GUSDUR MENGHINA AL-QUR'AN

masih ingat dulu, waktu orang-orang hebobh mencaci gusdur? apa yach sebabnya... gusdur cuman berkata, dan segera kita simak sebagai berikut.
Ucapan Gus Dur sebagai berikut: 
. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Alqur’an, ha-ha-ha… 
. Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu… (Gus Dur membandingkan bahwa Injil lebih baik dari Al-Qur’an – penyunting). 
Ingat sikap Gus Dur yang ini: 
1. Mencabut Tap MPRS XXV/1966 tentang larangan komunisme. 
2. Mengecam aktifitas Laskar Jihad pimpinan Jafar Umar Thalib. 
3. Usul tentang ucapan “Assalamu’alaikum” harus diganti dengan “selamat pagi/siang/malam”. 
4. Fitnah kepada Mayjen Kivlan Zein pada kerusuhan Ambon 1999, yang saat itu beliau berjuang mati-matian menyelamatkan warga muslim dari pembantaian oleh laskar merah (kristen) sebelum Laskar Jihad dikirim ke sana, Gus Dur bilang “Kapten K (maksudnya Kivlan Zein) adalah provokator dan umat Islamlah yang bikin gara-gara!”. 10 tahun umat Islam di-anak-emas-kan pemerintah Soeharto, itulah yang menyebabkan potensi konflik, kata Gus Dur. 
5. Dia menyebut pelarangan oleh FPI dan MUI Bandung terhadap aktifitas kristenisasi melalui rumah-rumah warga kristen, bahwa pelarangan tersebut adalah perbuatan melawan kebebasan. 
6. Dia bilang fatwa MUI yang melarang Ahmadiyah adalah tolol dan harus ditolak. 
7. Dia menolak SKB Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No . 01/BER/mdn-mag/1969 tentang rumah ibadah (maksud Gus Dur pasti supaya orang kristen bebas mendirikan gereja). 
8. Dia ngotot Indonesia menjalin hubungan dengan Israel (wawancara dengan Munawar Chloil dari majalah FORUM). 
9. Usul bahwa korban tsunami Aceh sebaiknya dibakar saja daripada bikin repot. 
Dan masih banyak lagi sikap dia yang cenderung kepada kepentingan non-muslim. 

Oleh Hartono Ahmad Jaiz 
BAGAIMANA kalau seorang Muslim mengatakan bahwa Al-Qur’an itu kitab suci yang paling porno di dunia? Perkataan itulah yang dilontarkan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) mantan Presiden RI dan mantan Ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) ketika diwawancarai JIL (Jaringan Islam Liberal) dan dimuat di situs JIL, islamlib.com 10/4 2006. Pertanyaan JIL dan jawaban Gus Dur yang menghina Islam itu sebagai berikut: 

JIL: Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno? 
Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Alqur’an, ha-ha-ha.. (tertawa terkekeh-kekeh). (situs JIL, islamlib.com 10/4 2006). 

Itulah ungkapan Gus Dur yang sudah sangat luar biasa dalam menghina kitab suci Al-Qur’anul Kariem, wahyu Allah swt, yang dijamin langsung oleh Allah swt untuk menjaganya. Namun manusia yang satu ini berani menghina ayat-ayat suci itu hanya karena membela goyang Inul, kepornoan dan semacamnya. 
Membela goyang Inul, menghina Al-Qur’an 
Persoalan ini berkaitan dengan adanya RUU APP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) yang dalam proses untuk kemudian direncanakan untuk disahkan sebagai Undang-undang, Juni 2006. Gus Dur dan sebagian kecil manusia-manusia yang mendukung kepornoan berusaha mati-matian untuk menolak RUU APP itu. Gus Dur yang dianggap sebagai orang di barisan depan berteriak sekencang-kencangnya sampai melebihi batas, yaitu menghina Al-Qur’anul Kariem.

Apakah Gus Dur cukup mudah untuk diingatkan agar tidak membela Inul dan semacamnya, hingga dia rela untuk adanya undang-undang yang mengakibatkan orang model Inul bisa dilarang goyang ngebor? Tidak. Justru seandainya ada terlintas di benak Gus Dur untuk rujuk kepada kebenaran, dalam hal ini anti porno, tentu saja binaan Gus Dur yang sekarang sudah mrajak (tumbuh subur) jadi pentolan-pentolan faham sesat liberal, sama sekali tidak rela. Maka tidak buang waktu lagi, pentolan JIL alumni Mesir pun bertandang bersama temannya untuk sowan ke Gus Dur dan mewawancarainya. 

