INDONESIA DIAMBANG SEJARAH

Indonesia Diambang Sejarah – Strabo, seorang ahli ilmu bumi Romawi, yang hidup sezaman dengan Kaisar Augustus (27 sb – 14 ss.M), menyatakan dengan penuh kebanggaan, setiap tahun paling tidak ada 120 buah kapal yang membongkar sauhnya di pelabuhan Myos Hormos di laut merah menuju India. Dahulu, demikian katanya, “tidak ada 20 orang kapten kapal yang berani berlayar masuk ke Teluk Arab sampai mereka dapat mengetahui apa yang dijual diseberang sana”. Berita yang ditulis oleh Strabo ini tidak berlebihan, terbukti nyata dengan terdapatnya sejumlah besar mata uang dari zaman pemerintahan Kaisar Augustus dan kaisar-kaisar sesudahnya sampai di pedalaman India Selatan, sedangkan mata uang dari zaman sebelumnya jarang didapati.

Jalan baru yang secara sepintas kilas telah dikemukakan oleh strabo ini, baru kemudian diketengahkan dengan lebih panjang lebar lagi oleh Plinius dan dalam petunujuk pelayaran  yang berasal dari akhir abad pertama yang tidak jelas pengarangnya, yakni “periplous tes erythras thalassess”. Diceritakan mengenai pelaut Yunani Hippalos, yang pertama kali menemukan kemungkinan untuk berlayar langsung dari muara laut merah ke sungai gangga, dan malahan langsung ke pantai India Selatan, dengan menggunakan “angin Etesia”, angin barat daya didalam bulan Juni s/d September.
Dengan penuh gairah ia bertolak dari tanjung Guardafui – yang dizaman kuno disebut “Aromata”, tanjung wangi-wangian – menuju Barbaricon pada muara Sungai Indus, ke Barygaza (sekarang Broach di dekat Surat), atau lebih ke tenggara lagi mebuju ke Muziris dan Nelcynda (didekat Bangalore/Cranganore), dua buah pelabuhan di Damarica, yakni di India Selatan.
Semua pelabuhan ini terletak di pantai Barat India. Akan tetapi seperti ternyata juga dengan jelas dari keterangan periplous tadi, pada akhir abad yang pertama pelabuhan-pelabuhan di pantai Timur pun lebih dikenal oleh para pelaut dan pedagang dari kekaisaran Romawi. Namun, mereka mencapai pelabuhan-pelabuhan di pantai timur tifak berlayar mengitari ujung selatan India, melainkan degan menempuh jalan darat dari Maziris atau Nelcynda melalui jalan kafilah yang mengikuti lembah sungai Ponnani dan Cauveri serta menyusuri kebun-kebun lada dari tanah Coimbatore. Mengenai jalan darat ini terdpat petunjuk-petunjuk di dalam karya Strabo dan Plinius, maupun didalam periplous. Akan tetapi petunjuk yang paling tegas kita terima dari penggalian-penggalian dan penemuan-penemuan mata uang. Degan demikian sampailah mereka di Podouke dan Khaberis, yakni Pondichery-Arikamedu dan Tranquebar sekarang. Ketempat-tempat itu, batu-batu permata dari Sailan dan mutiara dari Colchi dibawa para pedagang untuk diperjualbelikan, demikian pula sutera dan rempah-rempah dari delta gangga dengan diangkut kapal-kapal besar yang disebut “Kolandiophonta” oleh periplous. Di seberang lain sungai gangga, demikian kata Periplous, masih terdapat sebuah pulau ditengah-tengah Samudera, bernama Pulau Emas, dan sebuah kota Thinai disuatu tempat di sebelah utara. Daerah-daerah yang terletak disebelah sananya lagi, tidaklah dapat diselidiki, karena disatu pihak hal itu dimustahilkan oleh adanya badai dan mudim dingin yang mahahebat, dan di lain pihak oleh kehendak Dewa, demikian kata Periplous. Untunglah para pelaut kuno tidak terpukul mundur oleh adanya badai dan kehendak Dewa untuk terus berlayar ke Timur, kendati setengah abad kemudian, ketika Claudius Ptolemaeus menrbitkan karyanya; Petunjuk jalan untuk pengetahuan bumi. Dunia Asia Tenggara masih merupakan dunia yang tetap diselubungi banyak rahasia, namun sudah tidak lagi merupakan “kitab” yang tertutup.
Dan ternyata Pulau Emas yang terletak di tengah-tengah Samudera itu adalah kepulauan Indonesia.