Bagian Ketiga: Pergelutan Islam - Kristen Potret Sejarah Keagamaan di Parigi

BAGIAN III  LATAR BELAKANG KRISTENISASI DI PARIGI

Latar Belakang Kristenisasi di Parigi

Pengertian Kristenisasi
Kristenisasi diartikan beragam berdasarkan sudut pandang yang digunakan, terjadinya banyak makna dalam istilah kristenisasi ini harus mempunyai substansi yang harus diterima sebagai hal yang wajar dari ciri kebenaran ilmu pengetahuan. Kristenisasi dapat diartikan sebagai suatu proses untuk menyebarkan agama Kristen. Dalam pengertian dikalangan Kristen sendiri, kristenisasi biasa diistilahkan sebagai pengkabaran Injil. Pengkabaran Injil adalah pemberian kabar tentang Yesus Kristus. Pengkabaran Injil juga disebut zending atau missi yang berarti pengutusan atau kerja Allah, artinya tugas yang diberikan Tuhan kepada manusia.
Berdasarkan pengertian diatas, maka kristenisasi dalam studi ini mengacu kepada pengertian bahwa kristenisasi adalah suatu gerakan baik perkelompok maupun perorangan dalam menyebarkan agama Kristen kepada orang-orang yang bukan Kristen dengan berbagai cara atau strategi.

Proses Kristenisasi
Proses penyebaran ajaran Kristen beraneka ragam di Sulawesi Selatan, dimana sangat ditentukan oleh berbagai faktor, seperti kondisi geografis dan keadaan kepercayaan masyarakat setempat serta sikap penguasa terhadap agama.

Kondisi Geografis dan Kepercayaan Masyarakat Setempat
Sebelum datangnya agama Kristen di Sulawesi Selatan masih berkembang agama Patturioloang (agama leluhur). Dimana agama ini masih bercorak suku, dimana agama ini berbeda dengan agama lainnya tergantung siapa suku yang menganutnya, meskipun berbeda namun pada dasarnya agama leluhur ini mempunyai kesamaan. Seperti yang dikatakan oleh Den  yakni:
Suku itu mempunyai ceritera-ceritera atau mitos, yang menyatakan asal-usul, yaitu silsilahnya yang melalui nenek moyang sampai kedewa-dewa. Mitos ini diberitakan juga tentang aturan hidup, antar adat yang diberikan oleh dewa-dewa dan nenek moyang. Adat ini dipelihara oleh anggota-anggota suku, tetapi tidak diluar lingkungan itu. Akhirnya semua anggota suku turut dalam ibadah terhadap dewa-dewa dan nenek moyang tersebut. Orang lain tidak mungkin ikut, karena ia mempunyai nenek moyang lain.
Dalam  ranah Sulawesi Selatan ada satu mitologi yang dijadikan sebagai mitologi empat suku besar (Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja). Menurut mitologi ini yang disebut mitologi La Galigo, yang menjadi manusia pertama di Sulawesi Selatan adalah Batara Guru yang diturunkan Datu PattotoE (dewa dari langit atau dewa yang menentukan takdir kehidupan) untuk dijadikan penguasa di bumi, tepatnya di tana Lu’ (luwu). Batara Guru kemudian melahirkan Batara Lattu, Batara Lattu kemudian melahirkan Sawerigading. Sawerigading inilah yang menjadi cikal bakal semua manusia atau penguasa yang ada pada ranah Sulawesi Selatan .

Sikap Penguasa Terhadap Agama
Meskipun kristenisasi sempat vakum selama puluhan bahkan ratusan tahun sejak kedatangan untuk pertama kalinnya. Namun usaha kristenisasi mulai dimunculkan kembali di Sulawesi Selatan. Kali ini yang menjadi penyebar Kristen didaerah ini adalah bangsa Belanda yang semula hanya mementingkan tujuan materialistiknya.
Di negeri Belanda pada tahun 1901 setelah partai Liberal dikalahkan oleh koalisi kelompok-kelompok kanan agama, yang menetapkan kembali prinsip-prinsip Kristen dalam pemerintah. Kebijakan netral terhadap agama tiba-tiba diganti dengan kebijakan yang mendukung penyebaran agama Kristen, dengan cara memberikan subsidi kepada sekolah dan rumah sakit zending.  Perubahan iklim dari sekuler kenuansa agamais pada sistem pemerintahan pusat negeri Belanda pasti diterapkan pula kepada pemerintahan negeri jajahan. Di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan sudah ada usaha kristenisasi dengan mengirimkan para penyebar Kristen atau Zendeling ke daerah ini. Namun apa yang terjadi dilapangan ternyata di Sulawesi Selatan sebagian besar penduduknya sudah menganut agama Sallang (Islam), yang sangat sulit untuk dipengaruhi untuk meninggalkan Islam dan masuk ke agama Kristen.

