DIMANA KUBURAN DN. AIDIT?

Dimana Kuburan DN. Aidit? - Bekas rumah dinas Menteri Panglima Angkatan Darat di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, itu tampak lengang. Sepi. Tanpa aktivitas mencolok. Rumah yang kini menjadi museum tersebut menyimpan kisah pilu pada subuh 30 September 1965. Di rumah inilah Letjend Ahmad Yani diberondong peluru oleh pasukan yang mengaku diperintah Bung Karno dan memaksanya pergi ke istana. ’’Kami melihat bapak diseret mereka,’’ ujar Amelia Yani. Perempuan yang kini aktif di sebuah partai politik itu tak bisa menutupi kegundahannya saat  koran ini mengajaknya kembali mengenang peristiwa penculikan para pahlawan revolusi. Menurut dia, peristiwa penculikan berjalan sangat singkat. Hanya dalam bilangan menit ayah tercintanya pergi untuk selamanya setelah sekelompok pasukan penjemput mengepung rumah dinas tempat keluarga Yani tinggal.
’’Beberapa hari sebelum peristiwa tersebut bapak meminta kami untuk membolos pada 5 Oktober. Bapak mengajak kami ke istana untuk menghadiri hari ABRI,’’ kata Amelia mengenang. Pada 5 Oktober 1965 Amelia Yani dan 7 putra-putri Achmad Yani memang akhirnya benar-benar membolos dari sekolah. Mereka memang mengantar sang bapak ke istana. Namun, bukan istana negara. Pada hari ABRI 1965 itulah jasad Achmad Yani dan enam pahlawan revolusi lainnya diantar ke istana keabadian setelah ditemukan di Lubang Buaya.
Bagi Amelia Yani, bekas rumah dinas Menpangad menyimpan banyak kisah dan teladan dari sang ayah. ’’Ada enam kursi di ruang makan rumah tersebut yang tidak tersekat dengan ruang tamu. Kami biasa menggunakan ruang makan untuk makan siang bersama dan belajar. Bapak juga sering menandatangani berkas-berkas penting di ruang makan tersebut. Kami, anak-anaknya sering mengganggu bapak yang sedang bekerja di meja itu,’’ tutur Amelia.
Di meja itu pula Amelia dan para saudaranya sering dikenalkan kepada para tamu Achmad Yani yang datang ke rumah. Achmad Yani memang selalu menerima tamu penting di rumah dinas. Salah satu kebiasaan Achmad Yani setiap menerima tamu adalah mengenalkannya kepada semua anaknya. Anak-anak Achmad Yani sering diminta berbaris untuk bersalaman dengan sang tamu.
Ruang makan tersebut juga menjadi saksi bisu setiap Achmad Yani berkeluh kesah tentang pekerjaannya kepada sang istri. Amelia menyebut, keluh kesah sang bapak selalu disampaikan kepada ibunya dalam bahasa Belanda agar anak-anak tidak memahaminya. Meja makan sekaligus meja kerja dan meja belajar di rumah dinas tersebut menjadi bukti kesederhanaan seorang Achmad Yani. Amelia menyebut, sangat salah jika ada yang menyebut Achmad Yani adalah seorang jenderal glamour yang sering berfoya-foya hingga gemar main perempuan. ’’Bapak bukan tipe orang seperti itu. Menari lenso yang disukai Bung Karno saja bapak tidak bisa. Kalau diminta menyanyi dalam sebuah acara resmi, bapak hanya bisa menyanyikan dua lagu, Potong Bebek Angsa dan Mana di Mana Anak Kambing Saya,’’ beber Amelia.
Di sebuah bar di dekat meja itu pula pada 30 September 1965 Achmad Yani mengusap-usapkan minyak wangi kepada anak-anaknya sambil meminta mereka membolos pada 5 Oktober 1965. ’’Bapak bilang jika ada yang tanya wangi apa ini, inilah wangi dari bapak. Kami memang kemudian menyandang wangi nama bapak yang pada subuh 1 Oktober meninggalkan kami untuk selamanya,’’ kata Amelia.
Tanggal 30 Oktober 1965 juga menjadi hari tak terlupakan bagi Ilham Aidit, putra Dipa Nusantara Aidit, pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI). ’’Saya masih berumur tujuh tahun saat peristiwa itu terjadi,’’ kenang Ilham. Dia menuturkan, 30 September 1965 malam dia tidak bisa tidur. Dia masih mengingat betul pada malam itu Hardoyo, Ketua Central Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), organisasi mahasiswa underbow PKI, datang ke rumah D.N Aidit.
’’Saat itu saya tidak melihat ayah sedang dalam posisi sibuk menggerakkan sebuah gerakan besar yang mulai terjadi beberapa jam sesudahnya,’’ beber Ilham. Ilham kecil yang gemar menghitung suara dentang jam mengingat betul Hardoyo meninggalkan rumah keluarga Aidit pada pukul 23.00. Setelah Hardoyo pergi, Aidit kemudian kembali ke dalam rumah untuk beraktivitas seperti biasa, membaca dan menulis.’’Sekitar 23.30, datang pasukan yang mengaku dari Angkatan Udara menjemput ayah. Ayah diminta datang ke istana saat itu juga karena Bung Karno memanggil,’’ sambung Ilham. Panggilan mendadak atas nama Bung Karno tersebut sempat mendapat protes keras dari istri Aidit. Sang istri meminta Aidit untuk tidak pergi memenuhi undangan tak lazim itu.
’’Sebagai seorang yang loyal kepada Bung Karno, ayah tetap berangkat walau ibu protes. Sejak pukul 23.30 itulah saya tak pernah lagi berjumpa ayah,’’ tutur Ilham. D.N Aidit memang tak pernah lagi kembali. Dia tewas dan dikuburkan dengan tidak semestinya di Boyolali, Jawa Tengah, setelah peristiwa 1965 meledak. Makam D.N Aidit secara pasti masih misterius walau beberapa waktu silam sempat ditemukan sebuah sumur di Boyolali yang disebut-sebut sebagai pusara terakhir Ketua PKI itu.Ilham Aidit dan Amelia Yani adalah dua dari sekian banyak korban peristiwa 1965 yang hingga kini masih penuh kabut kegelapan. Kini, bersama beberapa orang lain yang juga menjadi korban tragedi-tragedi kemanusiaan serupa, mereka bergabung dalam Forum Silaturahmi Anak Bangsa.[am]