G 30 S

Syahdan, tatkala para datuk petinggi negeri dan datuk-datuk serta ksatria lainnya telah dipenggal kepalanya dan disingkirkan, maka berpikirlah sang hulubalang raja, selagi orang-orang masih sedang merenungi apa yang telah terjadi, dan sementara para datuk istana tak siaga dan tak kuasai jabatan, dan ketika tidak satu orang pun tahu apa yang harus dipikirkan dan siapa yang bisa dipercaya, sebelum mereka sempat berbantah, mencerna soal, dan menata ulang gugus-gugus sekutu mereka: yang terbaik baginya adalah bergerak secepat mungkin dan merebut tampuk kekuasaan sendiri. Tapi kemudian muncul soal pelik baginya, bagaimana ia harus sampaikan kisah tentang suatu peristiwa yang demikian mengerikan sehingga orang akan memafhumi kisah itu. Thomas More, The History of Richard III (1513)


Jenderal Suharto pada relief di Lobang Buaya
Ahli teori sastra Tzvetan Todorov berpendapat bahwa karya fiksi detektif menggabungkan dua bentuk gaya cerita yang berbeda: “kisah tentang penyelidikan” (bagaimana sang detektif menjadi tahu apa yang telah terjadi) dan “kisah tentang kejahatan” (apa yang sebenarnya telah terjadi). Pola umum sebuah novel detektif, seperti dicatat Slavoj Žižek, ialah mengikuti sang detektif dalam perjalanan penyelidikannya, dan kemudian menyimpulkannya dengan rekonstruksi tentang kejahatan tersebut. Maka buku ini berakhir “bukan ketika kita memperoleh jawaban tentang ‘Siapa yang melakukan kejahatan?’ tapi ketika sang detektif akhirnya mampu mengisahkan ‘kisah yang sebenarnya’ dalam bentuk narasi linier.” Setiap bab dari empat bab terdahulu (bab 3 sampai bab 6) terpusat pada keping bukti atau jenis bukti tertentu. Bab-bab ini berkembang mengikuti logika penyelidikan seorang detektif, bukan menuruti kronologi cerita dari si juru kisah; masing-masing mengajukan penyelesaian untuk satu bagian teka-teki sesudah memeriksa sejumlah bukti yang terbatas. Namun demikian, apa yang terdapat di dalam bab ini hendaknya tidak dipandang sebagai “kisah yang sebenarnya.” (sumber: Blog Johnrosa)