Ternyata Pahlawan Internasional Itu Berasal Dari Kampungku (Moncongloe)



Sumber tertulis pertama yang mengungkapkan kehidupan Syekh Yusuf Makassar adalah buku sejarah tradisional milik Makassar, yaitu yang disebut "Lontara". Ada tiga Lontara yang menginformasikan sebagian besar hidupnya, yaitu Lontara Tallo, Gowa dan Lontara Bilang. Ketiga lontara ini dianggap sangat handal dalam melacak Riwayat Tuanta Salamaka ri Gowa. Selain itu, tradisi lisan yang terkenal antara orang-orang Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan juga banyak menceritakan kisah Tuanta Salamaka.
Menurut "Lontara Bilang", warisan dari kerajaan kembar Gowa-Tallo, Syekh Yusuf lahir pada tanggal 3 Juli 1626 M bertepatan dengan 8 Ramadhan 1036 H. Kisah kelahirannya diberitahu dalam tradisi lisan di masyarakat Bugis-Makassar dan itu menjadi kesepakatan di antara mereka. Fakta ini menunjukkan bahwa kelahirannya adalah 20 tahun setelah kerajaan Gowa dan Tallo menerima agama Islam dari Ulama dari Minangkabau, yaitu Abdul Kadir Khatib Tunggal atau populer disebut Dato'ri bandang.
Sebagai manusia biasa, ia lahir di dunia melalui ayah dan ibunya. Seperti yang dinyatakan dalam Lontara Riwaya'na Tuanta Salama ri Gowa, ayahnya adalah Galarrang Moncongloe, saudara dari garis ibu raja Gowa Imanga'rangi Daeng Manrabia atau yang umum dikenal sebagai Sultan Alauddin, raja pertama yang masuk Islam dan menyatakan Islam sebagai agama resmi kerajaan-Nya, pada tahun 1603. Ibunya bernama Aminah binti Dampang Ko'mara, yang merupakan keturunan dari keluarga ningrat dari kerajaan Tallo, kerajaan kembar Gowa.
Namun, menurut Hasyiyat fi al-Kitab al-Anba 'I'rab la ilaha illa Allah, salah satu karya-karya Syekh Yusuf menyatakan bahwa ayahnya adalah Abdullah, sehingga Prof. Hamka memutuskan bahwa nama ayahnya adalah Abdullah.
Selain itu, tradisi lisan yang diwarisi oleh keturunannya menginformasikan bahwa Ayahnya adalah Nabbi Hillere’ (Nabi Khaidir). Namun, nama terakhir ini masih menjadi kontroversi di masyarakat umum karena beberapa hal bahwa dia adalah nabi Khaidir.Meskipun demikian, berita yang menyebutkan bahwa ayahnya adalah Gallarang Moncongloe,lebih masuk akal, dan kemudian interfretasi bahwa nama Islam untuk gallarrang Moncongloe adalah Abdullah Khaidir.
Kehidupan Syekh Yusuf populer sampai sekarang di empat tempat atau negara, mereka adalah Makassar (Sulwesi Selatan), Banten (Jawa Barat), Ceylon (Sri Langka), dan Cape Town (Afrika Selatan) karena dia menghabiskan sebagian hidupnya di tempat-tempat itu. Di Ceylon dan Afrika Selatan, ia bahkan dianggap sebagai yang pertama yang meletakkan dasar-dasar dari komunitas muslim yang ada dan sebagai pelopor dari beberapa komunitas Muslim di Afrika selatan yang berjuang untuk mewujudkan persatuan melawan penindasan dan perbedaan etnis, dari sini Nelson Mandela kemudian terinspirasi dan menggelorakan Politik anti Apharteid.
Selama masa kecilnya, ia habiskan dengan belajar membaca al-Qur'an dan diajarkan bagaimana cara mempraktekkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Setelah mampu membaca al-Qur'an dan siap untuk studi lebih lanjut, ayahnya mengirimnya ke pondok pesantren Bontoala untuk mempelajari pengetahuan Islam dan sarana linguistik seperti: Nahw, Sharf, Balaghah, Ma'ani dan 'Ilm al-Mantiq. Setelah itu, Syekh Yusuf berguru di pondok Cikoang dibawah bimbingan Syekh Jalaluddin al-Aidid. Karena kecerdasannya dalam mengikuti Majlis, ia kemudian disarankan oleh guru-gurunya untuk melanjutkan studi di Jazirah Arabia.
Setelah menjelajah Timur Tengah sekitar dua puluh tahun untuk belajar Islam, ia kembali ke kampung halamannya. Meskipun ada cerita lisan menyatakan bahwa dia tidak pernah pulang ke rumah, cerita ini tidak dapat diterima karena tidak mendapatkan alasan yang kuat dan fakta historisnya lemah. Namun, perlu dicatat bahwa setelah kembali ke Nusantara, Syekh Yusuf menjadi pejuang yang menggelorakan pemberontakan melawan Belanda baik ketika ia di Makassar, Banten, Ceylon, dan Afrika Selatan. Di mana pun dia, dia selalu mengumandangkan Dakwah Islamiyyah dan menggelorakan Jihad fi Sabilillah.
Syekh Yusuf juga populer sebagai penulis yang produktif dari tasawwuf yang berbahasaMakkassar, Bugis, Arab, Jawa, dan Arab. Karya-karyanya yang ditulis dalam bahasa Arab,diantaranya sebagai berikut:

1.
al-Barakat al-Sailaniyyah
2.
Bidayat al-Mubtadi '
3.
al-Fawaih al-Yusufiyyah
4.
Hashiyah dalam Kitab al-Anba '
5.
Kaifiyyat al-Munghi
6.
Matalib al-Salikin
7.
al-Nafhat al-sailaniyyah
8.
Qurrat al-'Ain
9.
Sirr al-Asrar
10.
Sura
11.
Taj al-Asrar
12.
Zubdat al-Asrar
13.
Fath al-Dzikr Kaifiyyat
14.
Dafal-Bala '
15.
Hazhihi Fawaid 'Azima Dzikr La ilaha illa Allah
16.
Muqaddimat al-Fawaid allati la ma Buddha min al-'Aqaid
17.
Tahsil al-Inayah wa al-Hidayah
18.
Risalah Ghayat wa Nihayat al-Ikhtishar al-Intizar
19.
Tuhfat al-Amr fi-Dzikr Fadilat mengapak
20.
Tuhfat al-Abrar li Ahl al-Asrar
21.
sebuah Madarrat al-Munjiyya 'al-Hijaiba
Syekh Yusuf meninggal pada 22 Zulqaidah 1109 H bertepatan dengan 23 Mei 1699 M. dalam pengasingan. Yakni di Zandvliet pada usia 73 tahun. Dia dimakamkan di bukit berpasir Fasle Bay(Kampung Macasar Capetown Afrika Selatan, tidak jauh dari tempat tinggalnya. Makamnya sekarang dijadikan sebagai tempat yang 'suci'. Makamnya dilengkapi dengan bangunan, termasuk makam dari empat muridnya yang juga berjuang untuk Islam di Afrika Selatan.***