KORBAN MERAPI DIMAKAMKAN MASSAL


Ribuan pelayat menghadiri pemakaman Mbah Maridjan. Pada saat bersamaan, Kamis (28/10), di lokasi berbeda, 20 korban erupsi Merapi, warga Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, dimakamkan secara massal.
Juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan, dimakamkan di pemakaman Dusun Srunen, Glagaharjo, Cangkringan, Kamis. Ia dimakamkan bersamaan dengan adik ipar dan dua kerabatnya yang menjadi korban letusan Gunung Merapi.
Bupati Sleman Sri Purnomo; putri Presiden Soeharto, Siti Hutami Endang Adiningsih; dan putri Presiden Abdurrahman Wahid, Alissa Wahid; termasuk yang menghadiri pemakaman.
Sebelum pemakaman, putri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Pembayun, melayat ke rumah duka bersama adik Sultan, GBPH Prabu Kusumo. Keraton Yogyakarta berduka atas kepergian Mbah Maridjan. Sultan belum menunjuk pengganti Mbah Maridjan yang akan bertugas sebagai juru kunci Merapi.
Alissa dalam kesempatan tersebut berpendapat, kesederhanaan dan kesetiaan Mbah Maridjan dalam menjalankan tugasnya perlu diteladani. Almarhum Presiden Abdurrahman Wahid mengenal dekat Mbah Maridjan karena visinya sejalan dalam mengedepankan kemaslahatan masyarakat.
Adik Mbah Maridjan, Wignyo Suprapto, menambahkan, Mbah Maridjan jujur dan apa adanya.
Di lahan kas Desa Umbulharjo yang berada di dekat tempat pemakaman umum Dusun Tangkis, Umbulharjo, 20 jenazah korban letusan Merapi dimakamkan berjajar dalam satu kuburan massal. Sebagian besar korban adalah warga Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo.
Lima dari 20 korban itu adalah keluarga Sunarti (45), abdi dalem (Keraton Yogyakarta) yang ditemukan tewas di reruntuhan rumahnya. Selama ini ia termasuk orang yang sering membantu Mbah Maridjan dalam upacara labuhan Merapi.
Sunarti tewas bersama empat anggota keluarganya, yaitu suaminya, Samidi (46); anaknya, Wiyono; menantunya, Eny Sulistyo E; dan cucunya, Rosita (40 hari).
Sukiyan (52), kakak Samidi, mengatakan, rumah Samidi dan Sunarti merupakan rumah paling tinggi di Dusun Kinahrejo yang terletak beberapa ratus meter dari rumah Mbah Maridjan. Keluarga ini terlambat dievakuasi dan terjebak material vulkanik dan awan panas.
Menurut Sukiyan, sebelum erupsi terjadi, keluarga Sunarti sebenarnya telah diimbau mengungsi. Namun, mereka menolak. ”Mereka yakin erupsi tidak akan berakibat buruk karena biasanya juga baik-baik saja,” katanya.
Bupati Sleman menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia berharap bencana jadi pelajaran bagi semua pihak.
Relokasi
Erupsi Merapi Selasa lalu menyebabkan warga empat dusun di Cangkringan tidak lagi memiliki rumah dan harta benda. Ketika terburu-buru mengungsi, mereka hanya membawa baju yang melekat di badan. Mereka mengharapkan pemerintah menyediakan lahan untuk relokasi.
”Begitu sirene tanda bahaya berbunyi, kami segera berlari sehingga tidak sempat membawa baju ganti,” kata Warno, warga Cangkringan.(sumber: kompas)