WAWANCARA SBY TAHUN 2006

Istana Cipanas, Jawa Barat, Minggu, 13 Agustus 2006

Wawancara Presiden Oleh Media Nusantara Citra

WAWANCARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN MEDIA NUSANTARA CITRA 
ISTANA CIPANAS, 13 AGUSTUS 2006
Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh


Arief Suditomo
Bagaimana merancang kondisi yang rawan bencana, seperti Jepang yang rawan potensi gempa.

Presiden Republik Indonesia
Itulah satu tahun terakhir saya berkampanye untuk itu. Sebagian sudah mulai memahami itu, sebagian dilarikan ke tahayul, sebagian aneh-aneh. Tapi ya mungkin penjelasan berkali-kali kita, tentang itu, sudah mulai pelan-pelan masuk. Tetapi diatas segalanya not only we are educated untuk itu, bukan pemerintah daerah, membangun early warning local, kentongan, sirine, membangun tempat-tempat pelarian segala macam. Memang instrumen kita harus kita tingkatkan, mahal, teknologinya juga tidak semua kita miliki. Saya ingin mempercepat tahun 2009-2008, kalau bisa lebih cepat lagi, kelengkapan. 

Nah instrumen kita baru bisa mendeteksi dimana gempa itu, dimana (where), kemudian yang kedua berapa skala Richter-nya. Nah untuk tsunami ada satu lagi dislokasinya apakah horisontal atau vertikal, kalau sudah vertikal tsunami hampir pasti terjadi, horizontal hampir pasti tidak terjadi tsunami. Yang itu yang ingin kita bangun kelak itu tiga-tiganya itu relatively bisa kita hindari. Tetapi saya tidak ambil resiko, begitu dan terjadi katakan bahwa potensi tsunami terjadi, within five minute the rest, lima menit, keenam sampai menit keduapuluh golden period seolah diam. Ketika Bupatinya cekatan, rakyatnya mengerti melakukan, jiwanya akan selamat. Ya tentu kalau rumahnya pinggir pantai, tsunami datang rumahnya habis, tapi jiwanya selamat. 

Arief Suditomo
Pak Presiden, kita di bulan-bulan bersejarah. Semua Istana Presiden itu, banyak sekali sejarahnya, di Cipanas ini apalagi Pak?

Presiden Republik Indonesia
Saya akan cerita senering, pemotongan uang zaman mendiang Bung Karno dulu. Tempat ini pernah menjadi, tempat dilakukannya sebuah perundingan bersejarah, antara pemerintah Filipina dengan pihak yang disebut Moro National Liberation Front (MNLS, Nur Misuari, masih ingat) difasilitasi oleh Indonesia, Pak Ali Alatas waktu masih Menlu tahun 1993 kalau nggak salah, dilaksanakan di tempat ini. Indonesia juga mengambil peran yang aktif sebagai fasilitator, mediator, penyelesaian konflik di Filipina Selatan. Sebagaimana kita juga menjadi sebagai fasilitator waktu menyelesaikan konflik Kamboja dulu, di sini dilaksanakannya. 



Arief Suditomo
Tampaknya selama ini Indonesiakan aktif sekali Pak berperan dalam konflik-konflik yang terjadi di berbagai negara tampaknya di Libanon sejauh apa, kita sebenarnya.

Presiden Republik Indonesia
Kita punya amanah UUD, dalam pembukaan sangat jelas, kita harus ikut melaksanakan ketertiban dunia, berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Banyak sekali prakarsa dan peran Indonesia dari masa-kemasa termasuk penugasan perwira-perwira prajurit Indonesia sebagai pasukan pemelihara perdamaian. Saya pernah juga memimpin pasukan di Bosnia waktu itu, ini menjadi politik luar negeri kita, menjadi kebijakan luar negeri kita yang harus kita lanjutkan, karena memang amanah konstitusi. 

Persoalan Libanon, saya kira kalau semua mengikuti langkah pemerintah, apa yang saya lakukan sejak awal, sejak pecahnya perang di Libanon. Kita menyerukan segera dihentikan. Karena bagi saya, sudah keluar dari norma dan etika hukum internasional. Korbannya yang berjatuhan adalah penduduk sipil yang harus dilindungi atas nama Konferensi Jenewa, hukum Internasional sudah kacau, Sekretaris Jenderal Koffi Anan mengundang para duta besar mengambil langkah-langkah proaktif. Sampai kemarin saya menyarankan kepada Perdana Menteri Malaysia, Bapak Abdullah Badawi untuk menggelar acara khusus atau pertemuan khusus negara-negara konferensi Islam atau OKI. Dan alhamdulillah kita ada kesepakatan, kita teruskan sampai saya mengirim surat yang kedua kalinya kepada Sekjen Kofi Anan, Alhamdulillah resolusi PBB sudah keluar kemarin. Kandungannya mirip dengan lima hal yang Indonesia sampaikan. 

Yang jelas kita akan lanjutkan upaya itu, kita sudah menyiapkan satu batalyon plus untuk siap menjadi pasukan pemeliharaan perdamaian, Perdana Menteri Libanon menelpon saya sambil mengucapkan terima kasih kepada Indonesia, welcome kehadiran kontingen Indonesia sebagai bagian dari UNIFIL, UNIFIL adalah organisasi sipil yang ada di Libanon. Kesimpulannya kita akan lanjutkan terus kontribusi pasukan perdamaian, bantuan kemanusiaan sudah kita berikan baik kepada Palestina dan Libanon dan hal-hal lain. Yang penting kawasan Timur Tengah segera bisa dihentikan kekerasan dan perang yang menurut saya yang cenderung membabi buta sekarang ini. 

