksi dan membutuhkan  bantuan dengan sesamanya. Dalam konteks hubungan dengan sesama  seperti itulah perlu adanya keterangan sehingga setiap individu dapat berhubungan secara harmonis dengan individu lain disekitarnya. Untuk terciptanya keteraturan tersebut diperlukan aturan yang disebut dengan hukum.  Hukum dalam masyarakat merupakan  tuntutan bahwa manusia tidak mungkin menggambarkan kehidupan manusia tanpa atau di luar masyarakat. Hukum diciptakan dengan tujuan berbeda-beda.  Ada yang menyatakan bahwa tujuan hukum adalah  keadilan, ada juga yang menyatakan keagunan , adanya yang menyatakan kepastian hukum, selain itu ketertiban juga  merupakan defenisi dari hukum. Untuk mencapai ketertiban dalam masyarakat-masyarakat  ini diperlukan adanya kepastian  dlam pergaulan antarmanusia dalam masyarakat.
Banyak kaidah yang berkembang dan dipatuhi masyarakat, seperti kaidah agama, kaidah susila, kesopanan, adat kebiasaan, dan kaidah moral. Kaidah hukum  sebagai salah satu kaidah susila tidak meniadakan kaidah-kaidah lain tersebut bahkan antarkaidah hukum dengan kaidah yang lainnya saling berhubungan yang satu memperkuat yang lainnya,  meskipun adakalanya  kaidah hukum tidak serasi dengan kaidah-kaidah tersebut.
Hubungan  Hukum  dan Moral
Meskipun hubungan hukum dengan  moral begitu erat, namun hukum dan moral tetap berbeda, sebab dalam kenyataannya  “  mungkin  “   ada hukum yang bertentangan dengan moral  ada  atau  undang-undang informal,  yang berarti terdapat keidakcocokan antara hukum dengan moral.  K. Bertens yang menyatakan bahwa ada empat perbedaan antara hukum dan moral .  Pertama  Hukum lebih dikondifikasikan daripada moralitas, artinya dibukukan secara sistematis dalam kitab  perundang-undangan.  Oleh karena itu norma hukum lebih memiliki kepastian dan  objektif dibandingkan dengan norma moral, sedangkan norma  moral lebih bersiafat subjektif.  Kedua  , meski hukum dan moral mengatur tingkah laku manusia ,  namun hukum membatasi diri pada tingkah laku lahirnya saja, sedangkan moral menyangkut batin seseorang.  Ketiga,  Sanksi  yang berkaitan dengan hukum berbeda dengan sanksi yang berkaitan dengan  moralitas. Keempat Hukum didasarkan atas  kehendak masyarakat dan akhirnya kehendak negara.  Meskipun hukum tidak berasal langsung  dari negara  seperti hukum adat, namun hukum itu harus diketahui negara sebagai  berlaku  sebagai hukum (Ahira, 2011).[ki]
Description: Manusia Nilai Moral dan Hukum Rating: 5.0 Reviewer: Amir Al-Maruzy ItemReviewed: Manusia Nilai Moral dan Hukum
Komentar Anda Adalah Sumbangsih Yang Tak Ternilai Untuk Kata Ilmu
previous previous