Kronologi Peristiwa Tanjung Priok Versi Resmi Pemerintah Orde Baru

Versi resmi peristiwa Tanjung Priok dikeluarkan sekitar sepuluh jam setelah peristiwa ini terjadi. Keterangan resmi pemerintah Orde Baru dikemukakan oleh Pangab/Pangkopkamtib L.B. Moerdani didampingi oleh Menteri Penerangan Harmoko, Pangdam V/Jaya Try Soetrisno, dan Kapolda Metro Jaya Drs. Soedjoko. Keterangan resmi peristiwa Tanjung priok diterima publik diuraikan oleh Pangab sebagai berikut.

Di sekitar Masjid Rawabadak terpasang pamflet dan poster yang menghasut bersifat SARA. Karena imbauan petugas agar pamflet-pamflet dan poster-poster itu dihapus atau dicabut tidak dihiraukan, seorang petugas, pada hari jumat tanggal 7 September 1984, menutup tulisan-tulisan yang bersifat menghasut itu dengan warna hitam.

Pada hari senin, 10 September 1984, seorang petugas yang sedang menjalankan tugasnya di daerah Koja, dihadang dan kemudian dikeroyok oleh sekelompok orang. Petugas keamanan berhasil menyelamatkan diri, tetapi sepeda motornya dibakar oleh para penghadang. Aparat keamanan pun menangkap empat orang pelakunya untuk keperluan pengusutan dan penuntutan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Pada hari Rabu, 12 September 1984, pukul 19.30 WIB, di Masjid Rawabadak berlangsung ceramah agama tanpa izin dan bersifat menghasut. Penceramahnya antara lain Amir Biki (tewas tertembak), Syarifin Maloko (tertangkap setelah semua sidang perkara Tanjung Priok selesai), M. Nasir (bukan M. Natsir mantan Perdana Menteri dan ketua DDII), tidak pernah diketahui keberadaannya setelah peristiwa malam itu. Pukul 22.00 WIB aparat keamanan menerima telepon dari Amir Biki yang berisi ancaman pembunuhan dan perusakan apabila keempat tahanan tidak dibebaskan. Sekitar pukul 23.00 WIB ancaman telepon diulang lagi.

Setelah itu, sekitar 1.500 orang menuju Polres dan Kodim. Lima belas orang petugas keamanan menghambat kerumunan atau gerakan massa tersebut. Regu keamanan berusaha membubarkan massa dengan secara persuasif, namun dijawab dengan teriakan-teriakan yang membangkitkan emosi dan keberingasan massa. Massa terus maju mendesak satuan keamanan sambil mengayun-ayunkan dan mengacung-acungkan celurit.

Dalam jarak yang sudah membahayakan, regu keamanan mulai memberikan tembakan peringatan dan tidak dihiraukan. Tembakan diarahkan ke tanah dan kaki penyerang, korban pun tidak dapat dihindari. Setelah datang pasukan keamanan lainnya, barulah massa mundur, tetapi mereka membakar mobil, merusak beberapa rumah, dan apotek.

Sekitar tiga puluh menit kemudian gerombolan menyerang kembali petugas keamanan, sehingga petugas keamanan dalam kondisi kritis dan terpaksa melakukan penembakan-penembakan untuk mencegah usaha perusuh merebut senjata dan serangan-serangan dengan celurit dan senjata tajam lainnya.

Hari Kamis, 13 September 1984, pukul 00.00 WIB, pasukan keamanan Laksusda (Pelaksana Khusus Daerah) Jaya berhasil mengendalikan situasi, menguasai keadaan, dan membubarkan massa. Menurut Pangab dalam versi ini, 9 orang meninggal dan 53 luka-luka.