Kita masih menunggu keputusan Dewan Keamanan PBB dan keputusan PBB, sebab meskipun Indonesia sudah menyiapkan diri, sudah menawarkan diri secara formal saya sudah menyurati, tapi nanti PBB yang akan memutuskan Negara-negara mana yang ditugasilah untuk menyumbangkan pasukannya. Kita siap dan sangat siap, mudah-mudahan kita punya kesempatan sejarah untuk sekali lagi, menggelar pasukan pemelihara perdamaian.

Ray Wijaya
Apa komentar Bapak atas reaksi masyarakat yang mengirimkan orang kesana.

Presiden Republik Indonesia
Saya harus mengulangi penjelasan saya, negara sudah menjalankan kewajibannya. Pemerintah sudah menjalankan tugas-tugasnya. Saya kira biarlah negara-negara lain, mereka juga melakukan seperti itu, bahkan terus terang kita lebih proaktif. Yang saya lakukan sendiri, yang pemerintah lakukan bahkan lebih maju, dibandingkan dengan beberapa negara termasuk negara-negara di kawasan Timur Tengah sendiri, Saya kira itulah kontribusi terbaik. Masyarakat kita marah, sebagian tidak sabar, saya mengerti. Tetapi wujudkanlah solidaritas itu dengan cara-cara yang tepat, bantuan kemanusiaan baik, dan percayakanlah kepada pemerintah bahwa kita juga menyiapkan dan siap untuk mengirimkan kontingen kita. Sekali lagi supaya konflik segera berhenti, lebih banyak lagi saudara-saudara kita bisa diselamatkan di kawasan itu. 

Saya kira itu jelasnya, dan negara mesti melindungi keselamatan warga negaranya. Saya kira sikap itu harus dimengerti oleh semua pihak, dengan demikian dalam era globalisasi, dalam era, katakanlah era kedekatan warga Negara Indonesia dengan warga negara lain, tidak boleh lupa bahwa kita punya rumah, rumah inilah Negara Republik Indonesia. Rumah inilah yang punya Undang-Undang Dasar, Undang-Undang dan Peraturan.

Tyas Anggoro
Pak presiden dalam kaitan menjadi fasilitator pemerintah Indonesia juga difasilitasi untuk menyelesaikan konflik di Nangroe Aceh Darussalam. Bulan ini tepat setahun perjanjian Helsinki ditanda tangani. Bagimana evaluasinya Bapak?

Presiden Republik Indonesia
Pertanyaan ini bagus. Kita sangat sering menjadi pemrakarsa, menjadi fasilitator dan mediator dan negara lain juga berterima kasih. Nah ketika penyelesaian Aceh ini, ada bantuan fasilitasi dari pihak tertentu yang memungkinkan proses ini bisa berjalan dengan baik. Itu sesuatu yang wajar. Begitulah kerjasama antar bangsa yang mesti kita ikuti dengan baik. 

Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh pihak fasilitator di Helsinki, itu porposional saja, karena selebihnya yang berbicara itu kita dengan mereka-mereka yang berseberangan dengan pemerintah dulunya, GAM itu. Itu tapi yang disebut dengan term of reference ya kita punya tujuan, berhenti konflik itu, Aceh aman, membangun masa depannya dalam bingkai NKRI, ya kita sendiri. Oleh karena itu, kita pastikan langkah ini langkah yang tepat. Perkembangannya sejauh ini baik masa yang sangat kritis yang jarang dilampaui negara lain, yang gagal akhirnya, hanya fase demiliterisasi, pengumpulan senjata, sejalan dengan pengurangan pasukan pemerintah, sudah kita lampaui masa-masa krisis itu. 

Yang kedua juga yang sangat sulit, biasanya menghadirkan undang-undang baru pasca penghentian konflik.Alhamdulillah DPR dan Pemerintah sudah bekerja keras, meskipun tidak pernah ada undang-undang yang bisa memuaskan semua pihak, tapi itulah yang terbaik menuju ke penyelesaian yang tuntas. Sekarang kita menuju ke pemilihan lokal, pemilihan Gubernur dan Bupati yang ada di Aceh. Kita akan kawal semuanya, mudah-mudahan tekad bersama kita konflik yang sudah tiga dasa warsa mengakibatkan korban jiwa yang besar benar-benar bisa kita akhiri dengan benar-benar secara permanen. Kita akan kawal, saya sendiri terus melibatkan diri untuk berhasilnya proses penyelesaian Aceh yang kita harapkan. 


Sururi Alfaruq
Aceh kan seperti dalam MOU Helsinki, untuk berjuang, mereka akan membentuk partai lokal, sampai sekarang belum ada partai yang dia inginkan. 

Presiden Republik Indonesia
Itu proses politik, proses demokrasi, peluang diberikan, apakah GAM akan membentuk partai politik lokal atau tidak. Apakah ada peluang yang segera didapat untuk itu kita serahkan pada mekanisme demokrasi. Tetapi yang jelas bahwa mereka memiliki ruang yang cukup untuk berdemokrasi sudah kita berikan. Kita lihat perkembangannya nanti dan semua itu sesuai dengan aturan main dalam undang-undang Aceh sendiri, maupun undang-undang nasional lainnya. Saya kira kita biarkan mengalir sesuai dengan bagaimana perkembangan demokrasi Aceh setelah undang-undang baru kita terbitkan. 

Ray Wijaya
Pak Presiden setelah satu tahun penandatanganan, kesan untuk mempersempit kesenjangan dan jarak yang bertikai dengan pemerintah yang bertikai itu kan terasa agak lambat. Kira-kira Pak Presiden melihat apa masalahnya.

