AMERIKA EKSPOR KOMPUTER DEMI REFERENDUM


Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada Jumat (19/11/2010) mencabut larangan mengenai bantuan AS dan bantuan pemerintah untuk Sudan guna mengizinkan ekspor komputer ke negara itu menjelang referendum penting.
Dalam memorandum kepresidenan, Obama mengatakan dia mencabut satu bagian dari undang-undang Reformasi Sanksi Perdagangan dan Ekspor yang melarang bantuan AS dan mendanai ekspor komersial ke Sudan, dengan mengatakan bahwa hal itu dilakukan demi kepentingan keamanan nasional.
"Pencabutan itu akan memperbolehkan bantuan ekspor dan peralatan terkait yang memungkinkan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) akan memfasilitasi referendum di Sudan Selatan," menurut memorandum.
Referendum mengenai penentuan nasib sendiri itu akan diselenggarakan pada 9 Januari di Sudan Selatan dan di Abyei yang kaya minyak meskipun terdapat kekhawatiran bahwa hajat itu akan membuat negara tersebut terbelah.
Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menawarkan hubungan baik secara "dramatis" dengan Washington kepada Sudan jika Khartoum melaksanakan kesepakatan 2005 dengan selatan dan menyelenggarakan referendum tepat pada waktunya.
Sebagai informasi, kesepakatan 2005 mengakhiri satu perang sipil yang menewaskan dua juta orang. Namun, ketegangan-ketegangan antara utara dan selatan meningkat lagi saat kesulitan terjadi pada persiapan-persiapan pemungutan suara dan langkah itu bergerak lamban.
Pendaftaran pemilih dimulai tepat pada waktunya, yakni pada hari Senin. Baik pihak utara maupun selatan sepakat untuk melakukan desakan baru guna menyetujui perbatasan, pembagian penerimaan minyak, dan masalah-masalah lain yang mengalami kebuntuan.(Source: Kompas.Com)