KISAH MENGHARUKAN PEMUNGUT BOTOL SUPORTER

Kisah Mengharukan Pemungut Botol Suporter - inilah kisah hidup pemungut botol suporter atau pemulung di sekitar gelora Bung karno, mari kita simak kisah hidupnya yang mengharukan, agar nantinya kita bisa memetik hikmah dari kisah mengharukan ini, dan membuat kita tambah bersyukur kepada sang Pencifta atas segala nikmat yang diberikannya kepada kita selama ini yang biasa mengeluh dan tidak pandai bersyukur. berikut kisah pemulung atau pemungut botol suporter  ini, yang dikutip dari harian nasional Kompas:



Putaran kedua laga Semifinal Piala AFF 2010 antara Indonesia lawan Filipina di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, telah dimenangkan oleh Indonesia. Rasa puas dan bangga terlontar dari mulut Alfred Riedl seusai pertandingan. Decak kagum atas permainan Indonesia yang agresif terlontar dari mulut para suporter yang beranjak pulang.
Namun, hari belum berakhir bagi Yadi (35), pria asal Bandarejo, Semarang, Jawa Tengah. Bagi dia berakhirnya pertandingan adalah tanda baginya untuk memulai pekerjaan mengumpulkan botol dan gelas minuman bekas yang bersebaran di bawah bangku penonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno
Mengumpulkan botol dan gelas bekas adalah pekerjaan Yadi sehari-hari selama ada di Jakarta. Dari hasil menjual botol bekas inilah dia mampu membiayai istri dan ketiga anaknya yang ada di Semarang.
"Alhamdullilah, kalo ada pertandingan besar kayak gini bisa dapat Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu," kata Yadi.
Yadi sudah berada di SUGBK sejak pagi, sedikit demi sedikit dia mengumpulkan botol dan gelas plastik bekas yang dibuang oleh suporter, waktu yang paling dinantikannya adalah saat pertandingan telah selesai, karena akan ada ribuan botol dan gelas bekas yang bisa dia dapatkan di dalam stadion. Botol bekas tersebut akan dia taruh dalam satu karung besar yang menurutnya bisa mencapai berat 50 kilogram.
"Kalo sudah penuh karung-karungnya, saya baru pulang. Nanti di bawah saya taruh dalam satu karung besar, baru saya pikul ke Stasiun Palmerah. Besok pagi saya naik kereta ke Tanah Abang lalu lanjut ke Stasiun Manggarai," kata Yadi menjelaskan ritme kerjanya.
Sudah tiga tahun Yadi mengadu nasib di Jakarta. Karena tidak bisa membayar sewa tempat tinggal, Yadi memilih untuk tidur di peron Stasiun Kereta Api Manggarai. Sedikit demi sedikit dia mengumpulkan uang untuk dibawa pulang kampung.
"Pulang kampung itu bisa sebulan sekali, tapi kalo uangnya lagi gak ada, bisa 2 hingga 3 bulan sekali. Ya namanya orang perantauan dan gak punya," tutur Yadi.
Sejak babak penyisihan Piala AFF 2010 hingga sekarang, Yadi mampu mengumpulkan uang sebanyak Rp 600 ribu yang sudah dia sisihkan untuk biaya sekolah anak-anaknya.
"Saya punya anak tiga, yang paling tua cewek dan sebentar lagi nikah, dua lagi cowok, masih SD dan TK," kata Yadi yang juga memuji penampilan Indonesia pada pertandingan putaran kedua semifinal melawan Filipina.
Hawa dingin malam menusuk tulang, lampu Stadion Utama Gelora Bung Karno satu persatu dimatikan. Namun seakan-akan kurang, Yadi masih menyempatkan mengisi dua plastik besar dengan botol-botol bekas sebelum turun dan kembali pulang. "Malam ini saya tidur di Stasiun Palmerah dulu," kata Yadi sambil lalu mencari beberapa botol lagi.(Kompas.com)