Presiden Republik Indonesia
Lambat dan cepat ini, cara melihatnya adalah dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya, dibandingkan dengan negara lain, Kasmir, Timur Tengah, di Afrika, di Srilangka, di Myanmar, itu bahkan belum ketemu. Nah setelah selesai konfliknya, masa reintegrasi, kemudian rekonsiliasi itu selalu memakan waktu. Mengapa? karena, pertama, pembangunan saling percaya atau trust building, ini memerlukan waktu. Sebelum trust building ini terbangun penuh, bisa dilampaui, proses berikutnya memang biasanya relatif berjalan lambat. Tapi Insya Allah dengan langkah-langkah yang kita lakukan, aktivitas Gubernurnya, aktivitas Bupatinya, dana yang kita keluarkan melalui undang-undang yang baru harapan kita bisa lebih cepat. 
Dengan demikian ekonominya, sosialnya, kesetaraan dalam demokrasi akan menjadi lebih bagus, dengan demikian kesenjangan yang saudara maksud tadi bisa kita perkecil. Dengan demikian tahun-tahun mendatang dua-tiga tahun dari sekarang, saya kira bayang-bayang konflik masa lalu pelan-pelan sudah sirna. Perlu waktu tapi memang, perlu percepatan dan usaha yang ekstra.

Tyas Anggoro
Bagaimana pandangan Bapak terhadap eksistansi GAM yang tetap pasca penandatanganan Mou.

Presiden Republik Indonesia
Tentunya tidak relevan lagi, karena sudah selesai itu. Dengan demikian cara berpikirnya, bagaimana saudara-saudara kita yang dulu berada dalam GAM kemudian kembali ke pangkuan politik Indonesia, katakanlah begitu. Menggunakan hak politiknya, menggunakan hak demokrasinya silahkan, sebagaimana warga negara yang lain, melakukan proses demokrasi yang ada. Jadi tentu sudah tidak relevan GAM itu sendiri, karena orang seorang sudah memiliki hak dan kewajibannya yang sama. Sebagaimana yang dimiliki oleh warga negara yang lain.

Arief Suditomo
Kalau boleh saya melihat salah satu potensi atau ancaman disintegrasi berpindah ke sebelah Timur (di Papua). Seberapa jauh pemerintah sudah melakukan berbagai macam upaya karena didalam hal ini, keterlibatan dari negara tetangga juga harusnya kita jadikan deal bukan menjadi masalah melainkan untuk memecahkan masalah. 

Presiden Republik Indonesia
Kebijakan dasar pemerintah untuk Papua sebenarnya sudah kita gariskan sekarang. Otonomi khusus sebagai solusi, kemudian percepatan peningkatan kesejahteraan rakyat di seluruh Papua. Kemudian memelihara hubungan yang baik dengan negara-negara lain, bahwa Papua sudah kita kelola dengan baik, sesuai dengan otonomi khusus yang menjadi pilihan kita. 

Permasalahan muncul waktu itu karena isu Irjabar dan Papua. MRP yang belum segera dibentuk. Isu bahwa pemerintah pusat tidak cukup memberikan anggaran ataupun sumber daya, sehingga pembangunan bergerak lebih cepat dan lain-lain. 

Saya kira Saudara masih ingat, segera setelah mengemban amanat, Majelis Rakyat Papua kita bentuk dan harapan saya dapat bekerja dengan mandatnya, mandat undang-undang. Karena itu ada kumpulan dari komunitas agama, komunitas adat, dan komunitas perempuan. Maka tugasnya sesuai dengan undang-undang tidak sama dengan DPRD atau DPRP yang ada di Papua. Ini sudah berjalan dalam konteks itu, ini sudah bisa kita atasi masalahnya. 

Yang kedua, kemarin semacam konflik antara atau satu provinsi, dua provinsi. Alhamdulillah setelah kita lakukan cara-cara yang arif, yang bijak yang tepat, kemudian saya fasilitasi, saya undang semuanya, mendudukan perkara pada konteksnya, pemilihan kita lakukan telah terpilih dua Gubernur baik Papua maupun Irjabar. Dalam perkembangannya berjalan makin harmonis dengan demikian, kalau masalah politik sudah relatif terselesaikan, maka fokus yang kita lakukan, sebagaimana yang kita sampaikan di Papua, di Yahukimo, di Pasema dan di Kurima. Mari anggaran yang tidak kecil bahkan anggaran perkapita Papua itu paling besar seluruh provinsi di Indonesia, penduduknya tiga juta, kurang katakanlah, kemarin DIPA kita serahkan Rp 12 triliun tahun 2006 ini. Artinya apa, kalau semua, mulai Gubernur, Bupati, Walikota menggunakan anggaran itu dengan benar, dengan sasaran-sasaran yang tajam seperti ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, infrastuktur, saya percaya bahwa kesejahteraan akan cepat meningkat. Dan kalau itu terjadi tidak ada alasan lain pemerintah Indonesia menelantarkan Papua. Pemerintah Indonesia tidak melindungi warga negaranya di sana, dan kalau itu terjadi maka pandangan luar negeri yang negatif, pelan-pelan akan bisa kita kurangi.

Arief Suditomo
Masalah Papua, Bagaimana pemerintah setempat menggunakan dana itu dengan baik.

Presiden Republik Indonesia
Nyata sekali, ketika saya berkomunikasi dengan banyak pihak di Papua, karena tiga malam tiga hari saya di sana kemarin. Sebagian mereka kaget, kalau begitu besar anggaran itu kita sediakan untuk Papua, tapi saya tidak ingin melihat kebelakang, mari dengan anggaran yang ada, sumber daya yang ada kita kelola dengan benar transparan, akuntabel. Nyata perkembangannya tiap tahun tahu sehingga, rakyat bisa mengatakan, otonomi khusus mendatangkan kebaikan, mendatangkan kemajuan, itu yang sedang kita siapkan di Papua. 

Sururi Alfaruq
Ini bukan di Papua yang soal anggaran, di daerah-daerah lain yang problemnya juga sama, anggaran daerah tidak digunakan tapi malah masuk di SBI.

