MITOLOGI I LAGALIGO WARISAN LELUHUR BUGIS

Mitologi I Lagaligo Warisan Leluhur Bugis – Di Sulawesi Selatan terdapat sistem kepercayaan tradisional yang bersumber pada mitologi I Lagaligo. Kepercayaan ini tidak lenyap, meskipun semakin serius terdesak dan bertentangan oleh ajaran islam yang masuk ke wilayah ini akhir abad ke-16.

Dipandang dari ranah politik, mitologi  merupakan suatu kebutuhan yang eksistensi nilai-nilai yang berfungsi untuk mempertahankan keberkangsungan hidup suatu masyarakat. Dengan mitologi, secara sadar atau tidak, suatu otoritas akan diamuni oleh para penganutnya. Oleh karena itu setiap pembentukan kekuasaan baru dalam masyarakat tradisionil biasa diikuti dengan mitologisasi kekuasaan itu membenarkan eksistensinya dimata kelompok atau lingkungan pengikutnya. Mitos mengukuhkan kedudukan penguasa dalam masyarakatnya.
Mitologi I Lagaligo semula milik kerajaan luwu yang terletak di utara teluk Bone, kemudian menjadi milik seluruh komunitas Bugis; bahkan meluas pada beberapa suku yang berbahasa sendiri, seperti suku Toraja, Enrekang, Mandar, Wolio (Sulawesi Tenggara), Kaili (Sulawesi Tengah) dan Gorontalo.
Meskipun dalam aneka ceritalepas yang masing-masing tidak memiliki hubungan. Di Luwu cerita I Lagaligo lebih merupakan hasil ciftaan orang-orang setempat, meskipun demikian, memiliki fungsi yang sama, yaitu menjadi sumber berbagai tradisi dantata cara adat, bahkan menjadi sastra keramat yang mengisahkan hal ikhwal nenek moyang pemilik cerita mereka hormati. Sebagai sastra yang keramat. Di Sidenreng pada pertengahan abad 9, syair-syair  I Lagaligo dibacakan untuk menghormati orang sakit.
Cerita I Lagaligo dimulai dengan permufakatan para Dewa di Kayangan untuk mengisi kehidupan dunia tengah (Bumi), dengan mengawinkan Batara Guru yaitu anak dari Datu PaotoE (Sang Pencifta) dengan We Nyilitimo yaitu anak dari Ri Selleng di dunia Bawah. Dari perkawinan ini lahirlah Batara Lattu yang dikawinkan dengan We Datu Senngeng, anak La Urumpessi. Perkawinan yang kedua melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan yaitu Sawerigading dan Tenriabeng. Dengan melalui petualangan yang berliku akhirnya Sawerigading berhasil mempersunting I We Cudai dari negeri Cina.
Dari perkawinan yang terakhir ini lahirlah I lagaligo. Selanjutnya We Tenriabeng mempunyai anak yaitu Salinrunglangi yang kelak kawin dengan putri Sawerigading yang benama Mutiotoja. Batara Guru, Batara Lattu, dan Salinrunglangi adalah raja dunia tengah (Bumi) yang berkedudukan di Luwu.
Datu PatotoE yang merupakan sang pencifta mempnyai peran yang sangat sentral, ia memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk menghubungkan kayangan, bumi dan dunia bawah. Transfer dari masing-masing dunia hanya terjadi atas kehendaknya, dan ditandai dengan kejadian alam seperti petir bersahut-sahutan, daratan dan lautan berguncang dengan hebat serta keadaan gelap gulita.
Keadaan menjadi normal kembali ketika perpindahan itu mencapai kesempurnaan. Hal ini terjadi misalnya ketika Salinrunglangi dipindahkan dari kayangan ke bumi yaitu di kerajaan Luwu. Salinrunglangi kemudian disebut dengan To manurung (orang yang turun dari kayangan) yang berwenang memerintah seluruh bumi dan isinya.
Pada akhir cerita Datu patotoE berpesan lewat utusannya supaya diusahakan orang-orang yang berdarah murni saling kawin-mawin. Raja di Luwu dipilih diantara bangsawan, yaitu yang paling tinggi derajat kebangswanannya. Menjelang pintu masuk kayangan akan ditutup dan dunia bawah akan dipalang, Datu PatotoE berjanji bahwa sejak saat itu dan seterusnya manurung-manurung berdarah putih dari waktu ke waktu dengan diam-diam dan secara rahasia akan dikirim ke Bumi, tempat kediaman manusia. Sudah adakah tanda-tanda Utusan dari Datu patotoE dikirim ke bumi saat ini???????