INILAH PARA PAHLAWAN ITU

Ali Sadikin. (Foto: fauzibowo.com)

Selain dua mantan Presiden, Soeharto dan Abdurrahman Wahid, masih ada nama-nama lain yang juga diajukan menjadi pahlawan nasional, tahun ini. Terhadap sebagian dari mereka, tetap ada kontroversi.
 
Habib Sayid Idrus Al-Jufri, misalnya, dikritik karena ia adalah kakek dari Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri. Jejak kepahlawanan Johanes Abraham Dimara dari Papua juga dinilai tak mantap, Pakubuwono X dinilai sebagai Raja Jawa yang konservatif. Sebaliknya, nyaris tak ada penolakan terhadap Ali Sadikin dan J Leimena. Nah, berikut sedikit profil tentang para pahlawan itu.
 
Ali Sadikin (7 Juli 1927-20 Mei 2008)
Pada suatu masa, sekitar 50 tahun silam, potret setiap kota besar di Asia Tenggara nyaris tak ada bedanya. Semuanya sumpek, semrawut, dan kehidupan berjalan amat lambat. Jakarta, Kuala Lumpur, Bangkok, Manila, Bahkan Singapura; sama. Hingga April 1966, Ali Sadikin menjadi Gubernur Jakarta. Setelah itu, suasana berubah.
 
Wartawan dan penyair Goenawan Mohammad pernah merinci, apa saja yang dibikin Gubernur Ali: Jalan HR Rasuna Said, Jalan Casablanca, Taman Ismail Marzuki, gelanggang remaja, Taman Ancol, pusat perfilman, pelbagai museum, stasiun bus kota, halte, dan lampu lalu lintas. Wartawan Aristides Kaoppo Ali –begitu dia biasa disapa– yang menjadi awal gerakan penghijauan kota di negeri ini. Arief Budiman –yang oposan itu– mengingat Bang Ali sebagai pemimpin yang mau mendengarkan orang lain, berani berubah, dan ikhlas meminta maaf. Ali Sadikin yang galak itu juga mesponsori pembentukan Lembaga Bantuan Hukum, Dewan Kesenian Jakarta, dan membuat lagi kebun binatang yang keren. Di masa Bang Ali, kata "Betawi" yang dianggap norak dipulihkan lagi.
 
Pria kelahiran Sumedang itu berhenti menjadi gubernur pada 1977. Kita tahu, setelahnya, Jakarta ketinggalan oleh kota-kota lain di Asia Tenggara. Tapi, jejak Bang Ali tak terhapus. Para budayawan Jakarta menggelarinya "empu peradaban kota".
 
Bang Ali juga seoarng Letnan Jenderal KKO yang berdedikasi. Pria ganteng berbodi atletis itu mampu meneladankan keberanian dan percaya diri –bahkan terhadap sebuah rezim yang beringas, paranoid, dan berada di puncak kekuasaannya sekalipun. Ia pernah dikucilkan, diawasi, difitnah, tapi tetap beradab, pemaaf, dan ikhlas mengkritik kekuasaan.
 
KH Ahmad Sanusi (1989-1950)
Di masa kolonial, Sukabumi adalah rumah yang nyaman bagi orang-orang Belanda. Di tahun 1920-an enam bioskop, sebuah gedung opera, gedung teater, setengah lusin kolam renang –satu merupakan pemandian air panas– dan arena pacuan kuda tersedia di kota kecil nan sejuk di kaki Gunung Gede itu. Orang-orang Eropa seolah menjadi tuan yang baik bagi para kawula yang ramah. Semua begitu nyaman, zaman teramat normal, kecuali bagi sedikit orang yang gelisah. Salah satunya adalah Ahmad Sanusi.
 