Presiden Republik Indonesia
Itu betul, sudah saya anjurkan berkali-kali, itu bagaimana, teriak-teriak kurang investasi, kurang capital. Yang kedua anggaran yang konsumtif, bangun yang mboten-boten, jadi saya itu ingin memermak diri sendiri, pemerintah pusat, tapi satu saya ingin daerah-daerah juga menyadari jangan begitu. Eksekutif juga saya ingin menyadari, saya ingin Yudikatif juga begitu. 

Sururi Alfaruq
Apakah mungkin eksistensi dari pusat yang perlu kembali lebih.

Presiden Republik Indonesia
Sebenarnya kalau kapasitas, masalah proses, masalah aliran ya inilah, makin banyak daerah, semua di-reform.

Arief Suditomo
Pak Presiden terima kasih atas kesempatannya, kenyataannya bahwa Indonesia atau rakyat Indonesia ini hidup diatas dua lempengan yang sangat aktif itu berarti kita harus betul-betul aware atas apa yang terjadi ke depan apa yang akan terjadi. Apakah pemerintah sudah mulai membuat sebuah kampanye lokasi tentang bencana-bencana tersebut, apa yang harus dikampanyekan untuk rakyat bangsa ini.

Presiden Republik Indonesia

Setelah tsunami menghantam Aceh, tentunya Nias kena untuk yang kedua kalinya. Mengalir ke bawah tahun lalu, sejak itulah saya berkampanye sebetulnya ke seluruh negeri bahwa secara geografis, secara geologis, daerah kita rawan bencana. Dengan penjelasan ada lempeng dari arah Australia menekan ke Utara sangat aktif, dari arah Timur pasifik menekan kearah barat sangat aktif sehingga sebaran gempa itu sepanjang lempeng kerap terjadi. 

Pemerintah juga telah berkali-kali juga memberikan penjelasan, ini sangat penting, kita akan teruskan karena, saya khawatir kalau pengetahuan dan pemahaman rakyat kita kurang, yang dipercayai yang mistik, yang tahyul, yang irasional. Akibatnya orang tidak mengenali inti masalah akhirnya tidak bisa menemukan bagaimana mengatasi masalah. Oleh karena itu, disamping saya mengajaklah mereka-mereka selalu membuat pikiran masyarakat kita yang irasional untuk berhenti, karena kita akan lebih siap lagi menghadapi kalau kita mencari data meskipun kita berharap tidak terjadi lagi. 

Yang pemerintah lakukan adalah pertama, untuk meningkatkan kapasitas, instrument yang kita miliki, sistem yang kita miliki sebagian sudah bisa mendeteksi ada tsunami atau tidak. Karena begitu gempa terjadi kita sudah tahu dimana. Kita juga sudah tahu berapa kekuatannya. Yang belum tahu adalah apakah gempa itu menimbulkan tsunami atau tidak, tergantung dari dislokasinya vertikal atau horizontal. Kita akan mengembangkan terus sampai, lebih banyak lagi mengidentifikasi peluang, perlu teknologi, teknologinya belum semua kita miliki yang akan kita lakukan mempercepat pembangunan instrument itu mempercepat kerjasama internasional. 

Tetapi sementara itu sedang kita bangun saya ingin semua pihak para pemimpin daerah, mulai Gubernur, Bupati, Walikota sampai Camat, Kepala desa, dan masyarakat luas juga sadar, Negara kita rawan bencana, setiap saat datang tetapi kalau ada ancaman tsunami, sebenarnya, asalkan mereka bisa bertindak dengan cepat korban bias kita kurangi. Lima menit pertama setelah terjadi gempa di lempeng, BMG kita bisa mendeteksi, menit keenam sudah bisa disebarluaskan. Sekarang bagaimana ketangkasan dari pemimpin daerah, dari wilayah-wilayah yang terancam tsunami untuk bertindak meninggalkan tempat itu. Itulah yang sekarang kita pastikan masing-masing punya prosedur tetap. Punya cara-cara meninggalkan daerah rawan tsunami, entah dengan sirine, kentongan dengan tanda-tanda yang lain, panah-panah kemana mereka harus lari dan sebagainya. Ini semua kita lakukan agar supaya lebih siap, lebih waspada mengurangi kepanikan apabila informasi tentang tsunami itu diberikan oleh BMG. 

Arief Suditomo
Itu mengenai bencana yang disebabkan oleh natural disaster, alam. Tapi kita sekarang menghadapi bencana Lumpur di Sidoarjo. Sebagian pihak merasa sama sekali tidak rela, apabila dana publik dialirkan untuk mengatasi masalah tersebut. Apakah memang pada akhirnya memang dana publik akan dialirkan ke sana Pak.



Presiden Republik Indonesia
Tidak, konsepnya tidak begitu, jadi setelah kejadian itu saya sudah berkunjung ke Pertamina, saya sangat jelas dan langkah pemerintah sudah jelas. Selamatkan rakyat, selamatkan lingkungan, carikan solusinya meluapnya Lumpur itu, kemudian berikan ganti rugi kepada mereka yang terpaksa harus pindah dan solusi permanen agar kawasan Sidoarjo tidak bermasalah termasuk jangan sampai mengganggu infrastuktur jalan, rel kereta api jalan tol dan sebagainya. Langkah itu dilakukan tentunya pihak Lapindo bertanggung jawab untuk melakukan kewajibannya, mengeluarkan sejumlah dana untuk mengatasi. Ini berjalan sebetulnya tetapi ternyata perkembanganya tidak secepat apa yang kita harapkan dan kemudian dilakukan evaluasi dengan cepat, diputuskan oleh pemerintah beberapa hari yang lalu, ada percepatan. Saya terbang langsung kesana, ber-helikopter dengan saya lihat langsung dimana yang memungkinkan Lumpur itu dikanalisasi tidak mengancam sekitarnya, dan langkah lain, saya juga datang ke tempat keluarnya lumpur itu. Dan akhirnya saya ambil keputusan kemarin di Sidoarjo, saya ambil keputusan di depan, agar satu, upaya untuk menghentikan luapan Lumpur diteruskan, dilanjutkan. Mereka mengatakan barangkali dalam satu, dua, tiga bulan maksimal bisa dihentikan, saya minta lakukan seintensif mungkin siang dan malam, itu yang pertama. 