Saluran Kristenisasi
Adapun saluran kristenisasi yakni saluran pendidikan, saluran pelayanan kesehatan dan saluran ekonomi.

Saluran Pendidikan
Penyebaran agama Kristen lewat saluran pendidikan adalah pengadaan lembaga-lembaga pendidikan bagi para calon penginjil atau penyebar agama Kristen. Sekolah-sekolah Zending atau missi ini mendidik orang-orang bukan Kristen, sehingga mereka dapat memahami serta mengajarkan ajaran Kristen. Pada tahun 1949, Swaak mendirikan lembaga pendidikan Zending di Malino yang menelorkan beberapa Zending atau penyebar Kristen, diantaranya: La Wali dan La Upe yang akan menyebarkan agama Kristen di Soppeng; Barnabas Doynga yang akan menyebarkan agama Kristen di Gowa bagian Timur serta Daeng Pasare yang akan menyebarkan agama Kristen di Selayar .

Saluran Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan sangat terkait dengan masyarakat luas, oleh karena itu para Zending atau missi menggunakan cara ini sebagai alat untuk menyebarkan agama Kristen (kristenisasi). Kristenisasi lewat Saluran pelayanan kesehatan sangat berkembang dengan pesat. Pelayanan kesehatan merupakan pintu yang baik untuk memasuki masyarakat Makassar dan sekitarnya. Tas-tas penuh obat yang selalu dibawa oleh Van den Brink dalam perjalanan kelilingnya di dalam maupun di luar kota, segera tidak asing lagi bagi setiap orang.
Pada tahun 1935, pelayanan kesehatan Zending Makassar mendapatkan bentuk yang lebih pasti. Pada waktu itu didirikan tiga poliklinik di beberapa tempat, dimana Van den Brink sendiri memberikan pertolongan pertama. Ketiga poliklinik itu yakni poliklinik yang terletak di Maricaya, Jl. Marosweg (sekarang jl. Bawakaraeng) serta di Pannara Bitowa.

Saluran Ekonomi
Saluran inilah yang termasuk saluran kristenisasi yang paling utama di Parigi. Para Zending atau penyebar agama Kristen dengan giat membagi-bagikan kebutuhan-kebutuhan ekonomis kepada masyarakat sasaran kristenisasi. Kebutuhan ekonomis itu diantaranya bahan pangan, sandang dan sarana vital lainnya.

