• Subscribe via RSS

Tarekat Khalwatiyah Samman

Tarekat Khalwatiyah Samman - Tarekat Khalwatiyah adalah nama sebuah aliran tarekat yang berkembang di Mesir. Pada umumnya, nama sebuah tarekat diambil dari nama sang pendiri tarekat bersangkutan, seperti Qadiriyah dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau Naqsyabandiyah dari Baha Uddin Naqsyaband. Tapi Tarekat Khalwatiyah justru diambil dari kata “khalwat”, yang artinya menyendiri untuk merenung. Diambilnya nama ini dikarenakan seringnya Syekh Muhammad Al-Khalwati, pendiri Tarekat Khalwatiyah, melakukan khalwat di tempat-tempat sepi.
Secara “nasabiyah”, Tarekat Khalwatiyah merupakan cabang dari Tarekat Az-Zahidiyah, cabang dari Al-Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah, yang didirikan oleh Syekh Syihabuddin Abi Hafs Umar as-Suhrawardi al-Baghdadi (539-632 H).
Tarekat Khalwatiyah dibawa ke Mesir oleh Musthafa al-Bakri (lengkapnya Musthafa bin Kamaluddin bin Ali al-Bakri as-Shiddiqi), seorang penyair sufi asal Damaskus, Syria. Ia mengambil tarekat tersebut dari gurunya yang bernama Syekh Abdul Latif bin Syekh Husamuddin al-Halabi. Karena pesatnya perkembangan tarekat ini di Mesir, tak heran jika Musthafa al-Bakri dianggap sebagai pemikir Khalwatiyah oleh para pengikutnya. Karena selain aktif menyebarkan ajaran Khalwatiyah ia juga banyak melahirkan karya sastra sufistik. Di antara karyanya yang paling terkenal adalah Tasliyat Al-Ahzan (Pelipur Duka).<Source: Wikipedia>.
Tarekat Khalwatiah Samman didirikan oleh Muhammad al-Samman (w. 1775) di Medinah. Pada 1825, Abdullah al-Munir membawanya ke Sulawesi Selatan, dan dikembangkan oleh putranya, Muhammad Fudail (w. 1859) di kabupaten Barru. Penyebarannya lebih lanjut dilakukan oleh Abd. Razak (w. 1902) di Kabupaten Maros, serta oleh keturunannya hingga sekarang. Kini, Khalwatiah Samman merupakan tarekat yang paling populer dan paling banyak pengikutnya di Sulawesi Selatan. Sedemikian popolernya, Khalwatiah Samman bahkan menjadi satu-satunya golongan tarekat yang memiliki perwakilan di DPRD tingkat propinsi sejak masa Orde Baru, serta beberapa pengikutnya terpilih sebagai anggota DPRD di kabupaten dan kota.

Ketika Tarekat Khalwatiah Syekh Yusuf mengalami kemunduran, antara lain disebabkan oleh kurangnya tokoh-tokohnya, Tarekat Khalwatiah Samman muncul. Sebagaimana perkembangan Khalwatiyah Syekh Yusuf, terekat Samman disambut baik oleh para bangsawan Bugis dan Makassar, serta para penguasa setempat. Selain itu, pendekatan sosial keagamaan turut dipergunakan dengan tetap mempertahankan ritus tradisional yang sebelumnya berlaku. Strategi lain penyebaran tarekat ini dilakukan melalui proses perkawinan.

Ajaran Tarekat Khalwatiah Samman dapat digeneralisasikan ke dalam tiga unsur utama, yakni bai'at, dzikir, dan wahdat al-wujud. Dalam tarekat Khalwatiah Samman, baiat merupakan unsur penting karena prosesi ini menandai seseorang masuk ke dalamnya. Prosesi pembaiatan itu disebut mattarima barakka (Bugis) atau annariama barakka (Makassar) yang secara harfiah berarti menerima berkah. Baiat ini dilakukan dengan membentangkan tangan di atas tangan seorang syekh bagi perorangan maupun kelompok, kemudian syekh membacakan surat al-Fath. Menurut Samman, seseorang yang akan memasuki dunia tarekat membutuhkan seorang syekh sebagai pembimbing, sebagaimana seorang Nabi membimbing umatnya. Melalui baiat, maka ia sudah terikat sumpah dan janji untuk mengikuti dan mengamalkan setiap ajaran tarekat Khalwatiyah Samman. Dzikir merupakan unsur penting dalam tarekat, karena tanpa ini media untuk memanggil Tuhan dan melakukan penajaman spiritual tidak tersedia. Dzikir dalam Khalwatiah Samman dilakukan dengan mengucapkan lafal-lafal yang diajarkan oleh khalifah, sehingga proses ini disebut juga dengan ratib, yang berarti pujian atau doa kepada Tuhan yang dilakukan secara berulang-ulang. Di lingkungan Samman, dzikir lebih afdhal dilakukan secara jahr (keras, biasanya dinamai dengan siikkiri tellu ratu atau dzikir yang terdiri atas tigaratus kali bacaan atau lebih), meski dapat juga dengan sirr (dalam hati) terutama untuk siikkiri seppulo (dzikir sepuluh). Dalam tarekat ini, dzikir terbagi atas bagian, yakni khalwatiyah, qadiriyah, dan afnawiyah.