Yang kedua, sementara itu diusahakan berhentikan masih ada aliran, itu supaya dibendung tempat penampungan yang sekarang, harus dilebarkan dengan tanggul yang lebih kuat, ini saya minta dengan secepat-cepatnya. Gunakan satuan-satuan seni, TNI dan pihak lain untuk mempercepat rekontruksi ini. 

Yang ketiga saya minta usahakan komplek-komplek pemukiman tidak dibiarkan untuk lumpur-lumpur untuk mengalir kesitu, kita selamatkan betul kawasan pemukiman itu. Mudah-mudahan itu bisa kita lakukan karena saya lihat dari atas mungkin untuk itu. 

Kemudian yang keempat, pengungsian dirawat dengan baik karena tidak mungkin kembali ketempatnya carikan pemukiman yang baik, yang layak bahkan lebih baik dari tempat tinggalnya yang dulu. Ini memerlukan kerjasama Lapindo tentunya memberikan kontribusinya. Pemerintah tentu memberikan bantuan fasilitasi, mencarikan tempat pemukiman untuk mereka itu dan kemudian memastikan jangka menengah jangka panjang lingkungan tidak tercemar. Dan kemudian infrastuktur yang ada tetap utuh. 

Itu yang kita lakukan sekarang itu akan kita cek lagi nanti mudah-mudahan bisa berjalan lebih baik. Kalau ada dana publik katakanlah dana pemerintah daerah digunakan bukan untuk mengatasi itu. Tentu ada hal-hal yang lain, tapi tentu menjadi kewajiban hukum, kewajiban usaha, untuk mengeluarkan dananya manakala ada kejadian yang seperti itu. 


Arief Suditomo
Apabila pailit apa yang akan dilakukan pemerintah.

Presiden Republik Indonesia
Ada proses hukum, saya kira Lapindo menurut laporan yang saya terima, ada kesanggupan untuk itu, dan biarkanlah semua mengalir dengan baik, bagi saya keselamatan rakyat sangat penting, lingkungan sangat penting, infrastuktur sangat penting, ada masalah hukum selesaikan dengan baik, ada kewajiban keuangan juga selesaikan dengan baik. 

Ray Wijaya
Pak Presiden apakah ini akan mempengaruhi kebijakan pemerintah pusat dalam mengeluarkan ijin ekplorasi di masa depan.

Presiden Republik Indonesia
Saya kira, harus sangat menjadi perhatian. Dengan desentralisasi memang perijinan tentang pertambangan sebagian sudah ada di daerah, sebagian gabungan antara pusat dengan daerah, apakah BP Migas, apakah pemerintah daerah. Tetapi satu hal dengan kejadian Sidoarjo ini, harus sangat-sangat hati-hati. Kejadian seperti ini bukan satu-satunya yang disebut under ground blow out. Terjadi juga di tempat pengeboran di tempat-tempat lain. Tapi yang sering terjadi di kawasan yang tidak ada penduduknya, mungkin di padang pasir, mungkin di lereng-lereng gunung, di lembah-lembah jadi nggak mengemuka seperti ini. Sekarang dilalah sekelilingnya adalah pemukiman. Oleh karena itu, harus sangat ketat, berapa minimal jarak antara tempat pengeboran dengan pemukiman. Ini harus dikembangkan saya minta departemen terkait, pemerintah daerah yang bersangkutan, harus sangat hati-hati termasuk amdal dari Kementerian Lingkungan hidup, harus ekstra ketat perijinanya. 

Tyas anggoro
Sudah lama kejadiannya masya tidak bisa menyelesaikan Lumpur, apakah dibuang ke laut dan daerah tidak bisa memecahkan.

Presiden Republik Indonesia
Kita sudah memobilisasi kekuatan, ahli-ahli dari luar negeri sudah kita datangkan, yang suka mengerjakan seperti itu, ahli-ahli dalam negeri turun gunung semua, ITS, Departemen Energi semua mencurahkan pikirannya, perhatiannya, upayanya. Memang pengalaman ada ruang waktu yang diperlukan, tapi yang menjadi masalah sekali lagi, dekatnya dengan pemukiman penduduk. Oleh karena itulah pesan saya kemarin waktu saya datang langsung percepat secepat-cepatnya upaya ini, teknologinya, dananya, yang penting makin cepat makin baik 

Tyas Anggoro
Terus terang termasuk kami khawatir ketika Presiden kesana, kekhawatirannya adalah Presiden, juga ada rakyat meminta pemerintah turun tangan. Jadi pemerintah diminta take over.

Presiden Republik Indonesia

Pemerintah tentu tidak, saya tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak tepat, pemerintah sangat mengerti mana yang menjadi kewajiban pemerintah, mana yang tidak. Saya berkoordinasi dengan rakyat sangat baik, iklimnya kemarin saya berikan penjelasan, duduk persoalannya ini. Apa yang dilakukan oleh Lapindo, dan apa yang dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah itu tentu tidak ingin, kesengsaraan, permasalahan ini berlanjut. Kita tentu fasilitasi tanpa mengambil oper kewajiban dari Lapindo.

Sururi Alfaruq
Kelihatannya skenario terakhir yang akan digunakan Lapindo. Karena beberapa skenario yang digunakan Lapindo tidak berjalan. Apakah pemerintah akan membiarkan Lumpur-lumpur itu akan dibiarkan mengalir sampai habis, apa benar begitu.

