DI UJUNG MAUT: SERI PERENUNGAN

Apa yang saudara-saudara pikirkan waktu saudara-saudara terpaksa berbaring di ICU (Unit Perawatan Intensif) dengan pipa dan saluran plastik menghubungkan bagian-bagian badan saudara dengan dunia luar?. Hidung saudara dihubungkan dengan zat asam, lengan saudara dengan kantung darah transfusi, makanan dimasukkan melalui hidung dan pembuluh darah, dan dikeluarkan melalui pipa pula.
Manusia dalam keadaan darurat, di tepi hidup, bukan dirinya lagi. Dia kan memusatkan perhatiannya pada prioritas utama saja. Kalau ia tidak sadar, (mungkin) ia tidak berpikir apa-apa. Kalau ia sadar sedikit, ia kan berpikir tentang tentang dirinya, ia dekat dengannya, atau tentang sekarang. Kalau ia sadar, ia dapat menerawangkan pikirannya keberbagai hal; ke pasca kini dan mereka-reka apa yang dilakukannya kelak, atau ke masa pasca merta, kalau harapan hidupnya memudar. Tentu ia dapat berpikir pula tentang soal-soal kecil, bumbu-bumbu kehidupan, hal-hal yang berkesan tentang penjeguknya, kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam kehidupan dan sebagainya.
Saya menuliskan ini dengan pengalaman saya tadi siang. Saya sebuah Rumah sakit didaerah saya. Karena teman karib saya kecelakaan lalu lintas, dan dirawat sampai sekarang di ICU. Kebetulan di sebelah kawan karib saya tadi, ada pasien meninggal, katanya tadi pagi dia dibawa ke RS tersebut akibat dia jatuh dari loteng rumahnya. Tidak lama datang lagi Ambulance yang membawa pasien dari daerah. Pasien tersebut adalah korban perkelahian. Perutnya terkoyak oleh tusukan badik. Sekitar 15 menit ditangani di Icu, eh malah menghembuskan napas terakhirnya. Lain lagi dengan seorang gadis tanggung yang dirawat di ICU juga. Akhirnya menhembuskan napar terakhirnya pula.
Saya jadi berpikir, koq banyak sekali orang meninggal disini. Belum 2 jam saya di Rs tersebut,sudah 3 orang meninggal di ICU. Sungguh tahan dokter-dokter ini, pikirku. Tiap hari melihat kematian dan pembedahan, tiap saat melihat orang merintih bahkan meraung di ujung maut. Saya salut kepada kalian bapak dan ibu dokter, karena kalian manusia-manusia tangguh yang senantiasa menemani orang-orang di tepi hidup, kalian sudah berusaha memberi obat, suntikan, bahkan semangat untuk hidup. Tapi toh akhirnya yang diataslah yang menentukan hidup matinya seseorang.
Melihat peristiwa sekitar ajal (meskipun tadi hanya 3 yang saya saksikan langsung). Saya jadi tahu beraneka ragam cara manusia menjeang kematiannya. Ada yang tenang, barangkali sudah puas dengan hidupnya, barangkali sudah cukup bekerja dan sudah rela mati. Ada juga yang gelisah, barangkali karena memikirkan keluarganya yang akan segera ia tinggalkan, atau barangkali masih ada pekerjaannya yang belum sempat ia selesaikan, atau mengkin dia memikirkan kekasih ahtinya yang akan segera ia tinggalkan.
Dibalik peristiwa yang saya saksikan tadi. Timbul pikiran di benak saya. Tak tertutup kemungkinan esok, lusa atau kapan saja. Saya pun akan terbaring di antara orang-orang yang sedang menjalani perjuangan antara hidup dan mati di ruang-ruang ICU. Tapi bila saya ditakdirkan terbaring di ICU itu, maka saya akan kerahkan semangat hudup saya dan tidak akan gampang menyerah. Akan kuserahkan hidupku ke tangan Tuhan, dan kuserahkan pengobatan ke tangan para dokter; dan mental akan kuserahkan kepada familyku, tetapi hasrat hidup harus datang dari diriku sendiri. Raga sebetulnya sukar binasa dan jiwa tidak pernah mati!!!.
#Sebuah renungan untuk Saya dan untuk sahabat-sahabat semua.[AM]