Karena yang anti pornografi itu adalah kaum Muslimin yang masih mengikuti Al-Qur’an, menghargai, menjunjung tinggi, membacanya, mengamalkannya, dan mengharapkan ridho Allah swt dengan berpedoman kepada Al-Qur’an; maka Gus Dur pun tahu bahwa puncak yang jadi pegangan umat Islam itulah yang harus dihancurkan martabatnya di hadapan umat Islam. Agar umat Islam tidak menghormati Al-Qur’an lagi, tak menjadikannya lagi sebagai pedoman yang amat berharga. Gus Dur berani membanting Al-Qur’an jauh lebih rendah dari pantat Inul yang digoyang-goyangkan namun oleh Gus Dur dia bela bahwa itu bukan porno. Sedang Al-Qur’an, Firman Allah swt, oleh Gus Dur dia katakan kitab suci paling porno di dunia. 

Wawancara Gus Dur 
Petikan sebagian wawancara Gus Dur di situs JIL islamlib.com berjudul Jangan Bikin Aturan Berdasarkan Islam Saja! sebagai berikut: 
JIL: Bagaimana dengan barang dan tayangan erotis yang kini dianggap sudah akrab dalam masyarakat kita? 

Erotisme merupakan sesuatu yang selalu mendampingi manusia, dari dulu hingga sekarang. Untuk mewaspadai dampak dari erotisme itu dibuatlah pandangan tentang moral. Dan moralitas berganti dari waktu ke waktu. Dulu pada zaman ibu saya, perempuan yang pakai rok pendek itu dianggap cabul. Perempuan mesti pakai kain sarung panjang yang menutupi hingga matakaki. Sekarang standar moralitas memang sudah berubah. Memakai rok pendek bukan cabul lagi. Oleh karena itu, kalau kita mau menerapkan suatu ukuran atau standar untuk semua, itu sudah merupakan pemaksaan. Sikap ini harus ditolak. Sebab, ukuran satu pihak bisa tidak cocok untuk pihak yang lain. Contoh lain adalah tradisi tari perut di Mesir yang tentu saja perutnya terbuka lebar dan bahkan kelihatan puser. Mungkin bagi sebagian orang, tari perut itu cabul. Tapi di Mesir, itu adalah tarian rakyat; tidak ada sangkut-pautnya dengan kecabulan. 

JIL: Jadi erotisme itu tidak mesti cabul, Gus? 

Iya, tidak bisa. Anda tahu, kitab Rawdlatul Mu‘aththar (The Perfumed Garden, Kebun Wewangian) itu merupakan kitab bahasa Arab yang isinya tatacara bersetubuh dengan 189 gaya, ha-ha-ha.. Kalau gitu, kitab itu cabul, dong? ha-ha-ha. Kemudian juga ada kitab Kamasutra. Masak semua kitab-kitab itu dibilang cabul? Kadang-kadang saya geli, mengapa kiai-kiai kita, kalau dengerin lagu-lagu Ummi Kultsum—penyanyi legendaris Mesir—bisa sambil teriak-teriak ‘Allah’ Allah· Padahal isi lagunya kadang ngajak orang minum arak, ha-ha-ha.. Sangat saya sayangkan, kita mudah sekali menuding dan memberi cap sana-sini; kitab ini cabul dan tidak sesuai dengan Islam serta tidak boleh dibaca. Saya mau cerita. Dulu saya pernah ribut di Dewan Pustaka dan Bahasa di Kuala Lumpur Malaysia. Waktu itu saya diundang Prof. Husein Al-Attas untuk membicarakan tema Sastra Islam dan Pornografi. Nah, saya ributnya dengan Siddik Baba. Dia sekarang menjadi pembantu rektor di Universitas Islam Internasional Malaysia. Menurut dia, yang disebut karya sastra Islam itu harus sesuai dengan syariat dan etika Islam. Karya-karya yang menurutnya cabul bukanlah karya sastra Islam. Saya tidak setuju dengan pendapat itu. Kemudian saya mengulas novel sastrawan Mesir, Naguib Mahfouz, berjudul Zuqaq Midaq (Lorong Midaq), yang mengisahkah pola kehidupan di gang-gang sempit di Mesir. Tokoh sentralnya adalah seorang pelacur. Dan pelacur yang beragama Islam itu bisa dibaca pergulatan batinnya dari novel itu. Apakah buku itu tidak bisa disebut sebuah karya Islam hanya karena ia menceritakan kehidupan seorang pelacur? Ia jelas produk seorang sastrawan brilian yang beragama Islam. Aneh kalau novel itu tidak diakui sebagai sastra Islam. 