Presiden Republik Indonesia
Tidak, skenario belum habis jadi skenario yang dibangun oleh para teknolog, oleh mereka yang ingin menghentikan luapan Lumpur itu baru skenario pertama. Sekarang masuk skenario kedua, kalau ini segera tidak berhasil, maka masuk skenario tiga, jadi ini dalam proses untuk menuntaskan, menghentikan wabah Lumpur tetapi saya perintahkan bikinlah yang disebut rencana kontiregensi apabila sesuai dengan kerangka waktu tidak tuntas harus ada penyelamatan besar dengan mengutamakan keselamatan rakyat. Tetapi juga lingkungan jangan dikorbankan, kalau ada cara-cara yang tidak harus mengorbankan lingkungan. Membuang ke sungai Porong, itu sudah kita analisis, setelah saya mendengar dari tenaga ahli, setelah dipisahkan lumpur dengan airnya meluas lumpur itu bukan merupakan B3 bukan berracun bukan berbahaya, tetapi lebih bagus memang dipisahkan, airnya yang dialirkan ke sungai Porong, sehingga tidak mencemari apa-apa. Lumpurnya bisa digunakan untuk yang lain, untuk bata untuk usaha yang lain. Kini mereka sedang bekerja mudah-mudahan ditengah-tengah musibah ini ada yang bisa kita gunakan untuk ekonomi. Saya pesan kepada Gubernur, Bupati, kalau ada rezeki Lumpur bisa digunakan untuk usaha, peruntukan untuk rakyat disini. Jangan ada perusahaan-perusahaan yang ngambil disini kasihan rakyat disini. 

Arief Suditomo
Pak Presiden tadi Bapak menyebutkan bahwa untuk salah satu upaya untuk meningkatkan development index, melalui kebijakan yang terproyeksi kesehatan. Kira-kira blueprint dari kedua hal tersebut apa Pak, Pendidikan dan kesehatan di masa mendatang.

Presiden Republik Indonesia
Yang jelas sistem dan manajemen pendidikan nasional kita sudah saatnya kita revitalisasikan. Persoalan pendidikan bukan persoalan anggaran semata, saya senang sekali bahwa kita sepakat bahwa anggaran pendidikan, kita pacu kita naikkan pada titik setinggi mungkin, tanpa mengorbankan kepentingan sektor-sektor yang lain. Ini yang kita kejar. Tetapi dengan meningkatnya anggaran sangat pesat itu, harapan saya semua implementasi dari sistem itu berjalan baik. Sistemnya sendiri berjalan dengan baik. Itulah sebabnya beberapa hari yang lalu saya meminta sebuah konferensi terpadu agar jelas sistemnya. Termasuk sistem evaluasi bukan hanya UAN-nya, bukan hanya ujian nasionalnya apakah mutu standard, kualitas kita sudah cukup tinggi. Memang dibandingkan dengan Malaysia, Singapura kita masih dibawah, tetapi sudah dibawah ini lantas di kompromikan lagi, dilunakan lagi, tidak jadi apa-apa bangsa kita kalau kita lunak dan menyerah pada mutu dan standard. Tetapi mari kita lakukan semua upaya agar mutu itu dilampaui, dicapai. Kita intropeksi yang belum benar, kita lihat sistemnya, sistem evaluasinya kita lihat proses belajar mengajarnya, tepatkah metodologi yang kita miliki, kita lihat bahan ajarannya, kita lihat text book-nya, kita lihat apakah cukup infrastuktur pendidikannya yang ada seluruh negeri ini. Gedung-gedungnya, perpustakaanya dan lain-lain. Saya minta dilihat utuh. 

Kemudian dilakukan perbaikan dan penyempurnaan, dengan demikian sejalan dengan kucuran dana APBN, maka ini menjadi lebih bagus. Saya ingin semua bertanggung jawab, bukan hanya Departemen Pendidikan Nasional, tapi juga pemerintah daerah, karena aliran sekarang otonomi daerah banyak ditekel oleh pemerintah daerah. Saya ingin para Bupati, Walikota sering-sering datang ke sekolah lihat gedungnya, lihat proses belajar mengajarnya, lihat peserta didiknya dan lain-lain. 

Negara, pemerintah akan memberikan kemudahan, kita akan bikin pendidikan kita makin murah, makin mudah dan makin berkualitas. Bos sudah kita alirkan perbaikan gedung-gedung akan kita tingkatkan ke depan ini, dengan demikian sekali lagi sistem dan manajemen pendidikan harapan kita makin bagus. 

Kalau kesehatan kita pernah ada satu periode setelah krisis, kurang peduli terhadap pendidikan. Pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati, mari kita teruskan yang baik-baik, karena berguna dengan kita revitalisasikan kembali Puskesmas, Posyandu, dan Imunisasi, tentu harapan kita ketahanan masyarakat kita menjadi bagus, pemberantasan penyakit menular lebih efektif dan semua itu memerlukan kebutuhkan anggaran, dana karena ini yang kita forsir. APBN masa-masa mendatang khusus pendidikan dan kesehatan harus sangat cukup, untuk itu semua. 

Kalau rakyat kita di seluruh negeri makin sehat, bisa bersekolah, bisa memilih pekerjaannya, dan dengan pendidikan itu apakah umum atau kejuruan, dan dia juga siap pakai bekerja dimanapun maka jumlah pengangguran, harapan kita berkurang sejalan dengan pembukaan lapangan kerja. Dan kalau mereka punya pendapatan tiap orangnya yang lumayan, mereka pendidikannya lumayan, kesehatannya lumayan maka secara integrative, indek pembangunan manusia berhasil. Dan kalau kita makin meningkat indek kita maka yang di sebutMillennium Development Goals 2015 dapat kita capai. Saya mengajak semua jajaran pemerintah mari kita berjuang sekuat tenaga agar negeri kita Indonesia, bisa mencapai sasaran MDG, Insya Allah bisa dengan kerja keras tahun-tahun mendatang.

