MAHASISWA JEPANG TELITI BUDAYA SIRI NA PACCE



BOLEH dibilang belum ada peneliti asing yang serius meneliti budaya siri' na pacce secara mendalam. Mahasiswa Jepang ini justru menghabiskan waktu selama dua tahun untuk menelitinya. Ia begitu takjub dengan dinamisasi masyarakat Sulsel. Laporan: Ridwan Marzuki, Makassar SOSOKNYA sederhana. Perawakannya tinggi. Ia begitu ramah dan murah senyum. Dengan fasih ia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ia bernama Go Iwata, peneliti asal Jepang yang telah menetap di Sulsel selama dua tahun untuk melakukan penelitian mengenai budaya siri' na pacce. 

Dia mampu menjawab setiap pertanyaan dengan lancar dalam tiga bahasa; Indonesia, Makassar, dan Bugis. Tetapi dibandingkan bahasa Bugis, bahasa Makassar lebih dikusasainya. 

Mahasiswa S2 di Kyoto University ini berada di Makassar untuk melakukan penelitian sejak Oktober 2008. Dia begitu tertarik dengan konsepsi siri' na pacce yang dianggapnya lahir dari sebuah masyarakat dinamis. Penelitiannya telah ia rampungkan, dan September ini ia akan kembali ke negaranya, Jepang. Untuk merampungkan tesis, katanya. 

Lokasi penelitian Iwata di daerah Galesong, Takalar. Sebelumnya, tepatnya saat masih S1 di Jurusan Kajian Indonesia Fakultas Kajian Asing, Tokyo University of Foreign Studies pada kurun waktu 2002-2006, dirinya intens mempelajari Bahasa Indonesia. 

Juga mempelajari budaya dan sejarah negeri beribu pulau ini. Terkhusus mempelajari budaya Bugis-Makassar yang terkenal sebagai perantau, banyak memiliki pahlawan, dan memiliki jiwa patriotisme tinggi. 

"Dari situ saya tertarik untuk meneliti budaya Bugis-Makassar. Saya ingin tahu apa yang melatarbelakangi sehingga Bugis-Makassar ini bersifat begitu dinamis," ungkap Iwata saat bertandang ke redaksi Fajar, Senin 20 September lalu. 

Bukan hanya mempelajari budaya Bugis-Makassar, tetapi kebudayaan Jawa juga tak urung menjadi bagian yang dipelajari dan menarik perhatiannya. Hanya saja, penelitiannya fokus pada budaya Bugis-Makassar, yaitu konseps siri' na pacce (Makassar) atau siri' na pesse (Bugis). 

Siri' na pacce, kata dia, merupakan tema umum yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sulsel, khususnya etnis Bugis-Makassar. Iwata menjelaskan, pada mulanya, siri' na pacce merupakan sesuatu yang berkaitan kawin lari. 

Yakni jika sepasang pria dan wanita kawin lari, maka mereka telah dianggap melakukan perbuatan siri' dan membawa aib bagi keluarga. Keluarga perempuan selanjutnya disebut tumasiri', yaitu orang-orang yang berhak menuntut sang pria secara hukum adat karena keluarganya dibawa kabur (kawin lari). 

Selama belum kembali melakukan perdamaian, maka selama itu pula sang pria tidak diperkenankan bertemu keluarga pihak perempuan sebagai pasangan kawin larinya. Perdamaian hanya bisa dilakukan secara adat dengan kembali membawa sang perempuan ke rumahnya yang selanjutnya disebut a'bajik. 

Jika ini belum dilakukan, maka status tumasiri' tetap melekat bagi keluarga perempuan. Namun jika a'bajik sudah dilaksanakan, maka pasangan kawin lari tadi secara hukum adat sudah terlindungi. Siapa saja yang mengganggunya akan dicap sebagai pelanggar adat dan dikenakan hukum adat. 

"Inti budaya siri' na pacce itu bukan cuma berkaitan pernikahan. Tapi, mencakup seluruh aspek kehidupan orang Bugis-Makassar. Karena, siri' na pacce itu merupakan jati diri bagi orang Bugis-Makassar," ucap pria kelahiran Jepang, 21 September 1983 ini. 

Siri' na pacce, imbuhnya, juga berfungsi mencipatakan hubungan harmonis serta melahirkan kerukunan antar sesama, baik dalam relasi antar-individu, kelompok, maupun kemasyarakatan. Konsep itu, kata lelaki bujang ini, berkaitan erat dengan saling menghargai atau sipakatau atau sipakalabbiri (Makassar). Intinya, kata dia, budaya siri' na pacce mengarahkan manusia untuk saling menghargai dan menghormati harga diri masing-masing, serta saling mengasihi dan menyayangi. 

Dan itu, imbuhnya, sampai kini tidak mengalami pergeseran berarti, kecuali pada wilayah ekspresif atau simbol. Dalam Bahasa Indonesia, siri' biasa diterjemahkan dengan malu, harga diri, kehormatan. Tapi menurut Iwata, semua itu tidak pas mewakili makna siri' yang sebenarnya. 

"Sering saya dengar orang terutama di media-media mengatakan bahwa budaya siri' na acce itu telah pudar. Tetapi menurut saya, keberadaan wacana seperti itu membuktikan bahwa perhatian terhadap budaya ini masih sangat tinggi. Mengapa? Karena orang di sini sendiri menganggap budaya ini sebagai suatu konsep yang begitu tinggi, yakni suatu nilai budaya yang sangat penting," urainya. 

Menurut Iwata, ada kemiripan budaya malu antara orang Jepang dan Bugis-Makassar. Orang Jepang, katanya, selalu memperhatikan pandangan orang lain terhadap dirinya sementara orang Sulsel (Makassar), kehormatan atau harkat keluarga begitu dijunjung. Rasa persaudaraan orang Sulsel juga dinilainya sangat tinggi. 

Sebagai contoh, ungkapnya, tidak seorang pun yang menolak kehadirannya di Galesong selama hampir dua tahun. Dia bahkan sangat terkesan dengan sikap Camat Galesong yang ditinggalinya selama melakukan penelitian. 

"Saya mengerti keadaan kamu karena saya juga pernah kuliah di Jawa, yakni di Universitas Gajah Mada," ujar Iwata menirukan perkataan Camat Galesong, saat menolak pembayaran sewa rumahnya. 

Begitu berkesannya Sulsel baginya, sehingga suatu saat ia berharap dapat kembali ke Indonesia mengunjungi orang Makassar. Ia malah menganggap Sulsel sebagai kampung halaman keduanya. Oleh karena itu, kepulangannya ke Jepang dianggapnya bukan sebuah perpisahan, melainkan langkah atau jenjang untuk melanjutkan hubungan yang lebih erat dan lebih dalam lagi. 

"Jadi itu juga wujudnya persaudaraan orang Sulawesi Selatan ini. Sekali kenal baik, maka ikatan persaudaraannya akan sangat kuat. Makanya saya harus kembali lagi ke sini, atau orang sini yang ke Jepang. Pappala' doangngang mamaka," ucapnya dalam Bahasa Makassar yang berarti minta didoakan. (sumber:Harian Fajar)
Baca Juga