JIL: Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno? 

Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Alqur’an, ha-ha-ha.. (tertawa terkekeh-kekeh). 

JIL: Maksudnya? 

Loh, jelas kelihatan sekali. Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha. (islamlib.com, Jangan Bikin Aturan Berdasarkan Islam Saja! 10/04/2006). 

Plintat-plintut dan sangat menghina Al-Qur’an 

Astaghfirullah… Coba kita analisis sejenak. Bagaimana cara berfikir Gus Dur ini tidak plintat-plintut? 
1. Tari perut di Mesir yang Gus Dur sendiri mengatakan perut penarinya terbuka lebar bahkan kelihatan pusernya (udelnya), dia sebut bukan cabul. 
2. Novel pelacuran (?) tulisan Naquib Mahfouz yang tokoh sentralnya adalah seorang pelacur, lalu oleh Gus Dur diangkat tinggi-tinggi sebagai produk seorang sastrawan brilian. 
3. Lantas, astaghfirullah, Al-Qur’an, firman Allah swt, oleh Gus Dur dikatakan, ‘menurut saya, Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Alqur’an, ha-ha-ha..’ (tertawa terkekeh-kekeh). 
4. Hanya karena ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut, lalu Al-Qur’an itu oleh Gus Dur dilecehkan serendah-rendahnya, dengan ucapan: ‘Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha.” 

Perlu pisau analisis khusus 

Untuk menganalisis ungkapan-ungkapan Gus Dur itu perlu pisau analisis khusus, pakai paradigma (bentuk analisis) musuh Allah dan musuh manusia beriman. Siapa mereka, yaitu syetan. Di dalam Al-Qur’an ditegaskan: 

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِي ءَادَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(60)وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ(61)وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ(62)هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ(63)اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ(64) 

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, 
dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya) . Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. (QS Yaasiin/ 36: 60, 61, 62, 63, 64). 

Syetan itu musuh yang nyata bagi Bani Adam (manusia), maka mesti diperlakukan sebagai musuh. Yang disembah dan aturannya diikuti adalah Allah swt yang telah menurunkan wahyu Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw yang dibawa dan dibacakan oleh Malikat Jibril as. Lalu Nabi Muhammad saw telah menyampaikannya kepada para manusia. Ketika mentaati apa-apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw dengan beramal shalih/ baik, ikhlas karena Allah swt, maka akan dimasukkan ke surga kelak di akherat. Sebaliknya, yang mengikuti syetan, dan inkar kepada apa-apa (wahyu) yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw maka diancam masuk neraka. 

Orang yang taat dan mengikuti aturan Allah swt yang dibawa Nabi Muhammad saw maka pandangannya, cara berfikirnya, sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi Muhammad saw, dan bertentangan dengan syetan. Karena syetan adalah musuh Allah swt dan telah dilaknat. Sebaliknya, orang yang ingkar terhadap aturan Allah swt yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw maka otomatis pandangannya, cara berfikirnya sesuai dengan syetan. Itu sudah aksiomatis. 

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ(257) 

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah/ 2: 257). 

Perintah Allah swt kalau disanggah atau bahkan dilecehkan, maka tidak mungkin penyanggahan dan pelecehan itu tidak didukung syetan. Tidak mungkin bertentangan dengan program syetan. Artinya, segala yang diperintahkan Allah swt mesti dipandang buruk oleh syetan, lalu mereka halangi sekuat tenaga. Sebaliknya, segala yang dilarang Allah swt mesti dianjurkan oleh syetan, dipandang baik oleh syetan, mesti didukung oleh syetan. Sehingga, cara pandang, cara berfikir model syetan adalah berbalikan dengan aturan-aturan dalam wahyu yang diturunkan oleh Allah swt. Kalau Allah swt menyuruh menutup aurat, maka syetan berupaya keras menghalangi manusia dari menutupnya, menghalangi adanya aturan yang ditegakkan untuk menutup aurat, sebaliknya mereka mempertahankan ‘ketelanjangan’, dengan aneka dalih, misalnya seni, adat daerah, dan sebagainya. 
Analisis Pelecehan Gus Dur terhadap Al-Qur’an 

Setelah kita tahu paradigma model syetan dan juga cara berfikir atau cara pandangnya, maka coba kita analisis, sejauh mana pelecehan Gus Dur terhadap Al-Qur’an, Firman Allah Swt. 

