ROKOK KRETEK: SEJARAH DAN PERMASALAHANNYA

Rokok Kretek: Sejarah dan Permasalahannya - Rokok kretek adalah suatu pembaharuan terhadap tradisi orang Indian. Orang-orang yang cukup terhormat menghisap kretek di pesawat terbang (di bagian boleh merokok) dan rokok cengkeh sudah diimpor oleh banyak negara maju. Orang-orang Indian hanya sekali-kali menghisap tembakau waktu upacara agama atau pipa perdamaian, tetapi sampai ketangan eropa merokok menjadi ekses, seperti juga mesiu dan ganja. Mereka menghisap tembakau sebagai rokok (cigaretto) atau cerutu (cigaro), bahkan menghirupnya dengan hidung (tembakau senggeruk). Aksesoris merokok dikembangkan sampai mewah sekali dan merupakan hadia ulang tahun atau natal yang indah. Tabatiere, yaitu tempat bubuk tembakau, yang dipakai orang-orang di istana Eropa dapat mahal dan molek sekali. Tempat rokok, kantong pipa dan tembakau, pembersih pipa dan korek api bermacam-macam bentuk dan bahannya.

Dengan emansipasi wanita maka merokok dikomersialkan lebih lanjut. Cerutu terlalu besar bagi wanita, maka dibuat cigarillo. Mula-mula wanita perokok dianggap tidak bermoral dan hanya wanita yang kurang alim saja yang merokok, tetapi laki-laki Eropa dahulu begitu juga. Paus tahun 1624 mengekskomunikasi penghisap tembakau bubuk dan tembakau dianggap berbahaya dan memalukan. Turki menghukum mati para perokok dan Ksar Rusia mengiris sayap hidung perokok (mungkin supaya tidak bisa menghembuskan asap yang berpola-pola keudara), menghukum cambuk dan membuang mereka ke Siberia.
Waktu tembakau dibawa pulang Sir John Hawkins ke Inggris dari amerika pada tahun 1564, tembakau banyak dipakai sebagai obat, seperti juga kentang yang turut dibawanya. Asap dan daun tembakau dipergunakan untuk obat spilis, kanker, asma dan pening. Untuk spilis sisakit disuruh berbaring di ayunan, lalu diselubungi dengan asap tembakau dan daunnya di tempelkan pada luka.
Sekarang merokok meningkat dikalangan wanita dan relatif menurun dikalangan lelaki. Dunia merokok berkurang dinegara-negara maju dan meningkat dinegara-negara berkembang. Ketika pada tahun 1970-an dikampanyekan bahaya rokok, kebanyakan orang tak peduli. Waktu diulangi tahun 1980-an, sebagian orang memprotes karena akan mengurangi devisa dan cukai serta menimbulkan pengangguran. Dengan perkataan lain, biarkan saja perokok menderita kanker, penyakit pernafasan, jantung dan pembuluh darah, keguguran, kelahiran tidak cukup bulan, berat lahir rendah, pertumbuhan dan perkembangan anak terganggu asal baik bagi devisa negara. Penderita-penderita itu tidak akan unjuk rasa, sedangkan penganggur bisa jadi akan unjuk rasa menggulingkan negara.
Di Indonesia tembakau (tambako) sudah dianggap sebagai kata asli. Orang memakai tembakau sebagai susur, suntil, sugi, senggeruk dan dengan sirih, selain diisap sebagai rokok, cerutu, pipa dan cangklong. Susur adalah tembakau cincang yang disumpal diantara kedua bibir dan ujungnya dibiarkan bberjuntai. Kata orang ini adalah usaha licik laki-laki dalam masyarakat falokratis (laki-laki berkuasa) untuk mengurangi kecanggihan (cerewet) wanita. Suntil (bukan suntili’ he he he) adalah sepotong daun tembakau, mungkin juga cincangan, yang diselipkan antara bibir atas dan gusi, sedangkan sugi adalah daun tembakau yang diselipkan antara pipi dan gusi. Tembakau hidung atau senggeruk adalah bubuk tembakau yang dihirup dengan hidung. Yang penting disini adalah larutan zat-zat tembakau kedalam air liur, yang diserap oleh selaput lendir. Pada rokok, cerutu atau cangklong yang penting asapnya yang dihisap kedalam paru-paru dan sebagian dikeluarkan melalui hidung atau mulut dengan penuh kenikmatan dan variasi, dan sekarang sudah ada rokok elektrik (rokok di cas kayak hp saja he he he) yang kalo diisap tidak akan habis-habis. Begitu sedapnya, sehingga kalau dikatakan sebatang rokok memendekkan umur 5 menit, para perokok dengan rela memberikan umurnya yang 5 menit tersebut kepada sebatang rokok.
