PENDUDUK SULAWESI SELATAN BERJUMLAH 8 JUTA LEBIH


Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel melansir hasil sementara Sensus Penduduk (SP) Sulsel 2010, Selasa (2/11). Hasil SP 2010 itu dibeberkan dalam seminar statistik di Hotel Sahid Jaya, Makassar, yang dibuka Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang.

Kepala BPS Sulsel Bambang Suprijanto menjelaskan, berdasarkan SP yang berlangsung sejak Juli, jumlah penduduk Sulsel mencapai 8.032.551 orang dengan laju pertumbuhan 1,17 persen per tahun atau lebih rendah dari pertumbuhan nasional 1,49 persen. Jumlah ini terdiri atas  3.921.543 laki-laki dan 4.111.008 perempuan.
Dengan 1.848.132 jumlah rumah tangga dan rata-rata penduduk per rumah tangga yakni 4,34 orang atau lebih tinggi dari rata- rata nasional 3,86 orang. Dari jumlah penduduk Sulsel sebanyak 13.238 penduduk tercatat tidak memiliki tempat tinggal tetap atau berprofesi sebagai awak kapal.
"Volume dokumen sensus penduduk hasil pelaksanaan lapangan mencapai dua kontainer meliputi dua juta dokumen rumah tangga dan 8,2 juta dokumen anggota rumah tangga," jelas Bambang. SP di Sulsel ditargetkan sudah rampung November ini. BPS menerjunkan sekitar 22 ribu petugas sensus ditambah 250 petugas pengolah dan manajemen.
Sex ratio penduduk Sulsel sebesar 95,26 persen yang berarti perempuan mendominasi. Sedangkan untuk nasional laki-laki lebih banyak dari perempuan dengan sex ratio 101,21. Sex ratio terendah berada di Soppeng sebesar 88,98 dan tertinggi di Lutim sebesar 106,14,
Data BPS menyebutkan kepadatan penduduk di Sulsel sebesar 175 orang per kilometer (km) atau dikategorikan masih cukup rendah. Lutra dan Lutim menjadi daerah dengan kepadatan penduduk terendah di bawaj 40 orang per km sedangkan Makassar menjadi daerah dengan kepadatan tertinggi mencapai 7.590 orang per km disusul Parepare sebesar 1.299 per km.
Sedangkan menurut tempat kelahirannya, 4,50 persen penduduk lahir di luar Sulsel. Dengan presentase tertinggi penduduk yang lahir di luar tempat tinggalnya saat ini di Lutim, Lutra, Makassar, Parepare, dan Palopo.
Sedangkan daerah dengan tingkat migrasi masuk tertinggi berada di Makassar, Parepare, dan Palopo.

Guru Besar Unhas Prof Tahir Kasnawi menilai, hasil sensus penduduk (SP) sementara secara nasional mencapai 237,56 juta jauh melebihi proyeksi yang ada.

Dengan angka kemiskinan 13,3 persen dan angka pengangguran masih mencapai 9,8 persen. Sejauh ini, program pengendalian penduduk justru menurun pascareformasi.
Kondisi kependudukan nasional menunjukkan laju pertumbuhan meningkat, kinerja KB melemah periode 2000-2010, penurunan angka kemiskinan tidak signifikan karena terjadi regenerasi kemiskinan, lambatnya angka pengangguran. 
Kondisi tersebut dinilai menyebabkan penyediaan kebutuhan dan pelayanan dasar terhambat. Sedangkan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu`mang saat membuka seminar statistik di Hotel Sahid Jaya, Makassar, kemarin, menyampaikan harapan agar ke depan sensus penduduk di Sulsel tak hanya menghitung jumlah dan pertumbuhan penduduk tetapi bisa sekaligus menyentuh presentase indeks prestasi manusia (IPM) Sulsel. Ia berharap pelaksanaan sensus bisa mendapatkan kondisi riil data kependudukan di Sulsel.***