SEKILAS TENTANG HMI MPO

Sekilas tentang HMI MPO Himpunan mahasiswa Islam Majelis Penyelamat organisasi (HMI-MPO) adalah sebuah organisasi yang memegang amanat aturan keorganisasian HMI tulen, yakni mempertahankan azas islam sebagai azas HMI MPO, meskipun saat itu rezim Orde baru mewajibkan Semua organisasi menggunakan azas tunggal Pancasila, namun dengan tekad loyalitas keorganisasian, HMI-MPO bertahan diantara Gempuran azas Tunggal Pancasila.
HMI tidak didirikan oleh Lafran Pane yang waktu itu menduduki jabatan sebagai ketua III senat STI (Sekolah Tinggi Islam yang sekarang Universitas Islam Indonesia), juga pengurus Pusat PMY (Persatuan Mahasiswa Yogyakarta) untuk wilayah STI. Pada tanggal 5 Februari 1947, bertempat disalah satu ruang kuliah STI di Jl. Setyodiningratan, Lafran Pane bersama 20 orang mahasiswa STI mengadakan pertemuan untuk mendirikan sebuah organisasi mahasiswa Islam yang diberi nama “Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)”. Hasil pertemuan tersebut kemudia diajukan ke Rektor STI, KH. A. Kahar Muzakkir, dan mendapat sambutan yang sangat baik. Bahkan, konon KH. A. Kahar Muzakkir memberikan bantuan finansial setiap bulanya sebesar Rp. 25,- (dua puluh lima rupiah) untuk kelangsungan hidup organisasi tersebut. Pada perkembangannya, organisasi tersebut terus hidup dan berkembang luas yang tidak terbatas pada mahasiswa STI atau mahasiswa UII dikemudian hari, tetapi juga merambah ke berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia, baik negeri maupun swasta. Sekembalinya pemerintah RI keJakarta, HMI ikut dipindahkan ke Jakarta yang diketuai oleh Lukman untuk beberapa bulan, kemudian diteruskan oleh A. Dahlan Ranuwihardjo.

Pada tahun 1986, HMI menjadi dua yakni HMI DIPO (HMI Diponegoro) dan HMI MPO (HMI Majelis penyelamat Organisasi). Penyebab pecahnya Hmi waktu itu, karena arogansi Rezim Orde Baru yang menerapkan azas Tunggal pancasila kepada seleruh element bangsa ini, tak terkecuali terhadap organisasi-organisasi mahasiswa, termasuk HMI.
Atas reaksi itu, maka HMI pecah, HMI mengikuti instruksi rezim Orde baru dengan mengganti azas organisasi ini yang semula berazaskan Islam kemudian berazaskan Pancasila. Atas penggantian azas itu, beberapa anggota HMI memproklamirkan HMI tandinganyang tetap berazaskan Islam, meskipun resikonya harus berhadap-hadapan dengan Rezim Orde baru. Nah kelompok HMI yang mempertahankan azas Islam ini dikenal dengan nama HMI MPO.
Selain dengan sebutan HMI-MPO, eksponen organisasi ini lebih senang menamakan dirinya sebagai HMI 1947, mengacu pada tahun pendirian HMI .
Sejak awal kemunculannya tahun 1980-an, HMI MPO tumbuh menjadi gerakan bawah tanah yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan negara. Pada periode 90-an awal HMI MPO adalah organisasi yang rajin mengkritik kebijakan Rezim Orba dan menentang kekuasaannya dengan menggunakan sayap-sayap aksinya yang ada di sejumlah provinsi. Sayap aksi HMI-MPO yang terkenal antara lain adalah FKMIJ (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta) dan LMMY (Liga Mahasiswa Muslim Yogyakarta) di Yogyakarta.
Di Yogyakarta LMMY merupakan sebuah organisasi masa yang disegani selain PRD dan SMID. Aksi solidaritas untuk Bosnia Herzegovina di tahun 1990 yang terjadi di sejumlah kampus merupakan agenda sayap aksi HMI MPO ini. Aksi demonstrasi menentang SDSB ke Istana Negara dan DPR/MPR pada tahun 1992 adalah juga kerja politik dua organ gerakan tersebut sebagai simbol melawan rezim. Aksi penolakan terhadap rezim orde baru di Yogyakarta merupakan bukti kekuatan HMI MPO dimana aksi 2 dan 3 April 1998 yang menjadi pemicu dari gerakan selanjutnya di Jakarta. Pada peristiwa pendudukan gedung DPR/MPR tanggal 18-23 Mei 1998, HMI MPO adalah ormas satu-satunya yang menduduki gedung tersebut di hari pertama bersama FKSMJ dan FORKOT yang kemudian diikuti oleh ratusan ribu mahasiswa dari berbagai universitas dan kota hingga Soeharto jatuh pada 21 mei 1998.
Demikianlah sedikit tentang sejarah singkat Himpunan Mahasiswa Majelis penyelamat organisasi. (HMI-MPO). Semoga artikel ini bermanfaat.