Di Asia Barat (negaranya Abunawas he he he) orang menghisap goza atau hookah, memakai pipa panjang melalui air dan diedarkan diantara hadirin (estapet-estapetki ini ceritanya he he he). Daun tembakau dapat juga dikunyah. Kedalam tembakau dapat dicampur bermacam-macam, seperti madu, cekur, ganja dan sebagainya. Di Amerika Selatan charuto (cerutu) lebih digemari.
Wakktu saya SMA dulu, saya masih ingat teman-teman yang kedapatan merokok (termasuk saya kayaknya he he he) diberi sanksi, misalnya diputar daun telinganya (ribeso’ki toling’na), berdiri beberapa lama dibelakang papan tulis, disuruh menghisap rokok 5 batang sekaligus serta disuruh menulis 1000 kalimat dengan bagus yang berisi janji “saya tidak akan merokok lagi disekolah”.
Pada akhir tahun 1950-an di USA dimulai gerakan anti-rokok oleh pemerintah. Dirumah-rumah sakit rokok dilarang dijual dan tidak boleh merokok didalam gedung. Kemudian, merokok dilarang disekolah dan ruangan ber-AC, sesudah iyu ditempat-tempat umum seperti perpustakaan, pameran, da ruangan tunggu. Angkutan umum dibagi atas bagian merokok dan tidak merokok, demikian pula gerbong kereta. Iklan rokok harus di imbangi oleh iklan anti rokok dalsm besar ruang (media cetak) dan lama waktu (media elektronika) yang sama. Pada bungkus rokok dan iklan harus ditulis kadar nikotin dan tar dalam rokok dan bahwa merokok membahayakan kesehatan.
25 tahun yang lalu di Indonesia dibeberapa pesawat terbang dan bandar udara masih dibagi-bagi rokok bungkus kecil. Iklan rokok merajalela, bahkan masuk kampus. Perusahaan rokok memegang peranan dalam kegiatan olahraga, padahal olahraga dimaksudkan untuk kesehatan dan kesegaran jasmani.
Banyak orang bertanya kalau merokok dilarang, bagaimana nasib buruh pabrik rokok, petani tembakau dan cengkeh, pengusaha rokok, penjual rokok, dan pedagang rokok asongan? Memang hal ini harus dipikirkan, karena negara-negara maju dalam tahun-tahun mendatang pasti mengurangi impor tembakau dan rokok kretek. Misalnya, dapat dicoba manipulasi genetis pada tembakau untuk mendapatkan tanaman dengan zat-zat berbahaya yang lebih renda atau tidak ada (ayo ahli biologi ini pekerjaan kalian he he he), mencari tumbuhan-tumbuhan subtitusi yang tidak berbahaya tetapi enak diisap (adakah tumbuhan sejenis yang lebih enak dari tembakau he he he), dan mengubah lahan tembakau untuk tanaman pangan sehingga bahan pangan memmenuhi kebutuhan dalam negeri dan bahkan bisa diekspor. Bisa juga memakai tembakau untuk keperluan lain yang aman. Cengkeh dapat diambil minyaknya dan dicari kebutuhan baru untuk minyak cengkeh, misalnya membuat minuman cengkeh (gimana rasanya yach he he he). Dengan demikian, pengusaha tembakau dan cengkeh dapat bersatu dalam usaha pengolahan untuk memenuhi kebutuhan baru. Siapa tahu diperlukan pita cukai cengkeh nanti, dan kita bisa rame-rame memproduksi “instant clove tea”.
Dan akhirnya jangan lupa dengan keuntungan yang kita peroleh kita bantu kesejahteraan orang Indian, yang sudah 500 tahun menderita, padahal mereka telah menyumbangkan tembakau bagi seluruh dunia dan telah dinikmati. Sekali-sekali kita perlu juga memperhatikan masalah HAM di USA, jangan hanya mau diperhatikan Saja.[ ]