Supersemar Versi M. Jusuf

M. Jusuf
Supersemar Versi M. Jusuf – Satu lagi Kontroversi Supersemar (surat perintah 11 Maret 1960). Supersemar versi M.Jusuf. Alm. M. Jusuf adalah salah satu dari 3 yang ditugasi Soeharto untuk “meminta” Supersemar ke Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno di Istana Bogor. Berikut pengakuan M. Jusuf tentang Supersemar versi M. Jusuf yang dikutip dari buku Jenderal M. Jusuf panglima Para Prajurit:
Supersemar Versi M. Jusuf. Mengenai naskah asli Supersemar, M. Jusuf juga mempunyai dua versi cerita yang secara substansial berbeda cukup jauh. Yang pertama, dan merupakan versi yang banyak muncul, adalah naskah itu hanya diketik bersih satu copy. Satu-satunya copy yang ada itulah yang diberikan kepada mayjen basuki rahmat setelah ditandatangani oleh Bung Karno. Tetapi versi kedua yang pernak dikemukakan oleh M. Jusuf antara lain kepada mantan Wapres Jusuf Kalla adalah, Brigjen Sabur mengetik rangkap tiga dengan kertas karbon. 
Pak Harto
Copy utama itulah yang ditandatangani oleh Bung Karno, kemudian tindasan pertama disimpan oleh Sabur dan tindasan atau copy ketiga diambil dan disimpan oleh M. Jusuf. Dua lembar copian Supersemar tidak ditandatangani oleh Bung Karno.
M. Jusuf selain menyimpan tindasan atau copy ketiga (paling bawah) dari surat perintah ini, juga menyimpan konsep pertama surat perintah ini dan juga konsep kedua (setelah divalisdasi atau dikoreksi oleh Soebandrio dan Chairul Shaleh). Tidak ada diantara yang hadir di Istana Bogor sempat berpikir untuk menyimpan catatan-catatan itu, kecuali M. Jusuf. Tetapi 20 tahun setelah peristiwa itu. M. Jusuf berusaha untuk menutup rapat versi kedua ini sama halnya dengan tabir rahasia kematian Abdul Qahhar Mudzakkar yang sampai sekarang juga masih berlumur misteri.
Bung Karno
Pada medio 26 maret 1994, M. Jusuf diundang berbicara pada pertemuan akbar I Pengusaha Sulawesi Selatan se-Nusantara yang diselenggarakan di Makassar. Menjawab pertanyaan seorang hadirin, M. Jusuf mengatakan “pernah presiden datang, Eh, Jusuf ini anu, begini-begini, serahkan saja ke sekretariat negara, supaya dijadikan buku. Tidak itu hak pribadi saya. Biar saya saja yang susun. Siapa yang mau baca nanti, baca saya punya memoar. Kapan keluar???? Kalau keluar kan bukan urusanmu!!!! Urusan saya!”. Ketika interpretasi masyarakat mengarah pada satu hal akibat pemberitaan media massa yang gencar, M. Jusuf kemudian membantah anggapan bahwa ia menyimpan salinan atau copy serta konsep dari Supersemar tersebut.
Tidak banyak yang tahu bahwa M. Jusuf pernah memanggil mantan Wapres Jusuf Kalla kerumahnya untuk memperlihatkan copy tersebut. Tetapi begitu Jusuf Kalla sudah duduk diruang tamu dan berharap-harap cemas, M. Jusuf berubah pikiran dan berkata “Ah, kalau aku perlihatkan sekarang, kau cerita-cerita lagi!”.
Satu hal yang selalu konsisten diungkapkan oleh M. Jusuf kepada sejumlah kecil orang adalah, Supersemar yang diberikan itu adalah sama dengan apa yang ia lihat di istana Bogor pada 11 Maret 1966, dan memang terdiri dari 2 lembar, tidak lebih dan tidak kurang. Isinya pun sama seperti versi resmi yang pertama kali dikeluarkan pemerintah. Dan alasa M. Jusuf selama waktu yang  cukip lama tidak mau berbicara soal Supersemar adalah karena ia tidak ingin terlibat pada perdebatan yang tak akan berujung dan tak berguna pula, itulah Supersemar Versi M. Jusuf.[ki]