DIPONEGORO PAHLAWAN INDONESIA


Paham keindonesian membuat Pangeran Diponegoro yang asal Jawa, boleh disebut Pahlawan Sulawesi Selatan, karena makamnya juga berada di Makassar, seperti Dr. Eduard Lambertus Polinggomang, yang asal Alor, boleh menjadi Ketua Jurusan Ilmu Sejarah pada Universitas Hasanuddin.

Otonomi Daerah, Tetap Indonesia
Bayangkan, apabila orang bertahan pada pemikiran Otonomi Daerah, yang diartikan daerah untuk orang daerah, maka akan lebih semrawut Indonesia di masa sekarang ini.

Pembuangan Diponegoro
Dr. Polinggomang yang memperoleh gelar doktornya di bidang sejarah ekonomi dari Universitas Bebas (Vrije Universiteit) di Amsterdam, sama seperti Prof. Dr. Darmawan R. Masoed, berpegang pada bukti-bukti tertulis yang dibuat Belanda soal Pangeran Diponegoro.  Biografi lengkap Pangeran Diponegoro telah disusun oleh sarjana Inggris, Dr. Peter Carey. Sesudah berunding dengan tipu daya Belanda, Pangeran Diponegoro ditangkap, lalu diasingkan ke Makassar, Manado lalu kembali lagi ke Makassar.

Pangeran Diponegoro Pahlawan
Makammnya satu komplek dengan isteri dan anak-anaknya dan juga beberapa pengawalnya di Jl. Diponegoro Makassar. Mengapa ia disebut pahlawan, Dr. Polinggomang yang S1-nya untuk Sejarah Politik dan akhirnya memilih sejarah ekonomi, mengatakan ketentuan ini mengacu pada selama hidupnya Pangeran Diponegoro tetap melawan Belanda dan bahkan sampai matinya.

Mesianisme dan Mistisisme
Mengapa terjadi klaim bahwa Diponegoro tidak ditangkap, Dr. Polinggomang mengatakan bahwa mistisisme dan mesianisme terjadi di mana-mana,baik di Jawa maupun di Sulawesi Selatan.  "Tokoh seperti Diponegoro, diyakini tidak bisa ditangkap dan tidak bisa dibunuh. sama seperti orang Sulawesi menganggap meskipun Kahar Muzakar sudah mati, mereka mengatakan masih hidup di Singapura dan baru saja meninggal di negeri itu.

Sulawesi Onrust Eiland
Di masa sebelum Diponegoro berontak terhadap Belanda, di Sulawesi Selatan sudah ada pemberontakan yaitu Kerajaan Bone melawan Belanda.  Sebelumnya Bone adalah sekutu Belanda. Pada waktu itu, karena ulah Belanda sendiri, terjadi beberapa pemberontakan. Perang Padri di Sumatera Barat. Dn Sulawesi Selatan sendiri dikenal sebagai onrust eiland, pulau yang selalu ribut.

Belanda menikmati kerja sama yang baik di Sulawesi Selatan dengan Selayar. Tetapi tidak dengan Soppeng.

Terbuka dan Global
Polinggomang menilai bahwa masyarakat Sulawesi Selatan adalah masyarakat terbuka, menerima orang lain.  Itulah sebabnya hubungan dengan raja-raja di Jawa pun baik.  Sejak terjadinya perang Makassar, maka hubungan ke Jawa kurang baik. Mengenai hubungan baik ini disebabkan adanya pesan, apabila berlayar dan ketemu dengan raja setempat, mintalah ijin untuk berdagang.  Kalau terjalin persahabatan, berilah hadiah.  Ada semacam perjanjian tak tertulis, apabila nakhoda memberikan hadiah kepada penguasa setempat dan tidak diberitahukan kepada awak kapal, tidak menjadi tanggungan bersama.  Apabila diberitahukan menjadi tanggungan bersama.  √Źnilah yang membuktikan bahwa hukum laut di Sulawesi Selatan sudah lebih tua dibandingkan dengan kawasan lain," tutur Polinggomang.  Hubungan baik ini juga olehnya disebut sebagai global dan tak ada batas (border).

Bahasa Melayu Lingua Franca
Yang sangat menguntungkan para pelaut Sulawesi Selatan kala itu adalah penggunaaan bahasa Melayu sebagai lingua franca ditambah kemungkinan penggunan bahasa tubuh, sehingga tidak ada hambatan di dalam pergaulan "internasional."

Perjalan Seorang Tapol
Ketika Diponegoro ditangkap, ia dan anak buah serta keluarganya, pertama kali dibawa ke Makassar.  Seharusnya ke Maluku, tetapi kala itu persinggahan di Sulawesi Tengah sudah ada, yaitu Kahili (Donggala), yang pelayarannya selalu menanti angin muson tenggara, sekitar Juni.  Barulah dibawa ke Sulawesi Utara.  tetapi sebagian anak buah Diponegoro, terutama Kyai Mojo dan Sentot pertama dibawa ke Maluku barulah ke Sulawsesi Utara.  Itulah sebabnya keturunan Kyai Mojo dan Sentot ada di kawasan itu.

Orang Borgo
Manado oleh Belanda dianggap sebagai dapat dipercaya, sehingga Diponegoro diasingkan ke sana.  Bagi Belanda, orang-orang Manado yang disebut cerebre (kulit putih), orang borgo, keturunan Portugis dan Spanyol, tidak ada masalah dalam soal agama, karena masih sedikit yang beragama Islam.

Rivalitas Akibat Monopoli
Di Makassar, Diponegoro dipenjara di Fort Rotterdam, yang merupakan pusat kekuasaan VOC.  Pusat perdagangan dibangun oleh Admiral Cornelis Speelman diberi nama Vlaardingen. Dalam perdagangan orang Belanda yang ingin memonopoli harus bersaing keras dengan sesama bangsa Eropa, antara lain Portugis, Spanyol dan Denmark serta Inggris.  Musuh lainnya yaitu orang-orang Cina.  Cina sendiri baru membuka diri sesudah Perang Boxer awal abad 20.

Tapol yang Dibiayai
Biarpun diasingkan, Diponegoro mendapat dana tahanan politik untuk membiayai diri dan keluarganya, tetapi tidak untuk para pengawalnya.  Itulah sebabnya barangkali, yang membuat keturunan Diponegoro juga hidup susah, tidak ada yang bersekolah tinggi, walaupun di antara mereka ada yang menikah dengan tokoh-tokoh agama.***