Sementara konsep Wahdat al-wujud merupakan indikator keberhasilan seseorang dalam mendekati Tuhan sebagai puncak pengalaman spiritual, yakni bersatunya Tuhan dengan makhluk. Konsep wahdat al-wujud dan martabat tujuh dikembangkan oleh Khalwatiah Samman sebagai kesatuan Tuhan dengan alam melalui tiga martabat, yakni ahadiah, wahdah, dan wahidiyah. Antara lain karena ajarannya tentang wahdat al-wujud, tarekat ini mendapat tantangan yang cukup gencar dari beberapa kalangan Muslim, antara lain M. Andi Mappanyuki, seorang Raja Bone. Pada 1931, ia memprakarsai pertemuan ulama Sulawesi Selatan dengan mengundang Sayyid Abdullah bin Sadaqah Dahlan untuk menentang ajarannya. Dalam pertemuan itu, Abdullah Dahlan mengeluarkan fatwa bahwa tarekat Khalwatiah Samman sebagai batil karena berpaham wahdat al-wujud. Fatwa itu dibacakan di Mahkamah Syariah Bone, dan dihadiri oleh sejumlah ulama di Sulawesi. Meski semula Andi Mappanyuki termasuk pengikut tarekat ini, ia membuat himbauan kepada umat Islam untuk keluar.
Pengaruh fatwa itu sangat besar, terutama di kalangan raja-raja dan para ulama. Akibatnya, Khalwatiah Samman sampai saat ini belum diterima sebagai tarekat muktabar, meski oleh Ahl Tariwah al-Mu'tabarah al-Nahdhiyah tercatat sebagai tarekat muktabarah.

Dalam Tarekat Khalwatiyah dikenal adanya sebuah amalan yang disebut Al-Asma’ As-Sab’ah (tujuh nama). Yakni tujuh macam dzikir atau tujuh tingkatan jiwa yang harus dibaca oleh setiap salik. 

  • Dzikir awal adalah La ilaaha illallah (pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah). Dzikir pada tingkatan jiwa pertama ini disebut an-Naf al-Ammarah (nafsu yang menuruh pada keburukan, amarah). Jiwa ini dianggap sebagai jiwa yang paling terkotor dan selalu menyuruh pemiliknya untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat atau buruk, seperti mencuri, bezina, membunuh, dan lain-lain.
  • Kedua , Allah (Allah). Pada tingkatan jiwa kedua ini disebut an-Nafs al-Lawwamah (jiwa yang menegur). Jiwa ini dianggap sebagai jiwa yang sudah bersih dan selalu menyuruh kebaikan-kebaikan pada pemiliknya dan menegurnya jika ada keinginan untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk. 
  • Ketiga, Huwa (Dia). Dzikir pada tingkatan ketiga ini disebut an-Nafs al-Mulhamah (jiwa yang terilhami). Jiwa ini dianggap yang terbersih dan telah diilhami oleh Allah SWT, sehingga bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. 
  • Keempat, Haq (Maha Benar). Tingkatan jiwa ini disebut an-Nafs al-Muthmainnah (jiwa yang tenang). Jiwa ini selain bersih juga dianggap tenang dalam menghadapi segala problema hidup maupun guncangan jiwa lainnya. 
  • Kelima, Hay (Maha Hidup). Disebut juga dzikir an-Nafs ar-Radliyah (jiwa yang ridla). Jiwa ini semakin bersih, tenang dan ridla (rela) terhadap apa yang menimpa pemiliknya, karena semua berasal dari pemberian Allah.
  • Keenam, Qayyum (Maha Jaga). Tingkatan jiwa ini disebut juga an-Nafs Mardliyah (jiwa yang diridlai). Selain jiwa ini semakin bersih, tenang, ridla terhadap semua pemberian Allah juga mendapatkan keridlaan-Nya. 
  • Ketujuh, Qahhar (Maha Perkasa). Jiwa ini disebut juga an-Nafs al-Kamilah (jiwa yang sempurna). Dan inilah jiwa terakhir atau puncak jiwa yang paling sempurna dan akan terus mengalami kesempurnaan selama hidup dari pemiliknya.

Ketujuh tingkatan (dzikir) jiwa ini intinya didasarkan kepada ayat al-Qur’an. Tingkatan pertama didasarkan pada surat Yusuf ayat 53: “Sesunguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada keburukan”.  Tingkatan kedua dari surat al-Qiyamah ayat 2: “Dan Aku tidak bersumpah dengan jiwa yang menegur”.  Tingkatan ketiga dari surat as-Syams ayat 7 dan 8: “Demi jiwa dan Yang menyempurnakannya. Allah mengilhami jiwa tersebut kejahatan dan ketakwaannya”.  Tingkatan keempat dari surat al-Fajr ayat 27: “Wahai jiwa yang tenang”. Tingkatan kelima dan keenam dari surat al-Fajr ayat 28: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keridlaan dan diridlai.[ki]

Description: Tarekat Khalwatiyah Samman Rating: 5.0 Reviewer: Amir Al-Maruzy ItemReviewed: Tarekat Khalwatiyah Samman
Komentar Anda Adalah Sumbangsih Yang Tak Ternilai Untuk Kata Ilmu
previous previous