KERONCONG TUGU WARISAN PORTUGIS

keroncongtugu
Siapa sangka musik Keroncong yang kita kenal ternyata bukan musik asli Indonesia. Melainkan kesenian peninggalan masa penjajahan bangsa Portugis.
Dalam perkembangannya, sejumlah unsur tradisional asli Nusantara, seperti penggunaan seruling dan beberapa komponen gamelan membuat keroncong menjadi khas Nusantara.
Dahulu, dalam sejarahnya, keroncong pertama kali dikenalkan oleh para pelaut asal Portugis di abad ke-16. Keroncong itu merupakan sejenis musik yang dikenal dengan sebutan fado oleh bangsa Portugis.

Kini, di Indonesia ada beberapa jenis musik keroncong, salah satunya adalah Keroncong Tugu. Jika Anda orang asli Jakarta, pasti Anda tidak asing lagi dengan nama tersebut.
Mungkin tidak ada perbedaan yang signifikan antara musik keroncong Tugu dengan keroncong lainnya, dan mungkin hanya kekhasannya saja yang menjadi perbedaannya.
Jika kita berbicara Keroncong tugu, rasa tidak lengkap kalau tidak membahas kampung Tugunya. Kampung Tugu yang diyakini sebagai kampung tertua di Jakarta ini terletak di sisi Timur Kota Jakarta, yakni Jalan Cakung Cilincing, Jakarta Utara.
Ceritanya, di Kampung Tugu ini bermukimnya orang-orang keturunan bangsa Portugis (Betawi). Di sinilah kesenian Keroncong (khususnya Tugu) bermula.
Tahu kah Anda mengapa kampung ini disebut Kampung Tugu? Karena dahulunya tempat ini telah ditemukan prasasti peninggalan Raja Purnawarman (Kerajaan Tarumanegara) yang seperti Tugu.
Namun menurut versi yang lain, asal muasal kata 'Tugu' berasal dari penggalan kata Portugis, yaitu Por-tugu-ese, sebutan untuk orang Portugis yang menempati kampung Tugu.
Pada zaman penjajahan Belanda, keroncong sangat digemari dan menjadi primadona. Hingga akhirnya, musik dari Kampung Tugu ini menghipnotis para Noni Belanda. Keroncong Tugu juga diberikan penghormatan untuk mengisi acara-acara pesta bangsa Belanda pada saat itu.
Bahkan sebuah Gereja pertama di Kampung Tugu yang dibangun tahun 1678, selalu diiringi musik keroncong dalam setiap acara ritual Gereja. Dan ritual tersebut tetap berlangsung hingga saat ini.
Keroncong pun kemudian terus berkembang, dan melahirkan musik keroncong lainnya di berbagai daerah terutama di Jawa. Lagu-lagu Keroncong Tugu yang terkenal adalah 'mauresco' dan 'cafrinyo'.
Kini, musik keroncong tak sepopuler dahulu dan bahkan mulai redup. Hal tersebut sejak masuknya gelombang musik rock yang berkembang tahun 1950.
Meski demikian, musik keroncong masih memiliki ruang di hati para penggemarnya. Dengan tetap memainkan dan menikmatinya.
Selanjutnya apakah musik keroncong, khususnya keroncong Tugu, akan bertahan dengan maraknya musik modern? Semua ini kembali lagi kepada kita generasi muda untuk menjaga dan melestarikannya.(ant/waa)