Bidang Ekonomi dan Politik
Kondisi ekonomi masyarakat Parigi waktu itu masih berada pada masa penjajahan Kolonial Belanda. Dimana pada saat itu keadaan ekonomi sangat kritis, sebab bangsa Kolonial Belanda telah merampas semua sumber daya alam yang bernilai ekonomis. Mereka mempergunakan kepintaran(kelicikannya) serta kekuatan militernya yang lebih kuat dalam menekan masyarakat Sulawesi Selatan dan merampas kekayaan alam dari tangan pemilik yang sah, masyarakat Sulawesai Selatan dan masyarakat Parigi Secara khusus.
Bangsa Belanda pada mulanya hanya datang dengan berkedok sebagai pedagang dengan organisasi dagangnya yang bernama VOC (Verenigde Oost de Compagnie) – yang oleh masyarakat pribumi di Nusantara ini menyebut VOC dengan Kompeni . seperti yang dikatakan oleh Ricklefs. Bahwa: Pada tahun 1670-an VOC telah berhasil mengkosolidasikan kedudukannya di Indonesia Timur. Pihak Belanda masih tetap menghadapi persekongkolan-persekongkolan dan perlawanan, tetapi tidak ada lagi satupun kekuatan besar di Indonesia yang menentang mereka di kawasan ini. Ternate, Tidore dan Gowa sudah tidak lagi merupakan kekuatan-kekuatan militer yang besar.
VOC  yang merupakan organisasi dagang dari negeri belanda  telah mengeksploitasi perekonomian di Sulawesi Selatan secara umum. VOC sebagai organisasi dagang istimewa karena mempunyai prajurit layaknya sebuah negara. Prajurit-prajurit inilah yang digunakan sebagai alat pemberangus yang mencoba merintangi dan menghambat usaha dagangnya yang monopolistik.
Setelah VOC bangkrut karena korupsi para petinggi-petingginya maka VOC akhirnya dibubarkan, dan semua wilayah kekuasannya diambil alih pemerintah negeri Belanda termasuk di Sulawesi Selatan. Untuk Nusantara Pemerintah Negeri Belanda melalui menteri negara jajahan mengirimkan seorang Gubernur Jenderalnya yang berpusat di Batavia sebagai wakil Ratu pada pemerintahan negeri jajahan.
Wilayah Parigi pada waktu itu belum terjamah oleh pemerintahan jajahan Hindia Belanda secara langsung. Baru pada tahun 1927 di wilayah ini terkhusus untuk ingklusif Malino Belanda mulai membuka daerah ini sebagai tempat peristirahatan .  Di Parigi khususnya di Malino sudah mulai dibangun untuk kepentingan Belanda sendiri. Seperti yang ditegaskan oleh Hermansyah.mengatakan Bahwa:
Malino dibuka oleh Pemerintah Hindia Belanda yang tertarik dengan keindahan alamnya pada tahun 1927, nama sebelumnya Malino itu adalah Lapparak (tempat datar) yang merupakan tempat perumputan hewan peliharaan bagi masyarakat di Buluttana kemudian dijadikan tempat-tempat istirahat oleh Belanda, bahkan ada beberapa bangunan diantaranya itu dijadikan tempat istirahat bagi anak-anak sekolah Belanda yang berlibur ke Malino, diantaranya KVC (Kindeer Vacancy Colony / Sekarang SMPN 1 Tinggimoncong).
Setelah pemerintahan Hindia Belanda memasuki daerah ini maka bukannya Pemerintahan jajahan ini membangun atau  mensejahterakan masyarakat setempat, melainkan tambah menyengsarakan rakyat. Rakyat  dikenakan Bilang Ulu (Pajak Kepala) serta kerja Akkusiang (Kerja wajib) bagi masyarakat Parigi.
Bilang Ulu adalah pajak yang dibayarkan bagi seluruh penduduk mulai lahir sampai meninggal yang dibayarkan kepada Sariang (semacam Ketua ORT) untuk seterusnya ke pemerintahan pusat Hindia Belanda. Pembayaran Bilang Ulu ini satu kali dalam satu tahun. Akkusiang adalah kerja wajib yang dibebankan kepada penduduk laki-laki yang sudah dewasa, kerja Akkusiang ini dintaranya mengerjakan sarana dan prasarana jalan, jembatan, gedung-gedung pemerintahan, dan lain-lain. Bila penduduk yang sudah kena wajib Akkusiang tidak sanggup karena sakit dan lain-lain, maka akan dikenakan denda.

