TENGGER

Gunung Semeru adalah salah satu gunung yang terletak di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung Semeru dikenal sebagai gunung yang tertinggi di Jawa (3.676 dpl ). Gunung ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan.

 Sebagai salah satu gunung yang terletak di kompleks Pegunungan Tengger, Gunung Semeru memiliki historisitasnya sendiri. Hampir sebagian masyarakat Semeru berasal dari suku Tengger. Asal usul Suku Tengger sendiri terkait oleh cerita masyarakat sekitar yang menceritakan kisah Roro Anteng dan Joko Seger. Kisah antara Roro Anteng dan Joko Seger inilah yang pada akhirnya melatarbelakangi perayaan Yadnya Kasada. Upacara yang dilakukan oleh masyarakat Tengger ini dilakukan pada setiap bulan Kasada pada hari ke-14.
 Menurut ceritera, asal mula upacara Kasada terjadi beberapa abad yang lalu. Pada masa pemerintahan Dinasti Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Sang permaisuri dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Roro Anteng, setelah menjelang dewasa sang putri mendapat pasangan seorang pemuda dari kasta Brahma bernama Joko Seger.
Pada saat Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran dan bersamaan mulai menyebarnya agama Islam di Jawa, beberapa punggawa kerajaan dan beberapa kerabatnya memutuskan untuk pindah ke wilayah timur, dan sebagian menuju di kawasan Pegunungan Tengger termasuk pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger.
Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya "Penguasa Tengger Yang Budiman".
Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau pengenalan moral tinggi, simbol perdamaian abadi. Dari waktu ke waktu masyarakat Tengger hidup makmur dan damai, namun sang penguasa tidaklah merasa bahagia, karena setelah beberapa lama pasangan Rara Anteng dan Jaka Tengger berumahtangga belum juga dikaruniai keturunan.
 Kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai keturunan.
Tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo, Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya.
Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api. Kesuma anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib :"Saudara-saudaraku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Hyang Widi. Aku ingatkan agar kalian setiap bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Hyang Widi di kawah Gunung Bromo.
Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.
Selain pesona historisnya, Gunung Semeru dan gunung lainnya yang berada dalam kompleks Taman Nasional mempunyai pesona kemasyarakatannya yang khas. Suasana yang khas pedesaan tradisional masih mewarnai kehidupan masyarakat kaki gunung Semeru.
Di desa Ranu Pani, yang merupakan desa terdekat dengan Puncak Mahameru, kehidupan masyarakat sangat tergantung oleh kehidupan berladang. Hasil ladang yang banyak dihasilkan antara lain bawang frey, kentang, kubis, dan sayur-sayuran. Kondisi alam yang mendukung membuat hasil ladang yang dihasilkan di Ranu Pani memiliki kesegaran dan mutu yang cukup baik.
Kehidupan masyarakat yang bergantung pada ladang itulah yang membuat hampir sebagian besar masyarakat Ranu Pani berusaha menjaga hubungannya dengan alam. Kontur ladang yang berada di bukit miring membuat mereka harus selalu berhati-hati dalam mengerjakan tugasnya. Memang kehidupan berladang sangat kental dan berperan penting bagi mereka.
Sebagai sebuah daerah yang bersuhu dingin, peran kayu menjadi sangat penting bagi masyarakat Ranu Pani. Saking pentingnya peran kayu tersebut, ada kepercayaan di masyarakat Ranu Pani yang mensakralkan peran penting kayu. Masyarakat Ranu Pani mempunyai aturan yang melarang seseorang untuk melangkahi tungku dan kayu yang sedang terbakar. Mereka percaya bila seseorang melangkahi tungku dan kayu yang digunakan untuk memasak, maka makanan yang dimasak tersebut akan berubah menjadi racun dan dapat menyebabkan terjadinya kematian salah satu anggota keluarga.
Peran penting kayu bagi masyarakat Ranu Pani juga mempengaruhi peran sosial masing-masing individu di masyarakat Ranu Pani. Siapapun laki-laki yang sudah mampu mencari kayu bagi keluarganya dianggap telah menjadi pribadi yang sudah dewasa dan harus mengemban kewajiban untuk ikut serta dalam berladang. Selain itu peran kayu juga berpengaruh kepada hubungan perkawinan yang terjadi di masyarakat Ranu Pani. Seseorang laki-laki yang melamar seorang gadis, haruslah membawa kayu bakar sebagai syarat untuk menikah.
Penghormatan akan kayu seperti yang dilakukan oleh masyarakat Ranu Pani mungkin akan sulit dimengerti oleh orang luar. Hanya saja memang begitulah kearifan lokal yang ada di masyarakat Ranu Pani.
Selain kearifan dan kepercayaannya, masyarakat Ranu Pani ternyata juga masih memperhatikan masalah pendidikan. Meskipun pendidikan formal hanya menyentuh tingkat SLTP, ada beberapa orang yang peduli dengan masalah pendidikan di Ranu Pani. Di desa Ranu Pani, ada beberapa yayasan mencoba memberikan pendidikan bagi masyarakat Ranu Pani. Meskipun terhambat oleh masalah sedikitnya sumber daya manusia, pendidikan di Ranu Pani masih dapat berjalan.
Sebagai sebuah desa yang berada di kaki gunung dan jauh dari peradaban kota, memang Ranu Pani masih menjaga dan menghidupi kearifan lokalnya. Jauhnya jarak dari kota dan modernitas membuat kehidupan masyarakat selalu teratur dan tidak banyak berubah. Segala kepercayaan dan aturan-aturan terus dipegang dengan baik agar pada nantinya masyarakat Ranu Pani dapat bersahabat dengan gunung Semeru yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Memang semua kepercayaan, kehidupan dan kearifan lokal yang ada di desa Ranu Pani ini dapat menjadi sebuah kekayaan tersendiri bagi sebuah gunung yang bernama Semeru. Kini tidak hanya keindahan alam saja yang menjadi pesona bagi Gunung Semeru. Namun pesona kemasyarakatan dan kearifan lokal masyarakat yang tinggal pun mampu menambah kekayaan dan keindahan gunung Semeru yang telah lama dikenal orang sebagai gunung tempat tinggal para dewa.