• Subscribe via RSS

Juknis Pengembangan Silabus dan RPP Berkarakter Sejarah SMA

Juknis Pengembangan Silabus dan RPP Berkarakter Sejarah SMA - Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar  Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
Standar nasional pendidikan (SNP) digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan. Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) selain mengacu pada SNP juga berpedoman pada Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diterbitkan oleh BSNP.
Salah satu bagian penting dari KTSP adalah Silabus. Silabus  adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Agar silabus dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, potensi peserta didik, potensi daerah diperlukan petunjuk teknis.
Dalam dokumen ini dibahas hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan silabus mencakup :
  1. Prinsip-prinsip pengembangan silabus
  2. Karakteristik Mata Pelajaran
  3. Langkah-langkah Pengembangan Silabus
Dengan adanya petunjuk teknis dan contoh silabus ini diharapkan sekolah dapat menyusun/ mengembangkan silabus secara mandiri sesuai karakteristik mata pelajaran, kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah.
Prinsip Pengembangan Silabus
1.   Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Sumber-sumber yang dijadikan sebagai rujukan dalam memilih materi dan kegiatan pembelajaran, serta penetapan penilaian memiliki landasan teori yang sudah teruji kebenarannya. Oleh karena itu  materi pelajaran yang masih diperdebatkan misalnya, tidak boleh digunakan karena belum teruji kebenarannya. Begitu pula dalam mengembangkan bahan ajar, sumber referensi yang digunakan harus jelas dan otentik.  Beberapa lembar kerja (LKS) yang beredar yang belum diverivikasi tidak boleh dijadikan sebagai rujukan. Contoh Ilmiah: Kelas XII IPS, KD. 2.3  Menganalisis perkembangan politik dan ekonomi serta perubahan masyarakat di Indonesia pada masa reformasi. Kajian politik dan ekonomi pada masa Orde Baru dan Reformasi harus kajian berdasarkan hasil kajian ilmiah yang dapat dibuktikan dengan fakta-fakta sejarah dan memiliki sumber belajar (studi pustaka, internet) yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik. Pendidik secara cermat dan teliti merancang kegiatan pembelajaran, indikator dan materi pembelajaran sesuai dengan tingkat berpikir pesereta didik. Standar kompetensi yang berkaitan dengan mekanika di kelas X dirancang lebih sederhana dibanding dengan standar kompetensi yang hampir sama di kelas XI. Selain tingkat berpikir yang berbeda, kebutuhan dan potensi kelas XI sudah lebih spesifik karena peserta didik ada dalam kelompok program IPS. Dengan demikian tingkat kesukaran, cakupan dan kedalaman materi menjadi berbeda. Perbedaan tingkat kesukaran, cakupan, dan kedalaman materi dapat terjadi karena perbedaan sekolah berdasarkan potensi peserta didik atau daya dukungnya.
Sistematis
Komponen-komponen silabus  saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. Hubungan antara kompetensi dasar dengan materi dan kegiatan pembelajaran serta penilaian harus sistematis dan koheren. Pemilihan materi pembelajaran, indikator, kegiatan pembelajaran serta penilaian harus merupakan kesatuan yang utuh.
Konsisten
Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian. Konsistensi diperlukan dalam semua langkah pengembangan silabus  terutama dalam kegiatan pembelajaran dan penilaian.  Contoh  Kelas X, SK. 2.  Menganalisis peradaban Indonesia dan dunia, KD 2.3 Menganalisis asal-usul dan persebaran manusia di kepulauan Indonesia. Maka Indikator: Menganalisis Teori persebaran manusia di kepulauan Indonesia, Menganalisis perkembangan pengaruh peradaban Bacson-Hoabihn(kebudayaan neolithikum) di Indonesia.
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar, maka:
  • Indikator harus memadai sehingga mencapai kompetensi yang diperlukan. Keseluruhan indikator dalam satu KD minimal harus mencapai tingkat kompetensi dalam KD, meskipun dapat dikembangkan lebih tinggi jika kondisinya memungkinkan
  • Materi harus memadai dari kedalaman dan keluasannya.
  • Pengalaman belajar yang diperoleh melalui kegiatan pembelajaran memadai dalam keragaman dan kekayaannya. Pengalaman aktif di kelas melalui diskusi kelompok, diskusi kelas, presentasi dan melakukan eksplorasi melalui internet sangat disarankan dalam mata pelajaran sejarah.
  • Penilaian memadai sehingga keseluruhan indikator dan KD terukur keberhasilannya baik dari aspek pengetahuan, dan sikap.
  • Pemanfaatan sumber belajar harus memadai baik referensi, media atau alat yang digunakan termasuk lingkungan sebagai sumber belajar.
Aktual dan Kontekstual
Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu sejarah, perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia.
Penggunaan materi yang aktual dan kontekstual dalam kegiatan pembelajaran dan penilaian lebih memotivasi peserta didik. Hal ini disebabkan karena fakta yang aktual yang menjadi isu publik (misalnya masalah negara maju dan negara berkembang, HAM , Kesearaan Gender) serta kontekstual degan contoh masalah yang dihadapi secara nasional dan global, akan lebih menarik menjadi bahan kajian dalam diskusi.
Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat. Variasi peserta didik yang berbeda gaya belajar (misalnya cooperative learning, visual-verbal, atau interpersonal) dapat diakomodasi dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang beragam, penilaian yang bervariasi maupun sumber belajar.  Kegiatan pembelajaran dan penilaian melalui observasi dan pengamatan  akan memunculkan potensi terbaik peserta didik yang memiliki gaya belajar inkuiri. Sedangkan diskusi pemecahan masalah dan latihan soal memunculkan potensi terbaik peserta didik dengan kecerdasan verbal dan logik-matematik.
Menyeluruh
Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor). Rumusan indikator dikembangkan sebaiknya mencakup ketiga ranah tersebut. Oleh karena itu dibutuhkan pemilihan kegiatan maupun materi pembelajaran yang dapat menampilkan indikator kompetensi.
Pengembangan silabus sejarah perlu dikembangkan juga mengacu pada prinsip-prinsip
  • Peningkatan  Keimanan,  Budi  Pekerti  Luhur,  dan Penghayatan Nilai-nilai Budaya Keimanan, budi pekerti, dan nilai-nilai budaya perlu digali, dipahami, dan diamalkan untuk mewujudkan karakter dan martabat bangsa.
  • Penguatan Integritas Nasional. Penguatan integritas nasional dicapai melalui pendidikan yang menumbuhkembangkan dalam diri peserta didik sebagai bangsa Indonesia melalui pemahaman dan penghargaan terhadap perkembangan budaya dan peradaban bangsa Indonesia yang mampu memberikan sumbangan terhadap peradaban dunia.[ki]
Description: Juknis Pengembangan Silabus dan RPP Berkarakter Sejarah SMA Rating: 5.0 Reviewer: Amir Al-Maruzy ItemReviewed: Juknis Pengembangan Silabus dan RPP Berkarakter Sejarah SMA
Komentar Anda Adalah Sumbangsih Yang Tak Ternilai Untuk Kata Ilmu
previous previous