Agama dan Kepercayaan
Dalam masyarakat yang masih bercorak agraris terdapat kebiasaan dalam menyembah roh nenek moyang dan tempat-tempat yang dianggap keramat. Kepercayan ini disebut Animisme. Menurut Tylor dalam Daradjat: mengatakan bahwa: Animisme adalah asal agama, manusia primitif sudah menyimpulkan dari berbagai mimpi, khayal dan kebingungan atau kekacauan pikirannya dan dari kenyataan tentang mati, bahwa ia didiami oleh suatu jiwa yang bersifat nonmateri, sewaktu manusia itu bermimpi, jiwanya berpisah buat sementara dari badannya dan kalau manusia itu mati, maka jiwa itu tetap hidup dan bertempat tinggal pada berbagai benda.
Di Parigi agama atau kepercayaan yang dianut kala itu adalah kepercayaan animisme yang disebut dengan Kepercayaan Patuntung. Patuntung berasal dari kata anuntu’ (menuntut), atau dapat diartikan bahwa orang yang menganut kepercayaan Patuntung adalah orang yang senantiasa menuntut segala tabir rahasia alam gaib terutama pada hal kematian.
Kepercayaan ini bersifat Polyteisme atau menyembah banyak dewa. Dewa utamanya disebut Patanna Pa’rasangang (yang punya Negeri), Patanna Pa’rasangang ini ini dibantu oleh tiga dewa yakni Tuma’buttaya, Tumappilelea dan Tuma’katuoa. Patanna Pa’rasangang atau yang menguasai negeri adalah dewa tertinggi, Tumabutaya adalah dewa yang bertugas dalam memelihara bumi beserta tanamannya, Tumapilelea adalah dewa yang menyebarkan penyakit puru (Campak), Kabuntulang (Tipes) dan Garring le’leng (Penyakit kuning). Tumapilelea ini juga biasa disebut dengan Konkong Pancing, sangat ditakuti sehingga digambarkan sebagai seekor anjing keramat yang setiap malam menyatroni setiap kampung-kampung yang berpenghuni. Keempat dewa ini bertempat tinggal di gunung Bawakaraeng. Selain ke-empat dewa ini dalam kepercayaan Patuntung juga menyembah roh nenek moyang yang tinggal di batu besar, gunung-gunung serta pada pohon besar.
Dalam kepercayaan ini ada upacara rutin dan upacara sewaktu-waktu. Upacara rutin adalah upacara anruppai ulu timoro (menyambut permulaan musim kemarau) dan anruppai ulu bara’ (menyambut permulan musim penghujan). Dalam upacara ini dipimpin oleh Pinati (imam Patuntung), pinati ini sebagai saeseorang yang bisa berhubungan dengan dewa-dewa serta roh nenek moyang serta mahluk-mahluk gaib lainnya. Dalam menyembah kepada dewa-dewa dan roh nenek moyang, pinati ini menyajikan Songkolo dan Jangang (Nasi dan Ayam), sesajen ini disajikan baik dibatu besar, pohon serta pada gunung dan kadang dipersembahkan lewat perempatan jalan.
Setelah agama Islam masuk kewilayah Gowa secara umum, maka pengaruh Islam sudah mulai juga berpengaruh pada kepercayaan Patuntung di Parigi, pengaruh ini terutama pada upacara Tafakkoro (Tafakur) pada penganut patuntung. Tafakkoro pada ajaran Patuntung ini adalah duduk dengan memejamkan mata lalu mengingat dosa-dosa yang sudah diperbuat kemudian meminta ampun kemudian bersalam. Dalam kepercayaan patuntung ini apalagi setelah dipengaruhi oleh Islam sangat memuliakan gunung Bawakaraeng, Bawakaraeng disamping sebagai tempat tinggal para dewa juga adalah merupakan Butta Lompoa -Tanah Mekahnya- ajaran Patuntung. Dimana pada gunung ini terdapat berbagai batu yang dianalogikan sebagai Kabah, Hajaratul aswat dan lain-lain yang ada di Mekah.
Di Parigi sendiri terdapat batu besar yang dijadikan sebagai Saukang (tempat pemujaan roh nenek moyang) dimana pada saukang ini dipasang janur kuning melingkari batu ini serta di dasar batu ini diberi Pa’dupang (dupa) serta terdapat kuburan. Baik upacara rutin maupun upacara hajatan maka di saukang ini akan diberi berbagai macam sesajen, tergantung dari tingkat kemampuan ekonomi orang yang menyerahkan sesajen.