Pada 1904, Uci –panggilan masa kecil Ahmad Sanusi– belajar agama ke Makkah. Di sana pula ia menjadi anggota Sarekat Islam (SI). Pada 1922, setelah kembali ke Tanah Air, ia mendirikan pesantren di daerah Genteng, Sukabumi. Sejak itu, ia dikenal dengan sebutan Ajengan Uci atau Ajengan Genteng. Di tanah Sunda, ajengan sama artinya dengan kiai. Di pesantrennya, Ajengan Uci mengajarkan santri dengan cara duduk di kelas dan menerapkan system kurikulum berjenjang.
 
Pada November 1926, muncul pemberontakan terhadap pemerintah kolonial. Pemberontakan paling hebat terjadi di Banten dan meluas ke banyak kota. Ahmad Sanusi terlibat. Ajengan bersama para santri Genteng ditangkap lalu masuk penjara enam bulan di Sukabumi dan tujuh bulan di Cianjur. Pada 1927, Ajengan diasingkan ke Tanah Tinggi, Jakarta, selama tujuh tahun. Di masa pengasingan, pada 1931, Ajengan Uci mendirikan perhimpunan "Al-Ittihadiyah Islamiyah" (AII) –belakangan menjadi Persatuan Umat Islam (PUI). Tiga tahun kemudian, ia dipulangkan ke Sukabumi. Di kota asalnya, Ahmad Sanusi mendirikan Pesantren Gunung Puyuh, yang masih ada hingga sekarang.
 
Di masa Jepang, pada 1944, Ajengan diangkat menjadi Wakil Residen Bogor. Ia juga berkiprah di Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia dan Komite Nasional Indonesia Pusat –sebagai wakil dari Masyumi. Ajengan Uci melahirkan tak kurang dari 75 karya tulis, termasuk Raudhatul Irfan –tafsir lengkap Al-Qu’an dalam bahasa Sunda.
 
Andi Deppu Maraddia Balanipa (1907-1985)
Darah petarung seolah mengalir dalam sosok Andi Depu Maraddia Balanipa. Perempuan tanah Mandar ini sudah memimpin pasukan prakemerdekaan. Bahkan, pada akhir 1944, bendera Merah Putih sudah berkibar di tanah Mandar, Sulawesi Barat. Kala itu, pasukan Jepang baru saja terpukul di kawasan Pasifik, tapi kaisar di Tokyo masih belum mau menyerah. Hingga datanglah petaka bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, dan Jakarta menyatakan proklamsi pada 17 Agustus 1945.
 
Perempuan yang digelari Ibu Agung itu berhasil mempertahankan Merah Putih di sepanjang Tinampung Polewali Mandar, berjajar dari Sulawesi Selatan hingga ke Sulawesi Barat. Keperkasaan Hajah Andi Depu, satu-satunya perempuan yang melegenda. Orang-orang Mandar pun masih ingat seruannya di masa lalu: "Moa' namunduro-o mie' Tommuane, alai mai lasomu". "Jika kalian, para laki-laki mundur (dalam pertempuran ini) lebih baik kelaki-lakianmu itu diserahkan kepada kami".
 
Andi Makkasau Parenrengi Lawawo (1898-1947)
Raja dari Kerajaan Suppa ini termasuk penguasa lokal yang pertama kali menyatakan kesetiaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada 12 September 1945, bendera merah putih dikibarkan di Lapangan Labukkang, Suppa. Andi Makkasau Parenrengi Lawawo juga ikut membuat deklarasi Jongayya pada 15 Oktober 1945, yang menyatakan mendukung Indonesia merdeka. Kerajaan Suppa berwilayah di Kota Pare-Pare sekarang.
 
Di daerah kekuasaannya, Andi Makkasau pernah membentuk Badan Organisasi Penunjuang Kemerdekaan Indonesia dan cabang Partai Syarikat Islam Indonesia dan Partai Nasional Indonesia. Ia pernah mengundang tokoh nasional seperti Buya Hamka, AM Sangaji, H. Agus Salim, dan H.O.S Cokroaminoto ke Suppa, untuk memberikan pendidikan politik kepada rakyatnya.
 
