KERAJAAN HO-LING


Kerajaan Ho-Ling – Dapatlah kiranya kita katakan, bahwa sumber-sumber Tionghoa yang bersangkutan dengan sejarah Indonesia Kuno, selain menambah pengetahuan historis kita, juga menimbulkan teka-teki di taman sejarah itu. Diantara teka-teki tersebut terdapatlah sebuah letak keraton, pusat kerajaan luas, yang namanya – berdasarkan huruf-huruf Tionghoa yang bunyinya tidak selalu dapat dipastikan – pernah dibaca sebagai Ho-Ling atau Kaling atau Kalingga. Nama ini sampai saat ini belum dapat disesuaikan dengan nama apa saja yang terkenal pada kita dari prasasti-prasasti Indonesia atau sumber-sumber lainnya. Satu-satunya yang agak disetujui oleh ahli sejarah yaitu terletak di Pulau Jawa.

Berita yang paling utama mengenai kerajaan ini dapat dilihat dlam riwayat kerajaan Tang, yang disusun setelah runtuhnya dinasti ini dalam abad ke-X. riwayat tadi pernah disusun kembali, sehingga terdapat dua redaksi; yang pertama lebih tua dan agak singkat dan yang kedua lebih muda dan lebih luas pembahasannya. Hal ini memang tidak berarti bahwa semua tambahan dalam teks muda dipilih dengan cukup kritis tentang asal usulnya atau hubungannya yang tepat.
Hal yang dikisahkan mengenai Ho-Ling didalam riwayat singkat tadi yakni:
Letaknya di suatu pulau dalam lautan selatan disebelah barat dari P’o-li dan disebelah timur dari To-P’o-teng; kesebelah utaranya terletak Tcehen-la (kamboja). Ke sebelah selatan ia berdekatan samudera.
Suasana kotanya dilingkari cerocok, didalamnya ada perumahan besar bertingkat yang beratap kulit (daun?) lontar, yaitu kediaman raja, yang bertahta disuatu panggung berbahan gading.
Penduduknya tidak makan denan menggunakan sendok atau ku’uai, tetapi dengan menggunakan tangan saja, mereka mengenal hurup-huruf dan tahu tentang astronomi, mereka membuat anggur (Tuak) dari pohon enau.
Ho-Ling itu disebut juga Cho-po’o  pada tahun 674, diperintah oleh seorang wanita dan digelari ratu, namanya ratu Sima dan ia memerintah dengan tangan yang kuat. Seorang pangeran bangsa Ta-zi (Arab) menempatkan emas sekarung di tengah jalan (untuk menguji kekuatan peratuarn-peraturan ratu Sima). Maka selama tiga tahun emas itu tidak disentuh oleh seorang pun juga, sampai akhirnya dengan tidak disengaja terinjaklah  oleh putra mahkota (anak dari ratu Sima), bukan main kemarahan ibundanya; ia dihukum mati, tetapi karena ibunya didesak dari mana-mana, hukuman mati ini ditukar dengan pemotongan kaki sang pangeran yang bersalah.
Kerajaan Ho-ling mengirim delegasi ke Tiongkok dalam periode 627-649, bersama-sama dengan To-P’o-teng dan Dahwala, pengiriman delegasi ini diulang sebanyak tiga kali yakni pada tahun 766, 779 dan sekali pada tahun 813 dan periode 827-835 dan dalam periode 860-873 masing-masing.
Demikianlah sekilas data tentang kerajaan Ho-ling atau Kaling atau Kalingga. Bagi anda para pelajar/mahasiswa/peneliti yang ingin menjadikan referensi tulisan ini dan butuh tentang sumber bukunya, harap mengirim email ke: aalmarusy[at]yahoo[dot]co[dot]id, atau mengirim pesan ke Inbox facebook saya, karena sumber bukunya kebetulan saya koleksi.