Ray wijaya
Begini Pak Presiden hasil UAN yang lalu, juga menunjukan betapa tidak meratanya tidak seragamnya kualitas, sementara kita melihat kenyataan memang, jangankan bangunan, guru di sejumlah daerah masih sangat terbatas, sementara anggaran untuk pendidikan dari APBN masih sangat terbatas dari harapan dua puluh persen, bagaimana itu Pak. Bagaimana yang dilakukan.

Presiden Republik Indonesia
Itu yang kita lakukan, tambahan pertahunnya cukup tinggi, jangan lihat persennya lihat nominalnya. Bahkan saya wanti-wanti Departemen Pendidikan Nasional, jangan sampai tidak terserap, tambahan bertriliun-triliun tiap tahunnya itu serap dengan baik bukan dengan mengalokasikan anggaran dengan kurang tepat. Tapi kesejahteraan guru, mutu guru, kemudian kualitas menarik sebagian Provinsi bagus sekali, sebagian Kabupaten bagus sekali, sebagian kurang. Yang kurang ini mari kita bantu, mari kita lihat, apanya yang belum pas. Dengan demikian lebihequal lebih setara lagi kualitas pendidikan di seluruh Tanah air. Saudara-saudara jangan lupa sebagian memang tidak naik kelas kemarin, tidak lulus, tapi prosentasenya sepuluh orang tidak lulus satu. Jaman saya juga begitu. Sepuluh orang tidak lulus satu jadi bukan sesuatu yang sangat aneh, kalau diantara sepuluh orang murid tidak lulus satu, yang salah itu sepuluh orang yang tidak lulus sembilan. Itu something wrong mungkin kurikulumnya, mungkin sistem evaluasinya. Meskipun mari kita lakukan kalau perlu sepuluh orang lulus sepuluh orang. Banyak yang sangat saya banggakan anak-anak kita luar biasa, kemarin dalam kompetisi olimpiade memborong medali emas. Ada yang menjadi absolute winner, ada yang mendapatkan first step to nobel price serta mengalahkan Negara-Negara berkembang, Amerika, Jepang, Eropa, cina dan lain-lain. Cerdas putra-putri kita. Jadi mari kita benahi benar pendidikan kita ini, agar manusia unggul lebih banyak lagi. Kalau manusianya unggul. Human capital-nya bagus yakinlah akan terangkat, ekonomi kita akan terangkat, kemajuan bangsa kita.


Sururi Alfaruq
Kalau sektor lain bagaimana Pak, ini soal pendidikan dan kesehatan, sementara kita memerlukan infratrukturnya dibidang-bidang lainnya. Ini bagaiman, kalau seandainya kesehatan dan pendidikan lebih banyak anggaran kesana yang lain dikorbankan.

Presiden Republik Indonesia
Sebenarnya infrastructure building, pembangunan infrastuktur itu merupakan kemitraan antara pemerintah dengan swasta, public private partnership. Ada kewajiban pemerintah melalui fiskal untuk membangun infrastuktur, irigasi, gedung-gedung sekolah, perumahan-perumahan rakyat yang memang kewajiban pemerintah, beberapa ruas jalan. Tetapi sebagian bahkan bidang energi, telekomunikasi, dalam pembangunan bandara dan pelabuhan itu lebih banyak bergerak ke sektor komersial. 

Oleh karena itulah, sebagaimana yang kita programkan, kita ingin kurang lebih 60% itu swasta, kemudian yang 40% itu pemerintah. Itulah yang kita tata dari anggaran kita, dengan demikian semua anggaran berjalan dengan baik. Saya mendukung, saya sangat setuju, saya ingin pendidikan dan kesehatan leading. Tetapi sekali lagi jangan habis habisan untuk pendidikan, kesehatan yang lain terbengkalai termasuk infrastuktur tadi. Kalau listrik kurang mau apa? Industri ngak tumbuh, komersial nggak tumbuh, rumah tangga susah, ada sejumlah dana meskipun sekali lagi, kalau pembangunan energi listrik swasta yang kita undang, swasta datang kalau iklimnya bagus, kalau keamanan bagus, politik bagus, hukumnya pasti. Mari kita pahami akar masalah dari semuanya ini dengan demikian semua sasaran dapat kita capai dan semua ikut membangun iklim yang baik untuk berlangsungnya kegiatan-kegiatan swasta itu. 

Tyas Anggoro
Pak Presiden tanggal 17 sensus ekonomi nasional akan di umumkan, mungkin kita dapat bocoran gitu Pak, hasil sensus ekonomi.

Presiden Republik Indonesia
Kita tunggu saja nanti, yang jelas tanggal 16 Agustus Insya Allah, saya akan menyampaikan Pidato Kenegaraan, refleksi perkembangan dan dinamika. Sekaligus, nanti bagaimana arah APBN kita 2007, tentu sudah kita olah sedemikian rupa untuk bisa mencapai tujuan dan sasaran pembangunan kita. 

Untuk hal yang sifatnya detail dari sasaran itu berproses nanti digunakan oleh pengemban kebijakan dan pengambil keputusan, pemerintah sangat penting tapi yang lain juga memerlukan dengan demikian pengembangan kebijakan strategi lebih tepat lagi kedepan nanti. 

Ray Wijaya
Pak terkait soal, peringatan 17 Agustus mungkin Bapak bisa menjelaskan lagi mengenai cita-cita dan prokklamator, itu kemerdekaan itu bagian dari Indonesia itu harus mandiri, tidak tergantung dengan negara lain. Sementara ketergantungan kita terhadap negara lain sangat besar sekali, terutama soal investasi, soal militer, teknologi militer itukan masih sangat besar sekali dan juga investasi asing terlalu besar, maksudnya, perusahaan-perusahaan kita banyak yang dimiliki asing.

