MENELANJANGI KEBOBROKAN SEJARAH

Menelanjangi Kebobrokan Sejarah – sejak Lahirnya rezim militeristik Soeharto, oenulisan-penulisan sejarah Indonesia telah bertebaran baik dalam bentuk artikel maupun buku. Tidak sedikit para penulis sejarah yang dengan sengaja menutup-nutupi, menggelapkan dan malahan memalsukan peristiwa-peristiwa sejarah. 
Para penulis ini dengan sengaja telah menghitamkan peristiwa-peristiwa sejarah. pemutarbalikan yang sangat keji dan tidak tahu malu telah dilakukan terhadap Bung Karno seperti apa yang tercantum dalam buku PSPB terbitan pertama tahun 1976. Dalam PSPB ini disebutkan bahwa 'Presiden Soekarno memerima komisi perdagangan dan di berbagai Bank di Luar Negeri disimpan jutaan Dollar atas namanya'. Ruslan Adbul Gani yang sangat dekat dengan Bung karno memberikan tanggapan terhadap penghitaman diri Bung karno tersebut sebagai berikut: Bung karno yang saya kenal bukan tipe orang yang suka meminta-minta. Oleh karena berbagai reaksi dari rakyat, buku telah direvisi. Sebelum itu pada tahun 1975 telah terbit buku Sejarah nasional Indonesia (SNI) yang terdiri dari 6 Jilid dan buku ini dijadikan buku standar untuk pendidikan Sejarah di perguruan tinggi dan buku acuan untuk penulisan buku pelajaran sejarah bagi sekolah menengah dan sekolah dasar. Buku SNI ternyata menimbulkan heboh dan banyak reaksi, bukan saja dari rakyat luas tetapi juga dari ketua Tim penyusunnya sendiri. Pada awanya redaksi SNI di ketuai oleh sejarawan mumpuni Prof. Dr. Sartono Kartodirjo dan ia pula yang membuat kerangka-kerangka buku SNI tersebut. Penghitaman yang paling parah terhadap nama Bung Karno dapat dilihat pada jilid ke-VI  yang membahas mengenai masa pendudukan Jepang, masa erang kemerdekaan dan kurun waktu hingga tahun 1965. Reaksi Jilid ini diketuai oleh Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, seorang sejarawan yang berasal dari kalangan tentara. Jilid ini disamping sangat anti komunis, juga diwarnai pemutarbalikan fakta tentang kedudukan dan peranan Bung karno dalam sejarah, yang semua itu diluar kerangka yang disusun oleh Sartono kartodirjo. Oleh karena itu Sartono kemudian mengundurkan diri dari tim penyusunan SNI.
pemutarbalikan fakta itu antara lain bahwa Bung karno Bukanlah penggali lahirnya pancasila, dan berbagai penghitaman nama Bung Karno. Nah sekarang apakah kita sebagai generasi reformasi masih akan memutarbalikkan fakta sejarah??? demi kelanggenan suatu kemapanan???.Tentu kita tidak ingin berbuat kesalahan yang sama, tentu kita ingin menuliskan sejarah sesuai dengan faktualnya, meskipun itu pahit terasa. Mari Telanjangi kebobrokan sejarah. [ ]