Kronologi Peristiwa Tanjung Priok Versi HMA Sampurna

Berikut ini adalah kesaksian H.M.A Sampurna --waktu itu berpangkat Letkol dan menjabat Asintel KodamJaya-- tentang peristiwa Tanjung Priok, yang diungkapkannya kepada majalah mingguan Tempo. H.MA Sampurna, kini berpangkat Brigadir Jenderal dan menjabat Wakil Gubernur Jawa Barat, bertutur sebagai berikut.


 Jauh sebelum pecahnya peristiwa itu, sudah berlangsung kegiatan dakwah di Masjid al-A'raf, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, yang bernada menghasut. Di antara para penceramah, yang bersuara keras ialah Amir Biki, Salim Qadar, Syarifin Maloko, Tony Ardie, dan M. Nasir. Sebelum saya menjadi Asintel, dakwah yang "panas" itu juga sudah ada. Kemudian, terjadi pembakaran sepeda motor milik Babinsa.

Sebelum peristiwa itu pecah, Amir Biki, yang mengkoordinasi para dai, sering menemui saya, minta pembebasan anggota jamaah yang ditahan di Kodim atau di Polres. Saya memang kenal baik dengan dia karena sering bertemu. Akan tetapi, permintaannya yang terakhir tidak bisa diluluskan karena saya anggap sudah keterlaluan. Kalau masalahnya kecil, misalnya soal selebaran, biasanya saya minta dia menyelesaikannya secara baik-baik.

Pada tanggal 12 September itu, sekitar pukul 19.00, saya berada di depan Masjid al-A'raf. Saya hampir bisa masuk, tetapi karena situasinya kurang menguntungkan, saya kembali ke Kodim, sedangkan anak buah saya segera siaga di lapangan. Ternyata situasinya makin panas karena para penceramah mulai menghasut Akhirnya, saya turun bersama Asisten Operasi Alif Pandoyo, kini ketua DPD Golkar Jawa Tengah.

Pukul 20.30, saya masih memonitor situasi. Karena keadaan makin panas, saya mencoba maju ke depan, tetapi ternyata massa sudah mulai bergerak maju. Saya segera mengontak Panglima (ketika itu Try Soetrisno), yang waktu itu berada di rumah. Kebetulan, dari sumber lain beliau juga mendapatkan informasi, lalu menghubungi saya. Instruksi beliau waktu itu ialah "cepat atasi". Akan tetapi tiga puluh menit kemudian, massa sudah ke jalan menuju Polres.

Di depan Polres Jakarta Utara itulah terjadi "kontak" dengan massa. Saya tidak mengetahui persis berapa jumlah mereka karena massa amat padat. Mungkin seribu lebih. Sulit pula menghitungnya karena keadaan gelap. Lagi pula sudah terjadi "kontak" sehingga saya tidak sempat menghitung. Pasukan dari Kodim hanya satu regu, yang berjumlah 10 orang. Jaraknya amat dekat, pasukan campur dengan massa. Bahkan, saling mengejar.

Massa itu ada yang di jalan dan ada yang di lapangan. Dalam kegelapan, masih bisa dilihat gerakan mereka ke berbagai arah. Ada yang menuju Priok, ada yang ke arah Sampur, ada yang bergerak ke Ancol, ada pula yang ke arah Kodim dan Polres. Malam itu posisi saya di jalan yang menuju ke arah Kodim dan Polres. Saya mengendarai jip, 10 meter di belakang pasukan.

Pasukan berusaha memberitahu massa agar mereka berhenti, tetapi mereka tidak mau. Mereka malah mengejar tentara. Tentara gantian mengejar massa. Tidak jelas siapa dari massa itu yang mengejar atau dikejar. Namanya juga massa. Amir Biki memimpin mereka ke arah Kodim dan Polres, Salim Qadar memimpin mereka ke arah Priok. Sambil bertakbir, mereka membawa berbagai macam senjata tajam. Beberapa saat kemudian Panglima memberi tahu bahwa Pangab (waktu itu Jenderal LB Moerdani) sebentar lagi akan meninjau ke tempat kejadian. Lalu saya menunggu di Polres. Sekitar lima belas menit kemudian, beliau bersama panglima datang. Saya lantas melaporkan kejadiannya. Akan tetapi, di tempat kejadian sudah tidak ada masalah yang berat karena sudah "dibersihkan" dan sudah selesai, kecuali sejumlah rumah dan toko yang dilempari batu dan dibakar massa.

Sekitar pukul 02.00 dini hari, saya mengantar Pangab dan Pangdam meninjau para korban yang dirawat di RSPAD Gatot Subroto, tetapi saya tidak mengetahui persis berapa jumlah korban yang meninggal. Para korban diangkut dengan truk, dikuburkan di satu lokasi di desa Ceger, Kampung Rambutan, Jakarta Timur, karena sebagian tidak dikenali identitasnya. Urusan saya ialah memproses mereka yang terlibat dan ditahan, tidak mengurusi jenazah.

Sampai pagi saya tidak tidur, menahan, memeriksa, dan memproses mereka yang ditangkap, jumlahnya sekitar seratus, ditahan di beberapa tempat. Diseleksi siapa gembongnya untuk diajukan ke pengadilan, sedangkan yang lain dibebaskan. Kalau sekarang ini ada korban yang minta agar kasus ini dijelaskan, menurut saya tidak usahlah. Yang sudah, ya sudah.