MARTABAT SIRI NA PACCE BUGIS MAKASSAR

Takunjunga’ bangung turu’, nakugunciri’ gulingku, kualleangnga tallanga natoalia.

(Layarku telah kukembangkan. Kemudiku telah kupasang. Kupilih tenggelam daripada melangkah surut)

- Syair Sinrilik Makassar
Apa yang menjadikan Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri Kerajaan Gowa pada abad XVII menguasai delapan bahasa, matematika, astronomi, pembuatan benteng dan perahu galley, persenjataan dan lain-lain?. Semangat apa yang ada di benak Sultan Hasanuddin yang habis-habisan memimpin perlawanan melawan Belanda. Lantas apa yang menggerakkan Karaeng Bonto Marannu dan Karaeng Galesong menenggelamkan kapal-kapal Belanda yang mereka temui di perairan Jawa sesaat ditandatanganinya perjanjian Bungaya yang merugikan Kerajaan Gowa?. Seorang tukang kebun di awal tahun 80an bernama Saleh membunuh majikannya, seorang bupati di daerah Sulawesi Selatan beserta istrinya karena anak gadis Saleh yang menjadi pembantu rumah tangga di rumah yang sama dihamili oleh sang bupati?. Apa persamaan weltanschauung yang menggerakkan mereka?. Jawabannya adalah Siri’ na Pacce (Siri’ dan Pacce).
A. Zainal Abidin Farid (1983 :2) membagi siri, dalam dua jenis:
1. Siri’ Nipakasiri’, yang terjadi bilamana seseorang dihina atau diperlakukan di luar batas kemanusiaan. Maka ia (atau keluarganya bila ia sendiri tidak mampu) harus menegakkanSiri’nya untuk mengembalikan Dignity yang telah dirampas sebelumnya. Jika tidak ia akan disebut mate siri (mati harkat dan martabatnya sebagai manusia). Shelly Errington (1977 : 43) :
“ Untuk orang bugis makassar, tidak ada tujuan atau alasan hidup yang lebih tinggi daripada menjaga Siri’nya, dan kalau mereka tersinggung atau dipermalukan (Nipakasiri’) mereka lebih senang mati dengan perkelahian untuk memulihkan Siri’nya dari pada hidup tanpa Siri’. Mereka terkenal dimana-mana di Indonesia dengan mudah suka berkelahi kalau merasa dipermalukan yaitu kalau diperlakukan tidak sesuai dengan derajatnya. Meninggal karenaSiri’ disebut Mate nigollai, mate nisantangngi artinya mati diberi gula dan santan atau mati secara manis dan gurih atau mati untuk sesuatu yang berguna.
Sebaliknya, hanya memarahi dengan kata-kata seorang lain, bukan karena Siri’ melainkan dengan alasan lain dianggap hina. Begitu pula lebih-lebih dianggap hina melakukan kekerasan terhadap orang lain hanya dengan alasan politik atau ekonomi, atau dengan kata lain semua alasan perkelahian selain daripadaSiri’ dianggap semacam kotoran jiwa yang dapat menghilangkan kesaktian.
Tetapi kita harus mengerti bahwa Siri’ itu tidak bersifat menentang saja tetapi juga merupakan perasaan halus dan suci… Seseorang yang tidak mendengarkan orangtuanya kurang Siri’nya. Seorang yang suka mencuri, atau yang tiodak beragama, atau tidak tahu sopan santun semua kurang Siri’nya”.
2. Siri’ Masiri’, yaitu pandangan hidup yang bermaksud untuk mempertahankan, meningkatkan atau mencapai suatu prestasi yang dilakukan dengan sekuat tenaga dan segala jerih payah demiSiri’ itu sendiri, demi Siri’ keluarga dan kelompok. Ada ungkapan bugis “Narekko sompe’ko, aja’ muancaji ana’guru, ancaji Punggawako” (Kalau kamu pergi merantau janganlah menjadi anak buah, tapi berjuanglah untuk menjadi pemimpin). Nenek moyang almarhum Tun Abdul Razak, Mantan Perdana Menteri Malaysia bernama Karaeng Haji, salah seorang putera Sultan Abdul Jalil Somba Gowa XIX yang di merantau ke Pahang dan dikenal dengan Toh Tuan, meninggalkan Gowa pada abad XVIII karena masalahSiri’, perebutan kekuasaan raja Gowa antar saudara. Ia mengalah dan meninggalkan Gowa hingga berhasil menjadi syahbandar kesultanan Pahang. Daeng Mangalle, saudara seayah Sultan Hasanuddin karena Siri’ pula pergi ke Jawa Timur. Setelah memperoleh dua orang putera dari putri bangsawan Jawa Timur, Angke’ Sapiah, Ia pergi bersama keluarga dan pengikutnya karena dicari-cari Belanda menuju Muangthai. Di kerajaan Siam, karenaSiri’nya, ia berhasil menjadi Menteri Keuangan Siam dan bergelar bangsawan tertinggi Oja Pacdi. Sayang, karena pertengkaran Raja Phra Narai dan adiknya, Karaeng Mangalle dituduh bersekongkol dengan adik raja. Dengan pengikut-pengikutnya ia berkelahi hingga titik darah penghabisan melawan kurang lebih 10.000 tentara Siam dan puluhan orang-orang Eropa. Ia gugur karena Siri’dan ‘mati diberi santan dan gula’. Dua orang putranya, masing-masing 14 dan 12 tahun berhasil diselamatkan oleh seorang Perancis dan mereka dibawa ke Paris. Di Paris, Raja Louis XIV sangat tertarik kepada anak itu dan