CINTAKU TERPATRI DI BAWAKARAENG (Bagian I)

Dering hpku berbunyi, ternyata ada sms masuk, saya membuka pesan tersebut ternyata dari seseorang yang selama ini aku kagumi. Isi smsnya adalah “Kak mauki jalan-jalan ke Mtos…?”. Kontan aku segera membalasnya, untung masih ada pulsaku yang tersisa untuk satu kali kirim sms. Aku pun kemudian menulis di hp bututku “bolehji dinda..?”. setelah itu aku mengirimnya, tak berelang lama dia membalasnya, hari senin depan sehabis kuliah pengantar Sejarah lama-1500 M.
Gadis yang mengirimi aku sms namanya Tenri, teman sejurusanku di Jurusan Sejarah Universitas Pattingalloang Makassar, dia meruapakan “bintang” kampusku, tubuhnya tinggi semampai, rambutnya lurus, kulitnya kuning langsat, dan satu yang membuat aku tertarik adalah kharisma wajahnya yang penuh kedamaian tatkala dipandangi, dan satu lagi keistimewaannya adalah ada tai lalat mungil yang menempel di ujung bibirnya sebelah bawah. Sejak kecil dikampungku sering saya dengar dari orang-orang tua bahwa bila ada wanita yang memiliki tai lalat begitu, kalo sudah berumah tangga pasti akan bahagia dan rejekinya akan melimpah. Tapi aku tidak terlalu perduli dengan anggapan itu, yang pastinya sejak aku melihatnya dulu waktu pendaftaran SNPTN, sejak saat itu aku telah jatuh hati kepadanya.
Hari senin pagi aku mulai aku mulai bersiap-siap, kekampus untuk menerima pelajaran dari dosenku, tapi bukan itu yang membuat saya bersemangat bangun cepat, melainkan akan jalan sama Tenri, dipikiranku selalu terngiang pesan dari naluriku, saatnya untuk menngungkapkan perasaan hatika sama dia. Saya mengeluarkan motorku dari kolong rumahku, yang saya juluki si black. Oh yach rumahku termasuk paling sederhana di kampungku, Moncongloe. Rumahku adalah rumah panggung seperti kebanyakan rumah khas orang-orang dari suku Bugis-Makassar. Yang terdiri dari tiga fungsi, yakni kale balla (yang ditempati manusia), Passiringang (kolong rumah) dan Pammakkang, yang terletak di atas yang ditempati manusia. Kebetulan saya kuliah pada jurusan Sejarah, jadi aku sedikit banyak mengerti akan fungsi dari rumah jenis rumahku, kale balla adalah yang ditempati manusia, passiringan adalah ditempati binatang peliharaan, namun sekarang ini disamping sebagai kandang ternak, juga dijadikan “bagasi” kendaraan. Dan pammakkang adalah tempat menyimpan Gabah, dan dulunya juga dipammakkang di tempatkan gaukang (jenis sesembahan yang di pasangi kelambu, yang didalamnya terdapat benda pusaka yang dikeramatkan). Namun dirumahku benda gaukang sudah tidak ada lagi.
Setelah mandi saya sarapan, kemudian menghidupkan mesin siblack, dan 10 menit kemudian aku meluncur perlahan kejalan tanah berkelok-kelok dikampungku. Setelah hampir satu jam aku tiba di kampus. Teman-temanku juga sudah mulai berdatangan. Kulihat tenri juga sudah sampai dipelataran parkir kampus. Tenri kekampus selalu diantar oleh ayahnya pakai mobil. Ayahnya adalah seorang pejabat teras di pemerintah propinsi Sulawesi Selatan. Sahabatku yang namanya Ilho datang menyapaku “…. Tumben cepat kekampus hari ini ?..” saya timpali dengan berkata “ ada yang salahkah kalo aku cepat ke kampus…”  ilho hanya tersenyum karena memang aku biasanya langganan terlambat datang ke kampus.
Di dalam kelas dosen menerangkan  tentang sejarah masuknya VOC, yakni organisasi dagang Belanda yang melakukan monopoli perdagangan di Nusantara. Sesekali aku mencatat hal yang penting yang di terangkan dosenku tersebut. Setelah kuliah hampir selesai, aku melirik Tenri yang duduk paling depan, sedangkan aku sudah kebiasaan duduk dideratan kursi paling belakang. Tenri juga saya lihat selalu balik kebelakang, apakah dia juga memperhatikan aku, wah geer kamu, umpat suara hatiku. Setelah dua jam berlalu, dosen telah meneutup mata kuliah hari ini. Teman-temanku satu-persatu meninggalkan ruangan. Aku tidak langsung keluar, namun tinggal dikelas, saya lihat Tenri pun tinggal dikelas. Setelah tinggal kami berdua yang tinggal di ruangan, suasana hening menyelimuti kelas, aku pura-pura memperbaiki tasku, maklum soal wanita saya paling malu, untuk memulai menyapa, apalagi dia telah lama aku kagumi dalam hati. Meskipun sekarang penampilan aku yang garang, karena rambutku yang ikal saya biarkan gondrong, dan aku selalu memakai celana jeans yang compang-camping, namun soal yang satu ini aku mati kutu.
Sementara jantungku berdag dig dug tegang, tiba-tiba kudengar suara yang sangat kurindukan untuk menyapaku, berkata  “ kak bagaimana jadiji kita jalan ke Mtos ?” dengan sedikit gagap aku jawab “… iye jadiji dinda…”. “….kalo begitu ayomi paleng kesana….” Balas Tenri. Akhirnya kami ke Mtos, wah sungguh bahagia hati ini akhirnya aku berhasil mengajak jalan Tenri, sang pujaan hatiku. Sesampai di Mtos kami langsung menuju ke took buku Grahamedia di lantai 3. Dan kami langsung ke pajangan buku bagian kelompok sosial. Dibalik kebahagiaanku, ternyata tubuhku tidak mau kompromi, soalnya saya keki sekali. Aku tidak banyak bicara, hanya sesakali menimpali perkataan Tenri.
Sekitar 30 menit kami di took grahamedia, keajaiban datang pada diriku, dari mulutku meluncur dengan mantap “….. dinda ada yang kutanyakanki?...” Tenri pun berkata “….apa itu kak?...”, “ ….dinda sudah ada yang punya atau belum…” kataku lagi, ”….. ada ADI atau ayah dan ibu kak, memangnya kenapa tanya-tanya begitu sama Tenri ?...” mendengar perkataan Tenri keajaiban dalam tenggorokanku seakan-akan amblas, aku tak mampu berkata-kata, namun dengan memakai jurus paksa, aku pun kemudian berkata “… dinda sejak kita kuliat pertama kalinya, aku jatuh hati padata, dan aku selama ini tersiksa karena menyimpannya dalam hati, namun setelah 1, 5 tahun kita bersama dalam kampus, maka saat ini aku ingin menyet sama kamu…”. Tenri hanya terdiam dan aku liat tidal dapat juga menyembunyikan persaan kekinya, seraya berkata “…kak dari dulu Tenri juga ada hati sama kakak, cumin kakak saya liat cuek, jadi Tenri juga cuek….”. “…berarti dinda menerima saya sebagai kekasih saya ?....” tukasku lagi, “…. Iya kak, jadi catat kak hari ini di Mtos, Senin 1 juni 2009….”(Bersambung)