GREEN BOOK: PEMIKIRAN MUAMMAR KHADAFY

Green Book: Pemikiran Muammar Khadafy – Sahabat, tidak sedikit dari kita yang hanya “membenci” Muammar Khadafy versi pemberitaan dari media antek-antek Barat. nah pada kesempatan kali ini, Blog ini ingin share tentang pemikiran-pemikiran Muammar khadafy yang dituangkan dalam buku hasil karangannya yang dia beri nama Green book. Green book sendiri berjudul versi aslinya Al-Kitab Al Akhdar, dan juga telah diterjemahkan dalam bentuk buku yang berjudul Menapak jalan Revolusi.

Versi Digital Green Book dalam bahasa Inggris yang bisa di Download DISINI. Buku Green Book hasil karya Sang Kolonel Muammar Khadafy dalam terjemahan bahasa indonesia bisa anda Download DISINI.
Terlepas dari pencitraan media Barat tersebut. Buku Kadafi ini sesungguhnya memberikan gambaran lain tentang sosoknya sebagai seorang pemikir dan pembangun konsepsi perubahan sosial dan demokrasi yang sungguh-sungguh bagi bangsanya. Buku Kadafi ini perlu diapresiasi sehubungan gejolak politik yang sedang berlangsung di negara yang dipimpinnya, karena selain dengan tepat menyingkap sisi lain dari Muammar Khadafy yang ternyata juga seorang pemikir sosial, juga karena biasa dianggap memberikan kemungkinan ruang untuk merefleksikan berbagai perubahan sosial di tempat lain. Karena segenap pergumulan pemikiran, praktek kenegaraan dan kehidupan sosial politik yang dikembangkan dan diujicobakan Khadafy terefleksi dalam buku ini.

Intisari dari buku Green Book
Pertama, demokrasi. Ia menolak sistem perwakilan yang diklaim sebagai bentuk demokratisasi. Alasannya, ke dau lat an rakyat tidak bisa dijalankan de ngan sistem perwakilan. Kedaulatan rakyat hanya bisa dilakukan rakyat sendiri. Karena itu, Khadafy menolak parlemen, partai, dan pemilihan umum atau referendum.
Jalan keluarnya, menurut Khadafy, harus dibentuk kongres rakyat dan komite rakyat. Awalnya, suatu komunitas rakyat masing-masing membentuk kongres rakyat utama, lengkap de ngan sekretariat nya. Sekretariat ini kemudian bersama-sama membentuk kongres rakyat. Maka, roda administrasi dijalankan lembaga ini yang bertanggung jawab pada kongres rakyat utama.
Kedua, Khadafy juga tidak sepakat dengan inti dari kapitalisme, yakni kepemilikan pribadi. Alasannya, akan membuka pe luang tak terbatas bagi individu untuk memuaskan kebutuhannya. Sehingga, akan terjadi eksploitasi manusia oleh manusia dalam masyarakat kapitalis. Khadafy lebih memilih memberikan tanggung ja wab pemerataan kekayaan kepada rakyat.
Ketiga, untuk menghadapi penyakitpenyakit sosial, jawabannya terletak pada keluarga. Keluarga bagi Khadafy merupakan basis sosial utama bagi masyarakat. Negara sangat ditentukan oleh dinamika suatu keluarga, yang kemudian meluas dalam suku dan bangsa.
Lewat buku tersebut bisa menelaah secara langsung pokok-pokok pikiran seorang kolonel yang pernah melakukan ku deta di negerinya. Khadafy bisa dilihat se bagai sosok kontroversial sekaligus diktator di negerinya sendiri. Tetapi di sisi lain, ia juga sosok yang memberikan keadil an bagi rakyat Libya. Tentu saja jika dilihat dari konteks sejarah Libya di masa lalu saat rakyat terbelengu oleh monarki absolut yang dijalankan penguasa Raja Idris kala itu.
Membaca Khadafy tak bisa dilepaskan dari konflik Perang Dingin antara Blok Timur pimpinan Uni Soviet dan Blok Barat yang arsiteki Amerika Serikat. Berakhirnya Perang Dingin itu, Muammar khadafy mencatatkan dirinya dalam lembaran sejarah dunia sebagai salah satu tokoh dunia yang berhasil menciptakan eksperimen so sialisme di negaranya. Ia layaknya Fidel Castro dan Che Gueva ra yang juga mempraktikkan sosialisme di Kuba atau Daniel Or tega di Nikaragua, berdasarkan tafsiran sosialismenya masing- masing. Khadafy tak peduli media Barat sering menggolongkannya sebagai seorang teroris yang mengukudeta pemerintahan yang sah dan bahkan memberi ruang bagi pelatihan-pelatihan militer untuk kegiatan terorisme. Bagi Barat, Khadafy adalah orang aneh yang lebih memilih hidup dan menerima tamutamunya di tenda. Khadafy dianggap tidak berbudaya dan mengidap penyakit kejiwaaan.
Demikianlah Sedikit tentang buku karangan mendiang Sang Kolonel Muammar khadafy, Mari kita pelajari berrsama, dang mengupas pemikiran-pemikaran beliau.[am]