PRINSIP KEINDAHAN DAN PERSAMAAN DALAM PELAYANAN PRIMA

Prinsip Keindahan dan Persamaan Dalam Pelayanan Prima – Sahabat sekalian, kali ini blog Amir Al-Maruzy akan publish mengenai prinsip keindahan dan persamaan dalam pelayanan prima. Dalam sejarah peradaban manusia sejak abad ke-4 SM, para cendikiawan telah mencoba menjabarkan berbagai corak landasan etika sebagai pedoman hidup bermasyarakat.
Prinsip Keindahan (Beauty)
Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang terhadap keindahan. Banyak filsuf mengatakan bahwa hidup dan kehidupan manusia itu sendiri sesungguhnya merupakan keindahan. Dengan demikian berdasarkan prinsip ini, etika manusia adalah berkaitan atau memperhatikan nilai-nilai keindahan. itulah sbabnya seseorang memerlukan penampilan yang serasi dan indah atau enak dipandang dalam berpakaian dan menggunakan waktu yang tepat. Tidak etis jika seseorang memakai pakaian olahraga dalam jam kerja. Atau tidak sepatutnya seseorang menghadapi tamunya dengan berpakaian tidur. Etika dalam pengelolaan kantor yang dilandasi oleh nilai-nilai estitika anatara lain diwujudkan dengan perancangan tata ruang, furnitur dan hiasan-hiasan dinding serta aksesoris lainnya yang bersifat ergonomis dan menarik, sehingga membuat orang bersemangat tinggi dalam bekerja.
Prinsip Persamaan (Equality)
Hakekat kemanusian menghendaki adanya persamaan antara manusia yang satu dengan yang lain. Setiap manusia yang terlahir dibumi ini serta memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Pada dasarnya adalah sama atau sederajat. Konsekuensi dari ajaran persamaan ras juga menuntut persamaan diantara beraneka ragam etnik. Watak, karakter, atau pandangan hidup masing-masing etnis di dunia ini. memang berlainan, namun kedudukannya sebagai suatu kelompok masyarakat adalah sama. Tuhan juga telah menciftakan manusia dengan jenis kelamin pria dan wanita. Dengan bentuk fisik yang belainan, tetapi secara hakiki diantara keduanya membutuhkan persamaan dalam pengakuan atas HAM mereka, dan kedudukannya dihadapan tuhan adalah sama.
Etika yang dilandasi oleh prinsip persamaan (equality) ini dapat menghilangkan prilaku diskriminatif, yang membeda-bedakan, dalam berbagai aspek interaksi manusia. Pemerintah sesungguhnya tidak dapat membeda-bedakan tingkat pelayanan terhadap masyarakat hanya karena kedudukan mereka sebagai warga negara adalah sama.
Yang membedakan dalam pemberian layanan pemerintah kepada masyarakat adalah tinggi rendahnya tingkat urgensinya, sehingga dapat ddiberikan prioritas-prioritas tertentu. [ ].