TARZAN DARI CAMBA MAROS

TARZAN DARI CAMBA MAROS - Keahlian manusia berkomunikasi dengan binatang dalam hutan belantara seperti yang digambarkan dalam film Tarzan, ternyata bukan hanyahayalan belaka. Bahasa binatang liar sekalipun dalam hutan itu asal dipelajari dengan tekun dapat dikuasai dan cukup menyenangkan.
Haro (42,) misalnya warga Labuaja Kecamatan Camba Maros Sulawesi Selatan bisa membuktikan hal itu. Dan hutan belantara Camba yang cukup menyeramkan itu memberi inspirasi bagi Haro belajar bagaimana berkomunikasi dengan binatang hutan tersebut. Ayah tiga orang anak inipun memiliki keahlian seperti Tarzan yang bisa memanggil binatang dengan suara khusus.

Seperti layaknya si Tarzan, Haro bisa mengumpulkan kera-kera yang terpencar dan hidup dalam hutan Cagar Alam Karaenta di kawasan Camba Maros. Lelakipendiam asal Tanatoraja kelahiran Maros ini memiliki kemampuan sama dengan Tarzan sehingga Haro pun dijuluki si Tarzan dari Camba Maros. Hanya dengan siulan khas dalam waktu sekejab, Haro bisa mengumpulkan puluhan kawanan kera yang masih liar di kawasan hutan Cagar Alam Karaenta itu. Sekali bersiul, sekitar 40 ekor kera yang tergabung dalam satu kerajaan kecil bermunculan dari atas tebing batu dan pepohonan dalam hutan.

Kawanan kera mulai dari yang masih kecil sampai yang kepalanya putih tanda sudah tua dan dipimpin kera besar sebagai raja itupun melompat-lompat kegirangan mendekati Haro dengan jinaknya. Haro lalu menghambur oleh-oleh makanan ringan berupa jagung ke arah kawanan kera yang segera makan dengan lahapnya.

Bagaimana Haro bisa berkomunikasi dengan binatang liar di hutan belantara itu dan dari mana dia belajar. Haro yang kadang dijuluki pula sebagai pawang kera, mengaku berguru dengan tekun dan sabar justru dari raja kera sendiri dalam waktu cukup panjang empat tahun lamanya. Haro yang sempat mengenyam pendidikan sampai tamat SD di Labuaja ini sejak tahun 1978 mulai bekerja sebagai petugas Jagawana di Cagar Alam Karaenta Maros. Tugas menjaga hutan itu dilakukan dengan penuh tanggung jawab.  Jagawana yang satu ini benar-benar mencintai pekerjaannya sebagai penjaga hutan agar tetap lestari tidak dirusak tangan jahil. Meskip hanya tamat SD, namun keakraban dan kecintaannya pada alam itu membuat Haro memiliki kemampuan yang dapat dipandang sebelah mata oleh peneliti kualifikasi doktoral sekalipun.

Dia bisa menghapal banyak nama-nama fauna dan flora dalam bahasa Latin. Tak heran kalau Haro sering membimbing dan memandu mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Hasanuddin (Unhas) Ujungpandang atau Institut Pertanian Bogor (IPB) yang melakukan penelitian di kawasan Cagar Alam Karaenta ini.

Bahkan, beberapa peneliti asing seperti dari Perancis dan Jepang pernah dipandu seorang diri oleh Haro mengitari kawasan hutan Karaenta yang luasnya 1.000 km persegi itu. Ketika mengantar Prof Dr Kunio Watanabe, peneliti yang mendalami monyet dari Kyoto University Jepang tahun 1979, Haro pun mulai belajar mengenali dunia kehidupan kera di Karaenta itu. Selama empat tahun, Haro belajar menirukan bagaimana raja kera menghimpun rakyatnya melalui siulan ala kera.  Kawasan Cagar Alam Karaenta Camba Maros yang letaknya persis di poros jala menuju Soppeng-Bone ini kata Kepala Sub Balai KSDA Sulsel Ir Edi Djuharsa

memang terkenal dengan kera hitam (Macaca maura)-nya. Jenis spesies kera hitam yang mendiami kawasan hutan tersebut merupakan endemik (khas) Sulawesi.

Menurut hasil penelitian Prof Dr Kunio Watanabe dari Kyioto Universiti tahun 1979, kera hitam jenis ini hanya ada di Sulawesi khususnya Camba Maros dan tidak ditemukan di daerah Nusantara lainnya ataupun di kawasan dunia lainnya. Kera ini mempunyai kekhasan tak berekor dan sifatnya berbeda dengan kelompok kera yang berada di daerah lain. Penelitian Watanabe juga menyimpulkan, jenis kera di Cagar Alam Karaenta ini darahnya bisa ditransfusikan ke tubuh manusia. Sementara mengenai pola hidup kera hitam juga diamati peneliti Jepang lainnya Dr Suwici Masunara pertengahan Desember 1998 silam. Menurut Masunara kera di Karaenta terdiri dari beberapa kerajaan kecil dan tiap kelompok terdiri dari 40-an kera. Setiap kerajaan kecil kera memiliki areal kekuasaan hutan seluas 25 ha dan dipimpin seorang raja kera. Meskipun terdiri dari beberapa kerajaan kecil, namun kera-kera di kawasan hutan ini tidak saling menyerang ketika ada yang melintas di luar wilayah kekuasaan kerajaan kera lainnya. Di samping kera hitam, dalam kawasan Cagar Alam Karaenta Maros ini juga terdapat banyak jenis fauna lainnya yang tergolong langka dan endemik. Misalnya Kus-kus (Phalanger celebensis), Kakatua Sulawesi (Cacatua sulphurea), burung Allo/Rangkong (Penolepides ozarnatus) yang berparuh panjang seperti burung pelikan serta kupu-kupu berbagai jenis dan spesies kata Edi Djuharsah juga ditemukan di hutan Karaenta ini. Kawasan Cagar Alam Karaenta Maros juga sangat kaya akan flora. Rotan dan damar bisa ditemukan di hutan ini, bahkan kayu hitam dengan pohon yang diameternya satu meter lebih terdapat di Cagar Alam Karaenta. Pendeknya, Cagar Alam Karaenta memiliki potensi flora dan fauna yang luar biasa.

Masih dalam kawasan Cagar alam ini juga terdapat sungai bawah tanah yang mengalir di bawah sela-sela batu karts dan marmer. Hasil temuan seorang peneliti asal Prancis kata Edi Djuharsah, panjang sungai bawah tanah itu mencapai 29 km dan merupakan yang terpanjang di Indonesia.  Kelestarian Cagar Alam Karaengta yang saat ini masih sangat bagus perlu terus dijaga dari kerusakan. Lima orang petugas Jagawana termasuk Haro saat ini ditugaskan menjaga kawasan hutan yang dilindungi ini.


Baca Juga artikel saya yang bertopik misteri:  Klik  Di Sini