Sebenarnya, ocehan Gus Dur itu secara konsistensi ucapan, sudah haqqul yakin plintat-plintut. Namun di samping plintat-plintutnya yang sudah menunjukkan karakter yang sangat buruk bagi seorang manusia, masih pula diperburuk lagi dengan ungkapan yang sangat tinggi pelecehannya, penghinaannya terhadap Al-Qur’an, firman Allah swt. 

Analisis berikut ini mungkin bisa sedikit memperjelas buruknya cara berfikir dan sinisnya serta penghinaannya terhadap Islam. 

Cara berfikir model syetan iblis tentu saja goyang ngebor Inul itu tidak boleh dihalangi. Karena hanya temannya yang memainkan seperti orang bersanggama – kata Gus Dur-- (di depan umum), sedang Inulnya kan tidak. Jadi siapapun tidak berwenang untuk menghalanginya, karena goyang ngebor Inul itu tidak melanggar undang-undang. Lha kok sekarang mau dibuat undang-undang, ya harus disikat habis itu rencana membuat undang-undang yang akan menghalangi goyang ngebornya Inul itu. Jalan yang Gus Dur tempuh (dan tentu saja Gus lainnya seperti Gus Mus –Mustafa Bisri, mertua Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL—dan kroco-kroconya dengan andil sekemampuan masing- masing): 

Membela goyang Inul sebagai pembelaan terhadap segala bentuk kepornoan dan kemaksiatan serta kemunkaran. Pembelaan itu dengan: 

1. Menganggap bahwa aksi goyang dengan aneka rangkaiannya itu bukan maksiat, bukan pelanggaran apapun. Jadi harus dibela. Ini sudah merupakan pelaksanaan pekerjaan syetan, yaitu membalik perkara, sesuatu yang munkar (buruk) dibalik menjadi ma’ruf (baik) hingga harus dibela. Padahal, menurut Islam, goyang ngebor Inul itu jelas-jelas diancam adzab di neraka. Nabi Muhammad saw bersabda: 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : { صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا بَعْدُ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَّاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ عَلَى رُءُوسِهِنَّ أَمْثَالُ أَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ , لَا يَرَيْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا , وَرِجَالٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ } . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَمُسْلِمٌ) 

Hadits dari Abi Hurairah ia berkata: Rasulullah saw bersabda: ‘Ada dua golongan dari penghuni neraka yang belum pernah saya lihat keduanya yaitu: (1) Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi (seperti) telanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain kepada perbuatan maksiat, rambutnya seperti punuk onta yang condong. Mereka ini tidak akan bisa masuk surga, dan tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan demikian dan demikian. (2) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai untuk memukul orang (pertanda kejam). (HR Ahmad dan Muslim, bab libas/ pakaian). 

Imam As-Syaukani dalam Kitab Nailul Author, juz 2, hadits no 590, mengutip penjelasan Imam An-Nawawi lalu menyimpulkan, hadits itu membawa (Imam An-Nawawi) pensyarah kitab Shahih Muslim untuk berdalil atas larangan pakaian wanita yang menyifatkan badannya (ketat membentuk lekuk-lekuk/ bentuk tubuh tampak, atau tipis tembus pandang, pen). Itulah salah satu tafsirannya. Dan juga pemberitahuan bahwa orang yang mengerjakan hal itu termasuk penghuni neraka, dia tidak mendapatkan bau surga, padahal bau surga itu didapat dari jarak perjalanan lima ratus tahun. Itulah ancaman yang sangat, menunjukkan atas haramnya perbuatan yang tercakup dalam hadits itu yaitu sifat dari dua macam manusia tersebut 

Setelah Gus Dur dkk menghapus citra munkar yang ancamannya saja neraka, tidak mendapatkan bau surga sama sekali, padahal jarak bau surga itu sejauh 500 tahun; lalu Gus Dur dkk berupaya: 

