KALI INI ROKOK BERMANFAAT

rokok
Wisnu, seorang karyawan di sebuah kantor swasta, berusia 34 tahun, suatu siang ketika tengah beristirahat dari pekerjaan rutinnya, merasa kaget ketika mendadak tangan kanannya gemetar. Ia bertanya-tanya dalam hati, “Apa sih ini?”. Namun seperti kebanyakan orang Indonesia- ia mendiamkan saja kejadian aneh itu.

Dengan berjalannya waktu, masalah-masalah yang lebih “aneh” muncul secara beruntun: Ia tidak dapat melangkah secepat biasanya, dan ia bahkan mulai merasa sedikit canggung. Jari jemarinya tidak dapat menjangkau uang logam di dompet, Wisnu juga sulit sekali menggosok giginya, dan tulisan tangannya menjadi semakin kecil dan sulit dibaca. Dan ia pun mulai panik…

Melalui serangkaian pengujian medis, diketahui Wisnu menderita: Penyakit Parkinson. Sayang sekali, ia terlalu muda untuk menderita penyakit ini. Tapi bukan hal luar biasa, sebab setiap tahun 50.000 orang Amerika memperoleh diagnosis yang sama. Dan apabila Anda seorang laki-laki, risiko Anda lebih tinggi untuk menderita penyakit tersebut.
Rokok Bisa Membantu
Kalau biasanya kita membahas rokok dengan penuh “kekejaman”, seperti: “Jangan merokok!” “Kurangi dosis merokok Anda!” “Seperlima orang di dunia meninggal setiap tahun karena penyakit yang berhubungan dengan merokok!” dan bla-bla-bla, masih banyak lagi hal mengerikan lainnya.
Ok, kali ini dengan pembahasannya agak berbeda. Dan tentu saja, berdasarkan penelitian terbaru, didapati hubungan yang unik antara merokok dengan menurunnya risiko seseorang terserang penyakit Parkinson.
Para perokok tentu saja boleh bergembira…, tapi ini bukan semacam rekomendasi dan pembenaran bahwa Anda lantas boleh merokok sesuka hati sebagai cara tepat mencegah penyakit Parkinson. Alih-alih mencegah Parkinson, malah terserang kanker paru-paru.
Para peneliti dalam hal ini hanya menunjukkan sebuah hubungan sebab akibat dan tentu saja selanjutnya hubungan ini akan terus dipahami dan diidentifikasi lebih jauh, misalnya hal-hal positif apa dari rokok yang dapat dikembangkan untuk menyusun penanganan-penanganan, menemukan penyembuhan dan mencegah Parkinson, tanpa menyuruh Anda terus menerus merokok.
Apa yang membunuh sel-sel dopamin itu? Belum ada yang secara pasti mengetahuinya. Tapi sejumlah peneliti percaya bahwa kombinasi antara faktor-faktor lingkungan, genetik dan usia (penuaan) turut berperan.
Beberapa tahun belakangan ini, dilakukan berbagai macam studi mengaitkan kebiasaan merokok dengan menurunnya risiko terkena Parkinson. Tetapi penjelasan ilmiah mengenai hubungan ini, masih sulit dipahami. Dan sejumlah peneliti menduga, kebiasaan merokok, bukanlah faktor utama yang dapat melindungi seseorang dari Parkinson. Karakteristik genetik seseorang juga ikut mendasari.
Dr. Harvey Checkoway dan rekan-rekannya di University of Washinton, Seattle, yang baru saja melakukan riset mengenai Parkinson menemukan bahwa perokok memiliki risiko 50 persen lebih kecil terserang Parkinson. Dan para perokok aktif  (yang masih merokok hingga saat penelitian) memiliki risiko 70 persen lebih kecil dibandingkanex-smokers atau mantan perokok.
Para peneliti mencatat, bahwa nikotin yang terkandung dalam rokok menghambat rusaknya sel-sel hitam di substansia nigra otak. Rusaknya sel-sel hitam inilah yang menyebabkan timbulnya penyakit Parkinson.
Pada orang sehat, jumlah sel-sel hitam yang ada di otak sebanyak 425.000-550.000 sel. Bila jumlah ini berkurang hingga 30 persen, dan warna sel-sel ini berubah menjadi kelabu, maka sel-sel hitam itu dikatakan rusak. Dan menyebabkan gejala-gejala seperti tremor, kekakuan otot, dan menurunnya kemampuan seseorang untuk bergerak.
Begitulah kesimpulannya friends, ya setidaknya kali ini Anda bisa merokok dengan lega. Tetapi kalau Anda lantas tertarik untuk merokok setelah terkena Parkinson, hal itu tidak menolong karena sel-sel hitamnya sudah telanjur rusak
(Reuters Health/zrp)