Ketika pasukan Sekutu dan NICA datang, Andi Makkasau mengadakan Konferensi Pare-Pare, 1 Desember 1945. Ia menyatakan mendukung Sam Ratulangi sebagai Gubernur Republik Indonesia untuk Sulawesi dan menolak kembalinya Belanda di Indonesia. Itu pula yang ikut mendorong komandan pasukan Belanda di Netherlands memerintahkan Kapten Raymond Paul Pierre Westerling untuk melakukan pembantaian di Sulawesi Selatan.
 
Serbuan Westerling ke Asuppo dihadang dengan gigih oleh pasukan Andi Makkasau. Namun, senjata yang terbatas dan personel yang kurang membuat laskar Andi Makkasau tidak bisa lama bertahan. Andi Makkasau tertangkap. Tapi, sekeluarnya dari penjara, ia kembali melawan. Westerling kembali dihadapinya –dan lagi-lagi Andi Makkasau tertangkap, lalu ditahan dan dipenjara di Sawitto Pinrang. Ia disiksa habis-habisan, dan akan dieksekusi. Tapi kematian tak juga mendatanginya. Dalam kondisi hidup, sosok yang terikat dan diberi pemberat dilemparkan ke laut. Ombak laut Mar’bombang menjadi saksi nyata kekerasan hati Andi Makkasau dalam berjuang.
 
Johannes Leimena (6 Maret 1905 – 29 Maret 1977)
Kiprah perjuangan seorang putra Ambon bernama Johannes Leimena membentang lebih dari lima puluh tahun. Ia sudah aktif sejak awal 1920-an. Pada 1926, Leimena mengadakan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung –yang melahirkan Organisasi Oikumene. Pada 1928, Leimena terlibat dalam salah satu tonggak perjalanan sejarah bangsa. Sebagai aktivis Jong Ambon, Leimena menjadi panitia Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda.
 
Leimena masuk STOVIA Surabaya dan lulus di tahun 1930. Leimena menjadi dokter dari Geneeskunde Hogeschool (GHS–Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta, pada 1939. Sewaktu masih menjadi mehasiswa, Leimena bersama kawan-kawannya mendirikan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).
 
Pada tahun 1950, Leimena menjadi Ketau Umum Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Ia juga berperan dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-Gereja di Indonesia, kini PGI). Leimena sudah menjadi menteri dan tujuh kali menjadi pejabat Presiden –sewaktu Presiden Soekarno berhalangan.
 
Ketika Orde Baru berkuasa, Leimena masih dipercaya Presiden Soeharto menjadi anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Leimena kini dikenang sebagai tokoh Kristen pluralis yang nasionalis. Ia dihormati semua kalangan. Leimena juga yang merekomendasikan nama Ali Sadikin, kepada Presiden Soekarno untuk diangkat menjadi Gubernur Jakarta.
 
Sayid Idrus Al-Jufri (15 Maret 1881-22 Desember 1969)
Di Sulawesi Tengah dan Gorontalo, nama Sayid Idrus Al-Jufrie, begitu istimewa. Haulnya pada setiap 12 syawal selalu diperingati oleh masyarakat sana. Sayid Idrus adalah pendiri Perguruan Islam Alkhairaat, yang kini memiliki 420 madrasah di seluruh Tanah Air.
 
Pria kelahiran Hadramut, Yaman Selatan, datang ke Indonesia sebagai orang yang terusir dari negerinya, oleh penjajah Inggris. Sekitar tahun 1909, Sayid Idrus mendarat di Manado. Tak lama, ia kembali ke Hadramaut. Tapi, pada 1925, Sayid Idrus datang lagi ke Indonesia, dan tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Tiga tahun kemudian, ia pindah ke Jombang –untuk mengajar dan berdagang. Sayid Idrus sempat pindah ke Solo, lalu hijrah ke Sulawesi pada 1928.
 