2. Mencabut hak dan wewenang mencegah kemunkaran yang diberikan oleh Allah lewat Nabi Muhammad saw kepada hamba-hambanya yang beriman. Dengan lancangnya Gus Dur berprinsip:_ menurut orang nomor satu di PKB itu (yaitu Gus Dur), tidak ada seorang pun yang berhak melarang orang berekspresi selama tidak bertentangan dengan undang-undang. Meski demikian, Gus Dur sepakat, bahwa sudah saatnya menjaga moral bangsa dan menghapus hal-hal yang bersifat erotis dalam berkesenian maupun hiburan. Dia sendiri tetap mempersilakan Inul untuk berekspresi selama itu tidak melanggar konstitusi. Ketika ditanya wartawan, apakah Inul boleh ngebor lagi? Gus Dur menjawab, ‘silakan saja. Saya melihatnya dari sudut legal (hukum). Selama Mahkamah Agung (MA) diam, saya juga diam.’ Demikian pula saat ditanya, apakah Inul mempertontonkan erotisme, Gus Dur mengatakan, ‘Secara grup, iya. Tapi secara orang (pribadi) belum tentu. Sebagai grup saya sudah mengimbau kepada Inul bahwa rombongan penari ada yang melakukan gerak-gerak seolah sedang bersenggama.’ (KOMPAS Cyber Media - Gaya Hidup, Jumat, 02 Mei 2003, 23:20 WIB, Gus Dur: Tak Melanggar UU, Inul Tetap Boleh Ngebor_! Laporan : Eko Hendrawan Sofyan). 

Gus Dur mencabut hak dan wewenang yang diberikan oleh Allah swt lewat Nabi Muhammad saw untuk memberantas kemunkaran, mencegahnya, atau mengubahnya semampu orang mukmin. Ekspresi goyang Inul dengan pakaian sangat ketat, mempertontonkan goyang bokong dengan ngebor itu jelas munkar, bahkan dalam hadits di atas, ancamannya sangat berat, neraka, bahkan mendapatkan bau surga saja tidak. Tetapi oleh Gus Dur dibela, bahkan tidak boleh ada orang yang melarangnya. Ini Gus Dur telah melangkahi Allah swt yang telah memberikan hak dan wewenang kepada mukminin untuk melarangnya, lewat sabda Nabi-Nya saw: 

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ 

Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran, maka dia hendaklah mencegah kemunkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah dicegah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah dicegah dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman. (HR Al-Bukhari dan Muslim). 

Apa hak dan wewenang Gus Dur untuk membredel hak dan wewenang yang telah diberikan oleh Allah swt lewat Nabi-Nya kepada kaum Mukminin itu? Seandainya benar-benar Gus Dur dkk itu sebagai orang yang memang patuh dan taat kepada undang-undang, misalnya, kemungkinan justru mendukung rancangan undang-undang yang akan mencegah kemunkaran. Tetapi, karena ketaatannya justru kepada kemunkaran itu, maka kenyataannya yang dibela mati-matian ya yang satu itu. 

3. Di samping mencabut hak dan wewenang untuk memberantas kemunkaran, masih pula Gus Dur mempersilakan kemunkaran untuk jalan terus. Dia sendiri tetap mempersilakan Inul untuk berekspresi selama itu tidak melanggar konstitusi. Mempersilakan Inul untuk bergoyang ngebor dengan pakaian ketat, yang menurut hadits tersebut jelas merupakan kemaksiatan yang diharmakan, bahkan ancamannya neraka, dan tak mendapatkan bau surga; itu melawan aturan Allah swt yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Mempersilakan orang untuk bermaksiat, itu mandat dari siapa? Siapa yang memberi hak dan wewenang kepada Gus Dur untuk mempersilakan Inul dan lainnya untuk meneruskan tingkah polahnya yang ternyata jelas maksiat itu? Kalau tidak ada, dan itu inisiatip Gus Dur sendiri, berarti dia sudah mengangkat dirinya sebagai musuh Allah swt dan musuh Rasul-Nya, yang otomatis musuh orang-orang yang beriman. Karena Allah memberi wewenang untuk mencegah kemaksiatan, tetapi Gus Dur mempersilakan maksiat itu jalan terus. Dan bukan sekadar mempersilakan maksiat itu jalan terus, tetapi melindunginya, membela mati-matian, dan berupaya keras untuk menepis apa saja yang akan mengganyang kemaksiatan itu. Betapa tingginya ‘perjuangan’ Gus Dur dan konco-konconya ini dalam membela kemaksiatan. Allah swt Yang Maha Mengetahui menjelaskan adanya karakter orang yang memang menyuruh kemunkaran dan mencegah kebaikan: 

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(67) 

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma‘ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (QS At-taubah/ 9: 67). 

Karena perbuatan mereka seburuk itu, maka Allah swt mengancamnya dengan siksa di nereka paling bawah: 

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا(145) 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS An-Nisaa’/ 4: 145).