Presiden Republik Indonesia
Dasarnya mungkin agak berbeda. Justru kalau kita membandingkan China, Viatnam, India yang sekarang tumbuh itu justru investasi asing yang mengalir ke negara kita ini sangat kecil dibandingkan dengan investasi yang datang ke negara-negara mereka. Itu keniscayaan pertama, kitapun berteriak-teriak kurang investasi. Jadi sebetulnya kalau ada investasi masuk tidak berarti kita ini lantas tidak mandiri. Mandiri berbeda dengan menutup diri, mandiri berbeda dengan dari mengisolasi, mandiri kita yakin pada kemampuan kita, kita tidak sangat tergantung secara mutlak, kemudian menggunakan potensi yang kita miliki. Singkatnya kalau tidak ada bantuan negara lain kita, bisa tetapsurvive tetap hidup, tetap bisa mempertahankan kelangsungan hidup kita, itu satu hal.

Oleh karena itu, kita pun sadar bahwa kita memobilisasi potensi yang ada, capital yang kita miliki, sumber daya yang kita miliki. Tetapi dalam keniscayaan global tidak ada satupun negara yang melepaskan keterkaitannya dengan perkembangan global, yang penting tidak tergantung secara mutlak. Yang penting semua itu dalam kaitan sebesar-besar untuk kepentingan kita, sebesar-besar untuk kemakmuran kita. Oleh karena itulah, kita kontrol, kita atur mana yang sudah bisa kita bangun sendiri, mana yang memerlukan kerjasama. Itu secara umum. 

Kemudian kalau militer itulah sebabnya saya ingin sistem militer kita makin kuat, makin kokoh makin memproduksi barang-barang kita yang kita miliki. Memang ada sejumlah sistem senjata terutama kita miliki, memang ada system senjata yang utama belum kita miliki, tapi itu kalau kita beli dengan format alih teknologi, harus dengan format kerjasama. Dengan demikian pada saatnya nanti lima sepuluh tahun yang akan datang mudah-mudahan kita sudah bisa menciptakan. 

Tetapi yang penting adalah jangan sampai terjadi seperti pada tahun yang lalu, kita bisa bikin sendiri, tetapi kita beli karena ada komisi. Ada begitulah, mari kita hentikan semua itu nanti tidak tumbuh, tidak berkembang negeri kita, oleh karena itulah kita hidupkan semua industri dalam negeri kita, mudah-mudahan kita menjadi bangsa yang menghormati produksi sendiri yang yakin pada kemampuan sendiri. 

Arahnya kita makin harus memperkuat basis kita, potensi kita, fundamental kita, sehingga ketergantungan dalam tanda kutip itu makin kecil, makin kecil, dengan demikian kalau ada kerjasama memang betul-betul diperlukan untuk kepentingan kita, bukan karena kita tidak bisa apa-apa lantas menggantungkan pada bantuan dan apa namanya peran dari negara lain, semangatnya kesitu dan kita menuju kesitu.

Ray Wijaya
Pak Presiden, bagaimana Pak presiden memaknai Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang memasuki usia yang ke-61.

Presiden Republik Indonesia
Saya harus mengatakan kita mesti bersyukur, bahwa menghadapi badai persoalan, pasang surut di negeri ini, kita sudah melampui usia 61 Kemerdekaan kita. Yang penting dalah mari kita sadar, perjalanan kita masih jauh, mari kita sadar, kita masih perlu membangun negeri ini pasca krisis. Mari kita sadari bahwa kita bikin semuanya baik negeri kita ini, sistem hukumnya, politiknya, administrasinya, pemerintahnya, kesadaran masyarakatnya dan lain-lain. Kalau kita punya komitmen yang satu, kita punya cita-cita yang satu, majunya negeri kita ini saya kira akan terbuka peluang yang baik untuk betul-betul kita bergerak maju dan bisa meningkatkan tingkat kehidupan bangsa kita, dan disitulah maknanya dan baik kita melaksanakan refleksi, kita memetik pelajaran tapi yang lebih penting, mari kita lebih bersatu, bangkit dan maju bersama-sama. 

Ray Wijaya
Apa saja kegiatannya Pak, dalam rangka Hari Ulang Tahun Kemerdekaan.

Presiden Republik Indonesia
Yang sifatnya menjadi tradisi kenegaraan kita jalankan sebagaimana biasanya begitu. Tetapi yang berbeda tahun ini pada rangkaian hari proklamasi, saya ingin ada revitalisasi banyak hal. Kemarin bidang pendidikan nasional, sebelumnya ketenagakerjaan terutama yang saudara-saudara kita yang bekerja di luar negeri. Lantas energi dengan bioenerginya, jadi rangkaian tujuhbelasan yang sudah menjadi tradisi kita, kita isi dengan membangkitkan semangat baru, inovasi baru, prakarsa baru, agar kita betul-betul melakukan langkah-langkah yang sangat serius untuk mengubah keadaan ,terutama yang belum baik. 

Arief Suditomo
Jawaban yang tadi juga termasuk salah satu, bagaimana kalau ditanya apakah setelah termin Bapak ini itu yang sudah Bapak capai.

Presiden Republik Indonesia
Masih mengalir terus, saya tahu bahwa apa yang pemerintah lakukan sekarang, apa yang saya lakukan tidak serta merta hasilnya bisa dipetik bulan depan, tahun depan. Ada yang merupakan landasan Insya Allah bagi masa yang jauh ke depan, tapi memang ada sasaran-sasaran jangka pendek yang mestinya sebagian sudah terjadi, sebagian belum. Tetapi saya yakin, kalau ini berjalan terus dan eksternal shocks tidak seperti dua tahun pertama ini, dari bencana ke bencana dan lain-lain mudah-mudahan yah, apa yang menjadi sasaran itu bukan hanya saya, satu persatu bisa kita capai. Baik Terima kasih. 


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan