JUGUN IANFU DAN PELECEHAN WANITA DALAM PERANG

Jugun Ianfu Dan Pelecehan Wanita Dalam Perang – Kali ini Amir Al-Maruzy ingin membahas sedikit tentang Jugun Ianfu dan pelecehan wanita dalam perang. Jugun ianfu atau dalam bahasa Jepangnya 従軍慰安婦, adalah semacam wanita penyaman atau panggilan atau penghibur semasa perang Asia Timur Raya. Berselang beberapa bulan setelah kedatangan tentara Dai nippon atau tentara Jepang, mulai ada Jugun ianfu (wanita penyaman atau penghibur) dari Korea yang ditempatkan di restoran, bar atau club (dengan katana ditulis kurabu) Jepang. Disana pada malam hari atau vacancy day sering terdengar nyanyian, jeritan dan teriakan serta banyak yang keluar dari sana Serdadu Japan mabuk dengan muka merah, banyak orang Japan tidak mempunyai enzim dehidrogenase aldehid. Di kota-kota yang banyak tentara Japan atau Nippon, restaurant – restaurant demikian banyak terdapat.
Jugun Ianfu
Sesudah lebih setahun Indonesia diduduki Japan, keadaan sosial ekonomi makin sulit. Di sumatera tidak terdapat gula pasir dan sebagai penggantinya dipergunakan gula enau dan gula tebu rakyat. Bahkan di Sulawesi Selatan beras minim sehingga banyak rakyat yang terpaksa menkonsumsi Assikapa (umbi siapa atau Umbi huta yang kalo salah kelola akan menyebabkan keracunan). Disamping itu pakain juga ijkut jarang di pasar2, sehingga rakyat lagi – lagi tersiksa dan hanya bisa menutupi badan mereka dengan kain dari karung goni.
Setelah pendudukan Japan inil, secara umum di Indonesia rakyat jadi melarat, keadaan ini memunculkan San – yaru musume (gadis tiga-yar). Dengan 3 yards kain orang japan bisa mendapatkan ianfu . gula sekilo atau beras putih beberapa kilo mempunyai nilai tukar yang sama dengan itu. Tiap-tipa Gun (kabupaten) menjalankan autarki (swasembada), sehingga lalu lintas beras memerlukan izin. Dari daerah-daerah lain diberitahukan ada anak-anak perempuan orang-orang terkemuka diambil japan untuk disekolahkan ke Syonanto (singapore) atau Tokyo, tetapi tidak ada kabarnya lagi. Bulan Oktober 1945 diwartakan ada kapal berisi banyak perempuan yang tenggelam di Laut Flores.
Perempuan-perempuan Belanda atau Indo-Belanda di kamp tawanan (interneringscamp) tidak dipaksa Japan untuk menjadi Jugun Ianfu, kecuali yang mau dengan sukarela dengan imbalan perumahan diluar camp, makanan yang lebih baik dan Money. Mereka ini membantu di bar, restaurant dan sebagainya. Ada terjadi beberapa kekerasan untuk memperoleh tawanan muda, tetapi dibela oleh tawanan-tawanan lain atau dikembalikan oleh Konfetai (polisi militer) sesudah dilaporkan. Misalbya untuk memperoleh jugun ianfu  untuk restaurant di Bukittinggi tempat kedudukan markas besar Balatentara Dai Nippon Comanndo Sumatera, dan dalam tahun 1943 – 1944 di camp-camp di magelang dan Semarang terjadi paksaan, karena japan kekurangan Jugun ianfu yang bebas penyakit kelamin dan berusia 18 – 30 tahun. Mereka yang terkecoh dengan janji-janji sampai belasan jumlahnya. Perlawanan sampai mempergunakan pedang oleh tawanan wanita, dan sebagaian opsir japan memrotes ke Tokyo. Markas besar mengabil tindakan dan mereka dikembalikan sebagai Furyo (tawanan) seperti semula ke Lamparsari di Semarang.
Pemerkosaan oleh Japan yang terbesar terjadi idi Nanjing (the rape of nanking) tahun 1937, dan dalam perang Dai Toa di Hong Kong dan Singapore. General Yamashita yang dikenal sebagai hariamu malaya (Marai no Tora) dianggap bertanggung jawab terhadap kekejaman dan pemerkosaan di Filipina.
Perang memang melahirkan banyak kejahatan. Manusia baik-baik terlepas dari disiplin dan kungkungan adat yang tetap kedalam masyarakat dengan budaya dan ras yang berlainan, yang dianggapnya submanusia. Dalam world war I dengan perang kubu terdapat banyak camp followers (wanita-wanita yang ikut dibelakang front). Perang merobek-robek tenunan sosial, ekonomi, dan cultural, dan jalan mencari makan tidak banyak terbuka. World war II yang mobil dengan Blitzkrieg pola dehumanisasi dan deseksuilsasinya lain lagi. Pemerkosaan massal terjadi di France, Italia, dan Ukraina, dan waktu perimbangan benrbalik, terjadi pembalasan di Germany dan Japan. Masuknya tentara America ke daratan Eropa, yang membawa nylon stockings dan rokok (engan tembakau asli) mengubah pemberian tentara Germany berupa mentega, keju, telur, daging dan anggur. Lili Marlene adalah nama yang diingat army america di germany sehingga tercifta lagu yang begitu seronok, sampai-sampai ada orang Indonesia yang tertarik untuk menamakan puterinya demikian.
Germany Nazi mempunyai diktator ahli kelamin sendiri, yaitu Dr. Walther Gross. Ia membuat eksperimen-eksperimen yang terbesar dalam sejarah dengan mendirikan camp-camp kembang biak untuk memperoleh keturunan Arya Nordic yang unggul. Laki-laki germany dan Skandinavia dibawa ke Polandia untuk menurunkan putra-putra Nordic dengan gadis-gadia Slavia. Suami mereka ditwan atau dikebiri, dan kehamilan digugurkan supaya orang yang murni Slavik berkurang. Liga Gadis Germany (Bund Deutscher Maedel, BDM) dipaksa berkerumun dengan serdadu Nazi. Di Italia Mussolini juga menyatakan bahwa tugas perempuan yang utama adalah memproduksi Serdadu.
Selain kejahatan terhadap wanita, perang selalu menyisakan “penyakit” diataranya, sadisme, penyakit veneris, pecahnya keluarga. Banyak masalah war waves timbul. Sejarah perang memang selalu berisikan kejahatan dan pelanggaran humanisme terutama pelanggaran terhadap kaum wanita. Sehingga benarlah kata Slank Peace Not War. Karena perang bukanlah cara yang beradab untuk menyelesaikan masalah apapun juga. [ ]