SEJARAH DALAM KOTAK HITAM

SEJARAH DALAM KOTAK HITAM - Dalam sebuah kotak hitam bisa tersembunyi sejarah yang penuh darah. Inilah yang menarik perupa asal Malaysia, Nadiah Bamadhaj, untuk menelusuri jalan-jalan di berbagai kota di Indonesia yang rata-rata menggunakan nama-nama para jenderal korban peristiwa berdarah tahun 1965 silam.

Pameran Instalasi Multimedia berjudul "Enamlima Sekarang" Nadiah digelar 25 Mei sampai 6 Juni 2004 di Galeri Lontar, Jakarta. Nadiah memulai kerja proyek instalasi ini dengan membuka-buka lembar buku sejarah. Terbukti dalam setiap karyanya, ia memasang satu foto dokumentasi seputar peristiwa tahun 1965 disertai dengan keterangan gambar. Di balik dokumen itu, Nadiah membuat film pendek yang merekam berbagai kejadian aktual dan sedapat mungkin berkaitan tidak langsung dengan akibat peristiwa 1965 itu.
Pameran instalasi ini berwujud delapan kotak hitam yang dipasang vertikal menyerupai konstruksi sebuah gedung. Pada bagian kepalanya, terpampang foto-foto dokumentasi sekitar peristiwa 30 September 1965. Foto-foto itu seperti menjadi pintu untuk mengetahui berbagai insiden di dalamnya. Sebuah layar kaca kemudian terus-menerus menayangkan film-film pendek yang dibuat khusus Nadiah untuk mendukung keutuhan penampakan peristiwa 1965 tadi.

Di bawah kotak hitam tadi, di lantai terbentang jalan-jalan yang menggunakan nama-nama jenderal korban peristiwa 30 September 1965. Di antaranya dituliskan nama-nama seperti Jalan Jend Achman Yani, Jalan Letjend MT Haryono, Jalan Letjend S Parman, Jalan Letjend Suprapto, Jalan Mayjend Sutoyo, dan Jalan Mayjend DI Panjaitan.

Di bawah gambar transparan (seperti neon boks) dokumentasi tentang penangkapan orang-orang yang dicurigai terlibat Gerakan 30 September/PKI di wilayah Jakarta Raya, Nadiah menyelipkan film pendek berjudul Takdir. Film ini hanya menampilkan seorang tua, yang kira-kira waktu peristiwa 1965 masih sangat muda, sedang makan nasi dengan lauk "hanya" tempe di sebuah warung tegal di Jalan Panjaitan, Yogyakarta.

Dalam formasi lain, di balik dokumen aksi menginjak-injak tulisan PKI di Klaten, Jawa Tengah, di mana yang tampak hanya bagian bawah tubuh yang mengenakan kain batik, Nadiah membuat film pendek tentang aktivitas foto bersama sebuah keluarga. Tetapi, ketika lampu kilat kamera menyambar, tiba-tiba seluruh kepala keluarga itu ditutup kain seperti pesakitan yang siap dieksekusi.

Formasi-formasi lain diulang Nadiah dalam nada yang kira-kira sama. Dengan cara ini, perupa kelahiran Petaling Jaya, Selangor, Malaysia, berhasrat mengaitkan situasi kontemporer dengan kenyataan sejarah melalui realitas virtual. Dalam kaitan itu kemudian bisa terjadi berbagai varian situasi. Suatu ketika apa yang ditampilkan dokumen berbanding lurus dengan realitas virtual, sebagaimana terjadi pada aksi menginjak-injak tulisan PKI itu dengan aktivitas foto bersama sebuah keluarga. Aktivitas foto bersama sudah jelas berkaitan langsung dengan foto dokumen dan bahkan aksi injak itu pun berkaitan langsung dengan penutupan kepala seluruh anggota keluarga itu.

Situasi ini memang bisa menimbulkan beragam tafsir. Bisa saja penutupan kepala itu sebagai gambaran betapa kepala kita begitu mudah menggelinding saat-saat peristiwa berdarah tahun 1965 itu terjadi. Tudingan terlibat PKI sudah cukup mengantarkan kita ke ruang esksekusi. Bisa pula ini ditafsir sebagai simbolisasi dari kehilangan muka sebuah keluarga (bangsa), ketika banjir darah ini menyebar ke pelosok negeri.

Pada saat berbeda, gayutan antara dokumen dan realitas virtual itu hadir sebagai dua peristiwa terpisah. Nadiah menjadikan nama jalan tadi sebagai benang merah, yang kemudian diharapkan memberi makna tunggal. Peristiwa seorang tua sedang makan nasi plus tempe di Jalan Panjaitan Yogyakarta hadir sebagai "monumen" terhadap berbagai penangkapan mereka yang dituduh PKI antara tahun 1965-1966. Dan, bukan tidak mungkin situasi ini menggambarkan kesulitan yang dialami anggota keluarga dari mereka yang dituduh PKI di zaman Orde Baru.

PAMERAN "Enamlima Sekarang" ini sesungguhnya usaha Nadiah Bamadhaj untuk membaca sejarah dari dua arah. Pertama, ia menulusurinya lewat dokumen-dokumen, seperti foto yang dianggap mewakili narasi seputar peristiwa 1965. Nadiah mengambil dokumen-dokumen foto yang dia anggap mewakili kepentingannya untuk melukis lebih utuh tentang asal-usul dan akibat peristiwa tadi.

Kedua, penelusuran sejarah itu dilakukan dengan cara benar-benar menelusuri jalan-jalan yang memakai nama-nama para jenderal korban dari peristiwa berdarah tahun 1965 itu. Penelusuran ini pada awalnya memang memberi kesan pemihakan terhadap rezim yang "merekayasa" sejarah ketimbang bersikap independen. Tetapi ketika kemudian dalam film-film pendek, Nadiah menampilkan berbagai situasi kehidupan marginal, ia bahkan menemukan makna terdalam dari pembeberan sejarah.

Pertanyaannya kemudian, apa hasil dari model pembacaan sejarah seperti ini? Apakah akan menghasilkan pemaknaan baru terhadap sejarah itu sendiri atau hanya upaya aktualisasi dari peristiwa-peristiwa keji yang terjadi di masa silam?

Sudah pasti Nadiah tidak ingin ikut menjadi beku ketika ia mulai mengorek-ngorek peristiwa masa silam. Upayanya menelusuri jalan-jalan dengan nama para jenderal itu boleh dianggap sebagai bagian dari tekniknya merentangkan masa silam sampai ke kaki-kaki lima kehidupan kontemporer. Karena, hanya dengan begitulah sejarah terbebas dari gerusan waktu. Ia akan tetap hadir tidak sebatas kenang-kenangan perih, tetapi tetap hidup di dunia "virtual" (seperti tampak di layar kaca) manusia sebagai peristiwa yang menyejarah. Bahwa peristiwa 1965 bukan hanya pantas dikenang, tetapi ia telah menggores begitu dalam di hati setiap manusia Indonesia sampai sekarang.
(Source: http://dev.progind.net/)