REPLIKA KAPAL ABAD-13 BUATAN ORANG MADURA

replika kapal
Setelah kapal Pinisi Nusantara, satu lagi kapal legendaris berhasil diciptakan putra-putra Indonesia. Namanya Spirit of Majapahit. Replika kapal abad ke-13 itu dibuat berdasar relief Candi Borobudur. Kapal kayu tersebut dilepas dalam ekspedisi perdana melintasi delapan negara.
Dermaga Marina Batavia, Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Minggu lalu sangat ramai dipenuhi orang. Mereka mengerumuni sebuah kapal kayu yang “parkir” di antara belasan kapal ikan modern yang berlalu lalang di kawasan pelabuhan tersebut.
Kapal berbobot mati 20 ton itu didesain seperti kapal nelayan tradisional. Kerangka dan bodinya dibiarkan orisinal berwarna cokelat tua tanpa cat. Kondisi itu mungkin dimaksudkan agar kapal tersebut mirip aslinya yang dibuat pada abad ke-13.
Itulah kapal Spirit of Majapahit yang hari itu akan berlayar menuju Jepang dan tujuh negara lainnya. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik yang memimpin pelepasan pelayaran perdana kapal tersebut tak berhenti berdecak kagum. Dia bersama para pejabat lalu menaiki geladak dan mengamati seluruh bagian kapal tradisional-modern itu.

