SILARIANG

Silariang atau kawin lari memang tidak hanya terjadi di kalangan suku Makassar-Bugis, tapi terjadi hampir diseluruh suku-suku di Indonesia. Namun peristiwa silariang bagi kalangan suku Makassar-Bugis, sangat “Istimewa”(ingat  istimewa dalam tanda kutip). Karena barangsiapa yang melakukan kawin lari ini, baik laki-laki maupun perempuan, halal darahnya (patut dibunuh) oleh Tumasiri mereka (keluarga dari pihak perempuan yang silariang). Menarik memang untuk dikaji maslah ini, betapa tidak. Dari dulu sampai sekarang kasus silariang ini tetap saja terjadi (meskipun sekarang ini intensitas kasus silariang sudah menurun).
Di Sulawesi Selatan khususnya kawin lari ini dibagi empat, antara lain:
Silariang
Silariang adalah adanya kesepakatan antara sil aki-laki dan si perempuan untuk lari bersama kesuatu tempat yang tidak ditemukan oleh keluarga si perempuan (tumasiri).
Nilariang
Nilariang trjadi apabila kawin lari ini hanya atas kehendak laki-laki saja, sedangkan pihak perempuan tidak menghendakinya. Peristiwa nilariang ini terjadi biasanya karena cinta si laki-laki ditolak oleh si perempuan. Dan silaki-laki terlanjur cinta, maka diusahakanlah untuk menculik si perempuan atau nilariang.
Erangkale
Erangkale adalah kebalikan dari nilariang, dalam artian si perempuan saja yang mau, sedangkan pihak laki-laki sebenarnya tidak mau. Lantas siperempuan menculik laki-laki???? Yach..tidaklah..he he he. Cara erangkale ini adalah si perempuan datang ke rumah penghulu/imam dan mengaku sudah digauli oleh silaki=laki yang dia sukai, nah setelah itu si laki-laki dengan terpaksa menikahi si perempuan ini.
Annyala kalotoro
Annyala kaloto ini yang aneh, si perempuan datang kerumahnya penghulu, karena sudah berbadan dua, dan si perempuan tidak dapat menunjuk satupun laki-laki yang menghamilinya (mungkin ini bagi perempuan yang suka salome). Nah setelah dirumahnya penghulu.. maka penghulu mencarikan laki-laki yang mau menikahi si perempuan yang annyala kalotoro tersebut. Kalau tidak ada laki-laki yang mau menikahi perempuan tersebut, maka terpaksa penghulu-lah yang menikahinya sampai anaknya lahir. (aneh yach gan….)
Salimara’
Salimara' dapat diartikansebagai adanya suatu hubungan terlarang antar laki-laki dan perempuan karena hubungan sedarah, misalnya antara saudara, antara orang tua dan hubungan sedarah terdekat lainnya. Salimara’ dalam bahasa kerennya disebut incest. Nah pelaku salimara ini pada zaman dulu hukumannya adalah mereka ditenggelamkan ke laut dengan cara niladung (dimasukkan dalam karung, kemudian ditaruh pemberat terus ditenggelamkan sampai koit).

Sebelum mereka abbaji, orang yang melaksanakan silariang, nilariang, erangkale dan annyala kalotoro dapat di bunuh oleh tumasiri mereka.
Dari kelima jenis kawin lari diatas, maka empat diataranya bisa diselesaikan dengan cara abbaji (baikan) kepada keluarga keluarga mereka. Hanya satu yang tidak bisa diselesaikan,yakni salimara’. Mungkin leluhur-lelehur kita sudah benar dengan hukuman mereka dengan menenggelamkan mereka kelaut sampai mati(niladung).***
Salam,