Masuknya Agama Kristen di Parigi
Kegiatan penginjilan Kristen sudah di usahakan sejak lama, seperti yang dikatakan oleh Randwijk. mengatakan bahwa: Proses perkembangan injil di Makassar dan daerah lainnya umumnya telah berkembang sejak pemerintahan VOC yang ditandai dengan adanya jemaat Kristen di Makassar, selain itu terdapat pula beberapa jemaat kecil yang ada di daerah lain seperti Bulukumba, Selayar, Malino dan Soppeng.
Namun karena kebijakan pemerintah Hindia Belanda kemudian sehingga usaha kristenisasi jalan di tempat. Undang-undang Dasar Belanda tahun 1855 ayat 119 menegaskan bahwa pemerintah bersikap netral terhadap agama. Dalam pengertian bahwa tidak memihak dan campur tangan dalam hal agama, bahkan dalam Pasal 123 secara jelas diterangkan  bahwa para penginjil hanya bisa melakukan kristenisasi  terhadap suatu wilayah apabila telah mendapat izin khusus dari Gubernur jenderal. Baru setelah A.W.F. Idenburg yang menjabat sebagai Gubernur jenderal sejak tahun 1906 hingga 1916, secara transparan menyatakan dukungan terhadap usaha-usaha kristenisasi di Indonesia.
Setelah adanya lampu hijau tersebut maka kegiatan kristenisasi  yang sempat terhenti mulai diusahakan kembali. Usaha kristenisasi ke Wilayah Parigi berasal dari Gereja Gereformeerd di Surabaya, Gereja Gereformeerd Surabaya merupakan pioner Kristenisasi ke Sulawesi Selatan pada umumnya, Parigi pada khususnya. Tak lama sebelum Zending mulai melaksanakan kegiatannya di Makassar pada tahun 1933, terutama berkat usaha Gubernur Sulawesi L.J.J. Caron ( 1929 – 1933), dimulailah usaha kristenisasi untuk menghubungkan Pantai timur dan barat serta dibagian selatan semenanjung Sulawesi Selatan, dengan sebuah jalan melalui Malino yang terletak di kaki gunung Bawakaraeng dan Lompobattang. Karena itu pedalaman wilayah ini dapat ditembus dan pegunungan di tengah-tengah Sulawesi Selatan dapat dicapai dalam waktu singkat.
Malino dibuka pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1927, sebelumnya Malino dikatakan sebagai Lapparak ( tempat datar ) Lapparak ini dijadikan sebagai tempat perumputan hewan bagi masyarakat Buluttana dan sekitarnya. Kemudian dijadikan tempat peristirahatan oleh Belanda, bahkan didirikan beberapa bangunan  peristirahatan bagi anak-anak sekolah mereka, diantaranya KVC ( Kindeers Vacancy Colony ) – saat ini SMP Negeri 1 Tinggimoncong.
Masuknya kristen ke Parigi dimulai di kampung Lombasang dekat Malino pada bulan April 1934 yang dibawa oleh Zending yang berkebangsaan Belanda Van den Brink.22  ( de Jong 1996:85 ). Serta Zending lainnya antara lain Tuan Bade orang Toraja serta Tuan Rundu orang Minahasa. Ketiga zending ini mulai melaksanakan kristenisasi di Parigi dan sekitarnya.
Mula-mula Zending ini membangun Sekolah Rakyat kecil di Lombasang yang dipimpin oleh guru Injil dari Ambon yang bernama J.M. Taihattu pada tahun 1935. Namun  karena pengaruh Islam di kampung ini sudah kuat, maka usaha kristenisasi  di Lombasang gagal. Van den Brink dan J.M. Taihattu pada tahun yang sama bertalih kebagian pedalaman lagi yakni kewilayah Parigi tepatnya di kampung Longka .
Parigi di samping itu terletak di kaki gunung Bawakaraeng dengan keadaan alam yang bergunung – gunung sehingga daerah ini terisolasi. Keadaan geografis inilah yang merupakan salah satu kenapa wilayah ini menjadi sasaran kristenisasi. Kristen masuk ke wilayah Parigi.Sudah lama, yakni sejak penjajahan Hindia Belanda. Mile. mengatakan bahwa: Pada saat itu yang menjadi presiden adalah Raja Mina (maksudnya Ratu Wilhelmina), penjajah Belanda mulai masuk ke Malino pada tahun 1927. belanda membangun tembok sebagai tanda ketinggian di gunung Bawakaraeng dan Gunung Batu Ma’cinri, yang membangun dikenal dengan nama Tuan Padang dan Tuan Leiden. Pada tahun 1932 Kristen masuk ke Parigi tepatnya di Kampung Parangtangngaya, penginjil yang membawa kristen ke Parigi bernama Tuan Bade dan Tuan Rundu.
Sejak masuknya Kristen di wilayah ini maka para penginjil ini mulai mempropagandakan ke masyarakat yang nota benenya masih menganut Islam, meskipun Islam versi disini masih Islam sosorang yang masih sangat dipengaruhi oleh kepercayaan setempat (Patuntung) . Para penginjil ini yang dikenal sebagai Tuan Rundu’ yang berkebangsaan Belanda dan Tuan Bade adalah dari Suku Toraja yang kawin dengan orang Paladingang (Bontolempangan). Istri dari tuan Bade’ inilah yang mempunyai hubungan keluarga dengan masyarakat Parigi.
Sejak masuknya agama Kristen di Parigi maka dengan strategi lewat jalur perkawinan yang dilakukan oleh penginjil Tuan Pade’, maka mereka mulai menjaring satu persatu masyarakat Parigi untuk memeluk Kristen. Terbukti sejak awal masuknya agama ini sudah di dapatkan “domba-domba yang tersesat“ sekitar 50-an jiwa penduduk pribumi.

Jadi Kristen masuk ke Parigi sekitar tahun 1932 yang dibawa oleh penginjil berkebangsaan Belanda dan Toraja. Orang Parigi mengenal mereka dengan nama Tuan Rundu’ dan Tuan Bade’. Tuan Bade’ inilah yang menjadi tokoh kristen awal di Parigi karena menyebarkan Kristen lewat jalur perkawinan, yakni ia kawin dengan wanita pribumi. Sebelumnya: Bagian kedua Lanjut Ke: Bagian Keempat.