Kronologi Peristiwa Tanjung Priok Versi Lembaran Putih


Lembaran Putih 22 berisi keprihatinan tentang dikeluarkannya keterangan sepihak oleh pemerintah Orde Baru. Lembaran Putih tentang PeristiwaTanjung Priok 1984 ditandatangani oleh: Azis Saleh, Ali Sadikin, H.R. Dharsono, Suyitno Sukirno, Hoegeng Iman Santoso, Syafrudin Prawiranegara, Darsyaf Rahman, Wachdiat Sukardi, Burhanuddin Harahap, Abdulrahman Sy., Mohammad Sanusi, Dody Ch. Suriadiredja, M. Rajab Ranggasoli, Slamet Bratanata, Bakri A.G. Tianlean, M. Muis, A. Amin Ely, Anwar Harjono, Hamzah Hariandja, N.P Siregar, Sofwan A.M., A.M. Fatwa. Jika PeristiwaTanjung Priok sendiri adalah sebuah musibah maka penanda-tangan Lembaran Putih 22 menganggap keterangan sepihak pemerintah tersebut sebagai "musibah dalam musibah".

Para penanda-tangan Lembaran Putih 22 kemudian berusaha menyadarkan masyarakat bahwa di balik peristiwa Tanjung Priok sebetulnya terdapat musibah yang lebih mendasar, yaitu sistem politik dan kondisi masyarakat yang mengantarkan peristiwa 12 September 1984 itu. Lembaran Putih membuat versi yang berbeda dengan versi pemerintah dalam menerangkan Peristiwa Tanjung Priok sebagai berikut
Tanggal 8 September 1984  dua petugas Koramil, tanpa membuka sepatu, memasuki Mushala as-Sa'adah di Gang IV Koja. Mereka menyiram pengumuman yang tertempel di tembok mushala dengan air got, padahal pengumuman ini hanyalah undangan pengajian Remaja Islam Jalan Sindang Raya.
Pada hari Minggu, 9 September 1984 kejadian di Mushala as-Sa'adah menjadi pembicaraan masyarakat. Tidak ada usaha pihak berwajib untuk menawarkan penyelesaian kepada jamaah.
Tanggal 10 September 1984 beberapa anggota jamaah Mushala as-Sa'adah berpapasan dengan salah seorang petugas Koramil yang mengotori mushala mereka. Kemudian terjadi pertengkaran mulut yang akhirnya dilerai oleh dua orang jamaah mushala yang kebetulan lewat. Usul kedua orang yang terakhir, agar semua pihak minta penengahan pada ketua RW, diterima. Sementara itu, saat pembicaraan sedang berlangsung, sejumlah orang yang tidak bertanggungjawab dan tidak ada sangkut-pautnya dengan permasalahan, membakar sepeda motor petugas Koramil. Kodim yang diminta bantuan oleh Koramil mengirimkan sejumlah tentara dan melakukan penangkapan. Tertangkaplah empat orang jamaah, termasuk di dalamnya Ketua Mushala as-Sa'adah.
Tanggal 11 September 1984  Amir Biki menghubungi pihak yang berwajib untuk meminta pembebasan empat orang yang diyakini tidak bersalah.
Tanggal 12 September 1984 dalam suasana yang dipertegang oleh kejadian penahanan empat orang jamaah tersebut, acara pengajian Islam yang memang telah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya, berlangsung di Jalan Sindang Raya. Dalam pengajian ini, Amir Biki tidak menjadi penceramah karena memang tidak pernah bersedia naik mimbar. Akan tetapi, dilatarbelakangi oleh persoalan-persoalan yang tengah dihadapi oleh jamaah, massa mendesak Amir Biki naik mimbar. Pukul 23.00 para tahanan belum juga dibebaskan, Amir Biki diikuti oleh jamaah pengajian berangkat ke Kodim. Massa membawa bendera Merah Putih dan bendera hijau bertuliskan "Laa ilaaha illallah". Sebelum massa bergerak. Amir Biki meminta massa berlaku tertib.
Ketika sampai di dekat kantor Polres, massa yang bergerak di bawah pimpinan Amir Biki, tercegat oleh pasukan keamanan. Pasukan keamanan yang diturunkan dan beberapa truk juga menggunakan kendaraan lapis baja (panser dari Yon Kav/Serbu). Gerakan massa langsung dibubarkan dengan senjata otomatis.[am]