Ia lantas mendirikan sebuah pesantren di Kota Palu. Pada 30 Juni 1930 diresmikan Madrasah Al-Khairaat di Palu. Sejak 1956, Al-Khairaat telah menjangkau seluruh kawasan Indonesia Timur. Salah satu cucu Sayid Idrus adalah Salim Segaf Al-Jufri, Menteri Sosial RI, yang juga menjadi salah satu pejabat yang menentukan dalam penentuan pahlawan nasional kali ini.
 
Pakubuwono (29 November 1866 – 20 Februari 1939)
Penguasa Belanda pernah menilai Raja Jawa yang berkuasa sejak umur 27 tahun ini seorang anak manja yang gemar pesta. Maklum, sejak naik takhta pada tahun 1893, Pakubowono X, penguasa Keraton Surakarta, kerap mengadakan pesta besar-besaran di keraton atau di luar keraton. Tapi, sebagian budayawan Jawa Tengah menilai, kegiatan pesta –juga lawatan yang sering dilakukan sang raja hingga ke seluruh Jawa, Bali, Lombok, dan Lampung– sebagai bagian dari politik menggalang dukungan.
 
Pakubowono X harus melakukan itu agar rakyatnya tetap meyakini bahwa ia masih berkuasa. Soalnya, pada 1903, kekuasaan Keraton Surakarta dinilai melemah gara-gara kekuasaan pengadilan jatuh ke tangan Belanda. Otoritas atas tanah perekonomian dan tanah yang disewa penguasa asing juga diambil alih oleh Belanda.
 
Syahdan, Pakubowono X sangat gerah melihat kekuasaan penjajah. Ia tak berdaya ketika Belanda melarang perkawinan antara bupati dengan putri keraton. Tapi, ia tetap berusaha mencuri hati para bupati dengan memberikan hadiah kancing emas dan arloji yang berinisial Pakubowono X kepada mereka.
 
Sri Juari Santoso sejarawan dari UGM, menilai, Pakubowono X adalah motivator pergerakan nasional. Menurut Sri Juari, banyak pergerakan nasional lahir dan berkembang di Solo karena dorongan sang Sunan. Syarikat Dagang Islam, misalnya. Bahkan Boedi Oetomo yang berdiri di Jakarta pun lebih banyak bergiat di Solo.
 
Kendati begitu, Bandung Mawardi, budayawan Solo, tak menilai istimewa peran yang dilakukan Pakubowono X. mengutip pendapat sejarawan Kuntowijoyo, Bandung menegaskan, Pakubowono X tetaplah sosok penguasa konservatif Jawa.
 
Johanes Abraham Dimara (16 April 1916 – 23 Oktober 2000)
Kontroversi menyelimuti pengajuan nama Johanes Abraham Dimara sebagai pahlawan nasional. Dewan Adat Papua menilai Dimara tak pantas dijadikan pahlawan, karena sejarah perjuangannya kurang jelas. Kabarnya, Dimara adalah mantan polisi Jepang yang mengantar Komodor Yos Soedarso ke Pulau Buru pada 1949. Sejak itu, Dimara terlibat dalam perjuangan mempertahankan NKRI di Papua. Ia juga terlibat dalam perjuangan pembebasan Irian Barat di tahun 1963.
 
Dimara lahir di Biak, Papua, dan bersekolah di SR (sekarang SD) Ambon hingga lulus di 1930. Kemudian, ia melanjutkan ke Sekolah Pertanian di Laha, hingga 1935 dan ke sekolah agama Kristen sampai 1940. Dimara sempat menjadi guru agama Protestan di Pulau Buru pada tahun 1941.
 
Di pulau Buru yang sunyi itu pula, Dimara menjadi anggota Heiho dan Kempetai. Menjelang proklamasi, ia menjabat Ketau Persatuan Indonesia Merdeka (PIM) di Pulau Buru, pada 1944 – 1946.(OkeZone)