KRONOLOGI KONFLIK MALUKU

Banyak kalangan gembira setelah Maluku berhasil melewati pemilihan umum, 5 April 2004 lalu. Namun, tak disangka, konflik kembali tersulut setelah HUT RMS, 25 April lalu. Inilah kronologinya:

12 Desember 1998
Terjadi bentrokan antara warga Desa Waitele dan Hative Besar, Ambon.

14 Januari 1999
Bentrokan di Dobo, Maluku Tenggara.

19 Januari 1999
Kerusuhan di Batumerah, Ambon, yang dipicu pertikaian antara Jopie Saiya dan Ferry Mual dengan Usman dan Rasid Walla di depan Bioskop Victoria, diperbtasan Batu Merah-Mardika. Sejak itu eskalasi kerusuhan meningkat. Isu anti BBM (Buton, Bugis dan Makassar) merebak. Warga Buton, Bugis dan Makassar mulai mengalir keluar dari Ambon dan Maluku.

28 Febarurari-1 Maret 1999
Pemuka adat, kepala desa, tokoh agama, dan para camat di Ambon, Haruku, Saparua, dan Nusa Laut menandatangani kesepakatan damai di Markas Korem 174 Pattimura, Ambon.

5 Maret 1999
Kapolda Ambon Kolonel Karyono diganti Kolonel Bugis Saman. Satu Batalion TNI AD asal Makassar ditarik, diganti satu batalyon marinir dari Surabaya, satu batalion dari Purworejo, dan satu batalion dari Situbondo. 

8 Maret 1999
Dibentuk tim khusus untuk menangani kerusuhan Ambon yang dipimpin Mayjen Suaidy Marasabesy. Tapi kerusuhan terus berlanjut.

12 Mei 1999
Ikrar perdamaian Masyarakat Maluku (Ale Rasa Beta Rasa) ditandatangani pemimpin MUI Maluku, Gereja Katolik, dan gereja Protestan Ambon di Lapangan Merdeka, Ambon.

27 Juli-Akhir Oktober 1999
Bentrokan massa terus terjadi di Ambon. Maluku Utara mulai tersentuh kerusuhan di Malifut pada 19-20 Agustus.

22 Desember 1999
Pertikaian di Wainibe, Buru Utara Barat, Kepulauan Buru.

26, 29 Desember 1999-Awal Januari 2000
Menjelang tahun baru Maluku Utara menjadi ladang pembantaian. Penyerbuan beruturut-turut terjadi di Kecamatan Tobelo, dan Galela di Halmahera, Maluku Utara.

7 Januari 2000
Tokoh-tokoh Islam di Jakarta menggelar tablig akbar sejuta umat di Monas. Seruan jihad mulai dikobarkan. 

19 Januari 2000
Gus Dur meminta mantan PM Belanda Ruud Lubbers membantu upaya rekonsiliasi dan pemulihan masyarakat Maluku. Soalnya, kelompok RMS disebut-sebut terlibat. Tapi pertikaian terus terjadi. 

6 April 2000
Laskar jihad unjuk kekuatan di Senayan, Jakarta. Mereka kemudian menggelar latihan jihad bersama di Bogor. Akhir April mereka mulai berangkat ke Ambon untuk berjihad.

19 Juni 2000
Serangan balik kelompok putih ke kebubu pertahanan kelompok Merah di Desa Duma, Galela, dan Tobelo. Gereja Nita, geraj kristen pertama di maluku Utara hancur. Ratusan jiwa melayang.

22 Juni 2000
Asrama Brimob Polda Maluku di kawasan Tantui, Kota Ambon, diserang dan dibakar. Gudang senjata dibobol. 

27 Juni 2000
Pemerintah memberlakukan keadaan darurat sipil di seluruh kepulauan Maluku. Jam malam mulai diberlakukan. Di mana-mana aparat keamanan masih terus patroli, dan berjaga di setiap perbatasan wilayah yang dianggap masih rawan konflik. Karung berisi pasir tampak masih menumpuk di setiap sudut perbatasan jalan. 