“Ini merupakan masterpiece. Keberhasilan kapal ini mengarungi samudera akan menjadi momen untuk mempertegas bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut yang hebat,” ujar Jero. Spirit of Majapahit tercipta atas kerja sama antara pemerintah Indonesia dan kelompok akademisi dari Jepang. Kapal tersebut merupakan hasil rekonstruksi kapal dagang pada zaman Majapahit yang disadur dari relief di Candi Borobudur.
Rekonstruksi kapal abad ke-13 Masehi itu berawal dari rekomendasi seminar bertema Mencari Bentuk Kapal Majapahit yang diadakan komunitas Japan Majapahit Association (JPA). Kelompok pengusaha Jepang yang peduli terhadap sejarah dan kebudayaan Kerajaan Majapahit itu awalnya mencetuskan ide di Tokyo pada Maret 2009 yang dimatangkan dalam lokakarya di Jakarta pada Juni 2009.
“Komunitas JPA merupakan wadah untuk mengembangkan kerja sama penelitian dan penggalian sejarah Majapahit yang dikagumi bangsa Indonesia maupun masyarakat internasional,” terang Ketua Ekspedisi Spirit of Majapahit Yoshiyuki Yamamoto.
Dia kemudian menjelaskan proses pembuatan kapal itu kepada rombongan Menbudpar. Spirit of Majapahit benar-benar kapal buatan Indonesia karena pengerjaannya dilakukan warga lokal bernama Supardi bersama 15 perajin di Pantai Slopeng, Kecamatan Dasuk, Sumenep, Madura. Kapal itu sangat khas karena berbentuk oval dengan dua ujung lancip untuk memecah ombak setinggi lima meter.
Yamamoto menyatakan, Spirit of Majapahit bisa dibilang sebagai kapal tradisional terbesar di Indonesia. Kapal itu memiliki panjang 20 meter; lebar 4,5 meter; dan tinggi 2 meter. Untuk pembuatannya, kapal itu membutuhkan 28,63 kubik kayu jati tua dan kering yang khusus didatangkan dari Kabupaten Tuban, Jatim, dan Rembang, Jateng. Sementara itu, bambu petung dan kayu pereng berasal dari Sumenep, Madura. “Tenaga pembuatnya juga istimewa, yakni 15 perajin kapal dari Madura,” ungkapnya.
Yamamoto menambahkan, Spirit of Majapahit dibuat dengan metode yang juga tradisional karena tidak ada satu pun besi atau paku yang digunakan. Untuk menyambung bodi, perajin menggunakan model paku tradisional dari kayu (pasak).
Tapi, di sisi lain, untuk memenuhi standar navigasi di perairan internasional, tim melengkapi dengan peralatan modern. Misalnya, fasilitas navigasi seperti GPS, Nav-Tex, dan Marine Radar. “Itu untuk memudahkan kami menentukan arah dan mengurangi risiko ketika berada di laut lepas,” jelasnya.
Dalam ekspedisi perdana itu, Spirit of Majapahit dinakhodai dua perwira Angkatan Laut (AL), yakni Mayor (Laut) Eko Deni Hartono dan Risky Prayudi, serta tiga kru warga Jepang. Ada pula beberapa wakil mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu serta lima awak buah kapal (ABK) dari Suku Bajo di Pulau Sapeken, Sumenep.
“ABK lokal itu kami pilih berdasar pengalaman dan kemampuan melaut dengan kapal tradisional. Jadi, total ada 14 ABK yang ikut dalam ekspedisi ini. Tapi, di Vietnam dan Jepang, mungkin akan ada yang ikut,” tutur Yamamoto.
Detail bentuk Spirit of Majapahit memang sangat unik. Kapal itu memiliki dua kemudi dari kayu di buritan dan cadik pada kedua sisi yang berfungsi sebagai penyeimbang. Layar dipasangkan pada tiang-tiang yang membentuk segi tiga sama sisi dan buritan atau belakang kapal lebih tinggi dari haluan depan.
Ketua Tim Teknisi Spirit of Majapahit Supardi menjelaskan, tenaga pendorong kapal tetap menggunakan cara tradisional dengan layar yang mengandalkan kekuatan angin. Namun, disiapkan pula baling-baling yang digerakkan mesin sebagai penggerak cadangan. “Mesin memang tetap ada. Namun, prinsip kerjanya tetap tradisional dan kemudinya menggunakan pancer,” terang pria 52 tahun itu.
Pancer adalah kemudi tradisional yang lazim digunakan perahu nelayan. Bentuknya berupa balok yang didesain khusus dan ditempatkan di bagian belakang. Biasanya, pada perahu tradisional, pancer ditempatkan tak jauh dari baling-baling dan ditempelkan di bodi perahu.
Supardi mengungkapkan, kayu untuk pembuatan Spirit of Majapahit merupakan kayu-kayu berkualitas terbaik. Total kayu jati yang digunakan mencapai 40 kubik. Dana untuk membeli kayu sebanyak itu mencapai Rp 600 juta. Pembuatan kapal tersebut menelan dana lebih dari Rp 1 miliar.
Sementara itu, Jero Wacik menuturkan, kapal tersebut akan berlayar menuju delapan negara untuk misi kebudayaan dan lawatan perdamaian. Yakni, Brunei Darussalam, Filipina, Jepang, Vietnam, Tiongkok, Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Rencananya, kata Jero, kapal tersebut berlayar sejauh 9 ribu kilometer selama tujuh bulan sebelum kembali lagi ke Jakarta pada Januari 2011. “Setelah kembali ke Jakarta, kapal akan disimpan di museum sebagai replika benda sejarah,” terang Jero. Pelayaran itu dimaksudkan untuk mendapatkan bantuan finansial dan teknis untuk mengangkat reruntuhan Majapahit di situs Trowulan, Mojokerto. Sejumlah pelabuhan di negara-negara Asia telah dihubungi sebagai tempat pendaratan kapal.
Untuk menghormati bantuan pemerintah Jepang, di Negeri Sakura itu, Spirit of Majapahit akan melakukan tur dan menyinggahi lima kota. Yakni, Okinawa, Kagoshima, Tokyo, Osaka, dan Fukuoka, kemudian baru melanjutkan perjalanan ke Shanghai (Tiongkok), Vietnam, Bangkok (Thailand), serta Singapura.
Sebelum berlayar dari Jakarta, Jero sempat menitipkan rempah-rempah kepada tim ekspedisi untuk diserahkan ke negara-negara yang dilintasi ekspedisi itu. “Ini (rempah-rempah, Red) sebagai bukti bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berjaya pada masa lalu dan merajai samudera,” tegasnya.

Sumber: http://wihans.web.id/replika-kapal-abad-ke-13/