mengambilnya menjadi anak angkat, suatu penghargaan luar biasa bagi orang asing berkulit sawo matang. Melalui pendidikan militer, Daeng Ruru, yang bernama lengkap Louis Dauphin Daeng Ruru de Macassart, dalam usia 20 tahun dilantik menjadi Kapten Kapal Bendera Angkatan Laut Perancis pada 1 Januari 1692. Adiknya, Louis Pierre Daeng Tulolo de Macassart menjadi Letnan Angkatan Darat Perancis dan pada tahun 1712 beralih menjadi Letnan Angkatan Laut Perancis, karena kakaknya gugur dalam pertempuran melawan armada Inggris di depan Havana pada tahun 1708 (Pelras, 1975 : 64-65 ; Gervaise, 1688). Kalau direnungkan kata A. Zainal Abidin Farid, Bagaimana mungkin 500 orang termasuk perempuan dan anak-anak Makassar dapat melawan lebih kurang 10.000 tentara Siam?. Bagaimana mungkin Daeng Ruru dan Daeng Tulolo dapat menjadi anak angkat Raja Louis XIV, penguasa Eropa sekaligus menjadi perwira Angkatan Laut Perancis?. Jawabnya; Karena Siri’.
Kalau anda mempelajari sejarah, maka akan anda temukan bahwa raja-raja yang ada di daerah melayu, seperti Riau, Johor, Pahang, Aceh, Samarinda, Kutai, Mempawah bahkan Jawa dan Bima mempunyai keterkaitan dengan nenek moyang mereka yang berasal dari Sulawesi Selatan.
Satu kata lagi yang sering disandingkan dengan Siri’ adalah Pacce. Secara bagus, digambarkan oleh Andaya (1979) :
…In the term of Siri’ are contained two seemingly contradictory meanings; it can means ‘shame’. But also ‘self esteem’ or ‘self respect’…
The second important element is the concept of Pacce (Makassar)/ Pesse (Bugis). In everyday usage it means ‘to smart’ and ‘poignant’, but it express a more subtle and intimate emotion than the literal meaning would suggest, as can be seen from the following Makassar and Bugis sayings :
(Makassar) : Ikambe Mangkasaraka, punna tasiri’, pacceseng nipabbulosibatangngang.
Trans : If it is not Siri’ which makes us, the Makassar People, one, then it is pacce
(Bugis) : Ia sempugikku rekkua de’na siri’na engka messa pessena.
Trans : If there is no longer siri’ among us Bugis, at least there is certain to be pesse.
…Pacce and Siri’ are twin concepts which define the Bugis-Makassar individual. Maintaining an equilibrium between shame and self respect as understood in Siri’ and nurturing a sense of sharing, commiserating in the sorrows and the sufferings of any member of one’s community as expressed in the notion of pacce, are expected of a Bugis or Makassar…The ties between them are thus reinforced and the solidarity of the group maintained.
Jadi Pacce berarti semacam kecerdasan emosional untuk turut merasakan kepedihan atau sesusahan individu lain dalam komunitas. Laica Marzuki (1995) menyebut dalam disertasinya bahwa pacce sebagai prinsip solidaritas dari individu Bugis Makassar dan menunjuk prinsip getteng, lempu, acca, warani (tegas, lurus, pintar, berani) sebagai empat ciri utama yang menentukan ada tidaknya Siri’.
Dua term ini adalah konsep tunggal yang mesti berjalan bersamaan untuk disebut sebagai manusia. Siri’ tanpa Pacce atau sebaliknya akan menjadikan semacam split personality dalam diri orang bugis makassar. Tetapi sering kita mendengar ungkapan pepatah Makassar mengatakan : Punna tena Siri’nu pa’niaki paccenu (Kalau sudah tidak memiliki Siri’ lagi, maka perlihatkan paccemu. Ini sebagai sindiran untuk orang yang harkat martabatnya jatuh dan sekaligus juga tidak turut merasa pedih atas keperihan orang lain. Pesan Karaeng Pattingalloang, Perdana Menteri Gowa sekaligus Raja Tallo (1639-1653) yang sarat nilai Siri’ dan Pacce berikut masih sangat relevan untuk kita jadikan pelajaran berbangsa dan bernegara : “Limai pammanjenganna matena butta lompoa. Uru-uruna punna teya nipakainga karaeng ma’gauka; makaruwanna punna taena tumangngasseng ilalang pa’rasangang lompo; makatallunna punna mangngalle soso’ gallarrang mabbicarayya; makaappa’na punna majai gau’ ilalang pa’rasangang malompoa; makalimanna punna tanakamaseang atanna karaeng ma’gauka” ( Ada lima sebab sehingga sebuah negeri rusak ; Pertama, kalau raja yang memerintah tidak mau diperingati; kedua, kalau tidak ada cendekiawan dalam suatu Negara besar;ketiga, kalau para hakim dan pejabat-pejabat kerajaan makan sogok; keempat, kalau terlampau banyak kejadian-kejadian besar dalam suatu Negara; kelima, kalau raja tidak menyayangi rakyatnya). Ah, Jika saja semua orang bugis makassar khususnya dan Indonesiamemegang teguh dan menjalankannya dengan penuh pride and dignity. Pertanyaannya adalah : Masihkah kita?. (dari berbabagai sumber)
baca juga DISINI