Kronologi Peristiwa Tanjung Priok Versi Intern Aparat Pemerintahan Orde Baru


Versi kedua ini diungkapkan oleh Pangab/Pangkopkamtib dalam penjelasan kepada lurah wilayah Jakarta Utara. Penjelasan Pangab/Pangkopkamtib sebagai berikut.
 Jumat, 7 September, di sekitar Masjid Rawabadak banyak tertempel pengumuman tentang ceramah oleh mubalig-mubalig yang terkenal ekstrem, keras, bukan mubalig ayam sayur. Salah seorang petugas Koramil setempat, yang merasa terhina karena peringatan-peringatannya pada panitia untuk tidak mengundang penceramah seperti itu –mubalig keras-- selalu diabaikan, menyiram salah satu pengumuman dengan air selokan.
Senin, 10 September 1984
petugas yang menyiram pengumuman dengan air selokan itu lewat di depan sekelompok pemuda yang sedang berada di Pasar Koja. Mereka segera menghadangnya dan mencoba mengeroyok petugas tersebut. Pada saat itu ada dua warga yang mencoba menyelamatkan petugas itu. Setelah itu para pengeroyok mencoba melampiaskan kemarahan mereka dengan membakar sepeda motor dinas yang digunakan petugas itu. Selanjutnya, sesuai prosedur hukum yang berlaku, Polres Jakarta Utara terpaksa menahan dua orang penyelamat itu dan dua orang lagi yang diduga sebagai pelaku pengeroyokan untuk dimintai keterangan. Penahanan sementara diperlukan oleh aparat keamanan guna penelitian dan pengusutan lebih lanjut serta guna penuntutan sesuai dengan hukum yang berlaku.
Rabu, 12 September 1984
sekitar pukul 19.30 WIB, di Masjid Rawabadak berlangsung ceramah agama oleh Amir Biki, Syarifin Maloko, S.H., dan M. Nasir. Para penceramah melontarkan ucapan-ucapan anti-Pancasila, anti asas tunggal, memecah persatuan dan kesatuan bangsa, serta mengganggu stabilitas nasional. Di akhir ceramahnya. Amir Biki yang dikenal masyarakat setempat sebagai tokoh agama dan tokoh masyarakat yang berpengaruh, mengajak pendengar agar ramai-ramai mendatangi polres Jakarta Utara untuk menuntut agar empat orang, yang sebenarnya hanya ditahan sementara guna dimintai keterangan, dibebaskan saat itu juga. Sekitar pukul 23.00 WIB peserta ceramah beramai-ramai mendatangi Polres Jakarta Utara, dipimpin Amir Biki yang membawa bendera hijau. Karena gerakan ini sudah tercium sebelumnya, pengamanan Polres Jakarta Utara diperkuat pasukan Laksusda Jaya. Sesampainya massa di depan Polres, terjadi perundingan antara Amir Biki dan Komandan Laksusda Jaya dan Danres (Kapolres) Jakarta Utara.
Sementara itu, para pengikut Amir Biki mulai berteriak-teriak mencaci petugas keamanan. Mereka memaksa agar empat orang temannya dibebaskan saat itu juga. Akhirnya, karena massa terus mendesak maju dan karena sakit hati dicaci maki terus menerus, petugas keamanan sebagai biasanya manusia, hilang kesabarannya. Maka tanpa dapat dicegah, sebagian petugas keamanan membidikkan senjata mereka ke arah massa. Terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Sekitar 40 orang tewas tertembak saat itu juga, termasuk Amir Biki, serta puluhan lainnya mengalami luka-luka. Selanjutnya, para peserta ceramah sambil meneriakkan "Allahu Akbar" mengamuk dan membakar toko-toko milik orang Tionghoa hingga jatuh korban orang-orang Tionghoa yang mencapai 100 orang lebih.
Kamis,13 September 1984
pukul 00.00 WIB, aparat keamanan Laksusda Jaya berhasil mengendalikan situasi, menguasai keadaan, dan membubarkan massa.[am]