MEWASPADAI SEGITIGA MAJENE SULBAR

Selain akibat cuaca buruk yang ditandai dengan badai dan tingginya gelombang laut, tenggelamnya Kapal Motor (KM) Teratai Prima yang mengangkut 267 orang di Selat Makassar, Minggu (11/1), dimungkinkan juga akibat kuatnya arus di Selat Makassar. Terutama pada akhir dan awal tahun seperti bulan Januari 2009 lalu.
Arus dari Selat Makassar inilah yang kemudian bertemu dengan arus dari Laut Jawa serta Laut Flores, dan membentuk pusaran kuat di perairan yang disebut Segitiga Masalembo (Masalembo Triangle). Disebut segitiga karena kawasan perairan ini merupakan “pertigaan” laut, yaitu Laut Jawa yang mengarah dari barat ke timur dan Selat Makassar yang memotong, berarah utara-selatan, serta Laut Flores dari arah timur ke barat.

Selain KM Teratai Prima, kecelakaan lain yang pernah terjadi di wilayah Selat Makassar adalah pesawat Adam Air jurusan Surabaya-Manado pada 1 Januari 2007 (menewaskan 92 orang). Sedangkan tepat di area pusaran Segitiga Masalembo, yang pernah tenggelam di sana adalah KM Tampomas II pada 27 Januari 1981, yang menewaskan 431 orang. Baik kecelakaan KM Tampomas II, KM Teratai Prima dan Adam Air terjadi antara bulan Desember dan Januari.
Kecelakaan laut lainnya yang terjadi agak berdekatan dengan pusaran maut Segitiga Masalembo adalah tenggelamnya KM Senopati Nusantara pada 29 Desember 2006 lalu, yang menewaskan 393 orang.
Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafii Djamal mengatakan Selat Makassar, khususnya perairan Majene, memang merupakan daerah yang perlu diwaspadai.
“Pada musim cuaca buruk seperti sekarang, pelayaran lebih baik dilakukan pada siang hari,” kata Menhub Djamal seperti dikutip detikcom, Senin (12/1).
Jusman mengakui, lokasi tenggelamnya KM Teratai Prima tidak begitu jauh dari lokasi hilangnya pesawat Adam Air yang hilang pada tahun 2007.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Observasi dan Informasi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Maritim Tanjung Perak, Surabaya, Arif Triyono mengatakan bahwa pada bulan-bulan tertentu, arus dari tiga laut berbeda -Laut Jawa di barat, Selat Makassar di utara, dan Laut Flores di timur- bisa bertemu dalam satu titik di Segitiga Masalembo itu.
Pertemuan ketiga arus itu bisa menyebabkan air laut bergerak kencang dan memutar.
“Kencang dan memutarnya air tersebut karena arus dari masing-masing laut membawa arahnya sendiri-sendiri,” ujar Arif kepada Surya, Senin (12/1).

Menurut Arif, meski arusnya kencang dan memutar, pertemuan tiga arus laut tersebut tidak sampai membahayakan kapal yang lewat. Kalaupun ada pengaruhnya, hanya menyebabkan berkurangnya kecepatan karena kapal melaju melawan arus.
Tetapi kalau terjadi kecelakaan kapal di wilayah titik pertemuan arus Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores, dan kecelakaan tersebut memakan korban, Arif memastikan untuk mencari korbannya akan mengalami kesulitan. Keberadaan korban sulit diprediksi karena bisa saja tersedot.
“Biasanya, pencariannya juga butuh waktu lama,” imbuhnya.

Nahkoda kapal yang melewati ‘jalur maut’ tersebut, kata Arif, umumnya dihantui rasa was-was dan ekstra hati-hati. “Para nahkoda yang datang ke kantor (BMG Maritim, Perak, Red) untuk tanya kondisi cuaca sering cerita akan hal itu,” imbuh Arif.
Sementara itu, Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) VI, Laksamana Pertama Ignatius Dadiek Surarto mengatakan KM Teratai Prima tenggelam di perairan yang memiliki kedalaman 500 meter.
“Lokasi kecelakaan KM Teratai sekitar tiga mil dari bibir pantai Majene dan enam mil dari lokasi jatuhnya pesawat Adam Air,” kata Ignatius dalam laporannya kepada Menhub Jusman Syafii Jamal di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, Senin (12/1).
Menurut Ignatius, sampai saat ini belum satupun jenazah korban tewas ditemukan sementara korban selamat masih tetap berjumlah 23 orang, yang terdiri dari 19 penumpang dan empat Anak Buah Kapal (ABK). Total jumlah orang yang berada di atas KM Teratai Prima sebanyak 267. Dengan demikian yang masih hilang sebanyak 243 orang.
Administratur Pelabuhan (Adpel) Pare-Pare, Sulawesi Selatan, Wahidah mengatakan sebetulnya nakhoda KM Teratai Prima, Djabir, telah diingatkan akan buruknya cuaca namun dia masih tetap menjalankan kapalnya. Alasannya, selain ketika berangkat cuaca masih bagus, nakhoda beralasan dirinya sudah berpengalaman melintasi jalur pelayaran yang hendak dituju, yakni dari Pare-Pare ke Samarinda, Kalimantan Timur.
Guna memberikan pertolongan dan evakuasi, kemarin Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) telah mengirim 5 kapal perang dan satu pesawat Nomad ke lokasi tenggelamnya KM Teratai Prima. Karena ukurannya besar dan tinggi, kapal-kapal perang itu sanggup mengatasi tingginya gelombang laut.
Kelima kapal perang tersebut terdiri dari KRI Kakap yang bertolak ke lokasi dari perairan dekat Pulau Ambugi. KRI Untung Suropati yang sudah berada di Makasar dan KRI Hasan Basri yang berada di perairan dekat Kota Baru, Kalimantan Selatan. Lantas KRI Slamet Riyadi dan 1 unit kapal TNI AL (KAL) yakni KAL Samalona. Sedangkan pesawat Nomad bertolak dari Balikpapan.
Menyusul tenggelamnya KM Teratai Prima di Perairan Majene, kapal-kapal yang akan melewati perairan tersebut diminta waspada. Pasalnya hingga tiga hari ke depan, gelombang laut di wilayah perairan tersebut masih tinggi.
Pantauan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Maritim Perak, Surabaya menunjukkan, ketika KM Teratai Prima tenggelam, Minggu (11/1) pukul 04.00 Wita, ketinggian ombak di Selat Makassar antara 1,5-3,5 meter. Senin (12/1) kemarin, tinggi gelombangnnya masih berkisar 1,5-2,5 meter. Sementara tanggal 13 dan 14 Januari besok, tinggi gelombang sedikit turun antara 1,5-2 meter. Tapi pada 15 Januari naik lagi menjadi 1,5 - 2,5 meter.
“Ditambah pengaruh badai Charlotte, kondisi cuaca di perairan tersebut lebih jelek dan membuat gelombang menjadi naik. Jadi, kapal-kapal yang lewat harus waspada,” tegas staf bagian Pengolahan Data BMG Maritim Tanjung Perak, (sumber: Surya Online)