• Subscribe via RSS

PARADIGMA PENELITIAN KEBUDAYAAN

Paradigma Penelitian Kebudayaan – Dalam penelitian budaya ada dua pendekatan yang saling bertolak belakang. Pendekatan ini sering menjadi paham penelitian budaya. Dua penelitian ini harus diketahui oleh seorang peneliti budaya, karena akan memiliki implikasi luas pada pemilihan metode selanjutnya. Dua pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan etik dan emik. Kedua pendekatan ini sama-sama pentingnya bagi penelitian budaya. Namun peneliti harus menjatuhkan pilihan yang disesuaikan dengan kepentingan dan fenomena budaya yang diteliti.

Secara efistemologis pendekatan etik dan emik memiliki implikasi yang berbeda. Pendekatan etik dan emik sebenarnya muncul dari istilah linguistik, yang selanjutnya disadap oleh peneliti budaya pada umumnya. Dalam cabang ilmu bahasa dikenal dua cara penulisan bunyi bahasa, yaitu secara fonemik dan fonetik. Fenemik menggunakan cara penulisan bunyi menurut cara yang digunakan oleh si pemakai bahasa, sedangkan fonetik adalah sebaliknya, yaitu memakai simbol-simbol bunyi bahasa yang ada pada si peneliti. Pada cara kedua ini, setiap bunyi membedakan arti akan ditulis dengan simbol berbeda. Misalnya saja kata teras yang memiliki 2 makna, lalu ditulis dengan simbol berbeda. Simbol yang dipakai adalah simbol yang bisa dipahami secara universal.
Stuasi pengkaji bahasa semacam itu, mirip dengan peneliti budaya. Jika ahli budaya berusaha meneliti meburut kaiddah universal, menggunakan cara-cara yang telah ditentukan sebelumnya seperti kaidah fonetik, begitu sebaliknya. Jika pelukisan budaya itu mendasarkan pada budaya setempat, dia itu menggunakan pendekatan fonemik. Cara pelukisan budaya demikian, kemudian dikenal degan etik (fonetik) dan emik (fonemik).
Istilah etik dan emik tersebut dikemukakan pertama kali oleh Kenneth Pike, seorang linguis. Ia lalu mengembangkan istilah tersebut kedalam bidang ilmu budaya. Dalam kaitan ini, Kaplan dan Manners telah memberikan acuan bahwa pendekatan emik adalah pengkategorian fenomena budaya menurut warga setempat/pemilik budaya, sedangkan etik adalah kategori menurut peneliti dengan mengacu pada konsep-konsep sebelumnya. Peneliti bisa menggunakan salah satu pendekatan dan atau gabungan keduanya. Yang penting, bagi sipeneliti budaya perlu memperhatikan konsistensi pemanfaatan pendekatan keduanya agar nantinya tidak terjadi campur aduk antara efik dengan emik.
Description: PARADIGMA PENELITIAN KEBUDAYAAN Rating: 5.0 Reviewer: Amir Al-Maruzy ItemReviewed: PARADIGMA PENELITIAN KEBUDAYAAN
Komentar Anda Adalah Sumbangsih Yang Tak Ternilai Untuk Kata Ilmu
previous previous