21 Januari 2001
Sekitar 10 warga sipil tewas dan belasan lainnya menderita luka-luka berat dan ringan akibat kontak senjata antara Batalyon Gabungan (Yon Gab) dan Marinir dengan sekelompok warga di kawasan perbatasan Batumerah-Mardika. 

20 Mei 2001
Terjadi aksi penyusupan di rumah-rumah warga. Modusnya, orang-orang tak dikenal itu mendatangi rumah pada malam hari, lalu mengetuk pintu. Para penyusup itu akan membacok siapa saja yang membukakan pintu.

27-28 Mei 2001
Penyusupan terjadi di kawasan Soya kecil dan Karang Panjang, Kecamatan Sirimau. Akibatnya, tujuh warga meninggal dibacok dan 17 lainnya luka-luka, di samping dua penyusup tanpa identitas juga tewas.

27 Agustus 2001
Sebuah bom meledak di sebuah warung makan di kawasan Jl. Dr. Latumeten, Ambon. Ledakan di sekitar 50 meter dari rumah dinas Pangdam XVI/Pattimura Brigjen TNI Mustopo itu menyebabkan dua orang tewas dan 16 luka-luka berat. 

31 Agustus 2001
Anggota Brimob Polda Maluku Prada Sanel Ely dan anggota Yonif 737/Masariku Pratu Rusly Hadi tewas tertembak di di perairan Pulau Pombo, Kabupaten Maluku Tengah saat mengawal warga yang naik speedboat.

16 April 2002
Penguasa Darurat Sipil di Maluku mengeluarkan larangan kepada masyarakat untuk berkeliaran tanpa sebab yang jelas sejak pukul 24.00 sampai 05.00 pagi. 

21 April 2002
Penguasa Darurat Sipil di Maluku memperpanjang jam malam, dari pukul 22.00 ? 06.00 WIT. 

13 Juli 2003
Kapolri Jendral Polisi Dai Bachtiar, di Ambon, mengatakan, status Darurat Sipil mungkin dicabut kalau daerah ini sudah memiliki Gubernur definitif. 

16 Agustus 2003
Karel Albert Ralahalu dan Mohammad Abdullah Latuconsina terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku periode 2003-2009. 

9 September 2003
Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono dalam jumpa persnya mengatakan, Pemerintah segera mencabut status darurat sipil di Maluku menjadi tertib sipil. 

15 September 2003
Maluku dinyatakan sebagai wilayah berstatus tertib sipil, setelah tiga tahun berstatus darurat sipil.

5 Oktober 2003
Komando pengendalian keamanan dan ketertiban masyarakat dialihkan dari Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Agustadi selaku Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan Maluku kepada Kapolda Maluku Brigjen Pol Bambang Sutrisno.

3 November 2003
Sejak peralihan status darurat sipil menjadi tertib sipil pada September 2003 di Provinsi Maluku, masyarakat menyerahkan 94 bom rakitan dan 77 unit senjata api rakitan kepada polisi dan TNI.

19 Desember 2003
Juru bicara Direktorat Jenderal Imigrasi Departemen Kehakiman dan HAM Ade Endang Dachlan mengatakan, Ketua Front Kedaulatan Maluku (FKM) Alex Manupputy melarikan diri dari Indonesia ke AS melewati jalur-jalur tidak resmi. Manuputty divonis empat tahun penjara terkait kasus makar.

22 Desember 2003
Kejaksaan Tinggi Maluku menangkap Pimpinan Yudikatif Front Kedaulatan Maluku (FKM) Semuel Waileruny di rumahnya di Pulo Gangsa, Kecamatan Sirimau, Ambon.

5 April 2004
Pemilihan Umum Legislatif di Maluku berjalan aman dan tertib. Situasi serupa juga terjadi saat kampanye pemilihan.

25 April 2004
Kerusuhan pecah setelah polisi membubarkan massa yang sedang memperingati HUT RMS.