Bagian Keempat: Pergelutan Islam - Kristen Potret Sejarah Keagamaan di Parigi

Pendorong dan Penghambat Kristenisasi Di Parigi

Faktor Pendorong
Keadaan penduduk di Parigi sebelum masuknya usaha kristenisasi, baik dari segi ekonomi, budaya/kepercayaan, dan sosial/geografi sangat mempengaruhi akan kelangsungan kristenisasi, dimana faktor-faktor tersebut diatas merupakan faktor pendorong kristenisasi di Parigi.
Dari segi ekonomi penduduk di wilayah Parigi pada tahun 1960-an sangat memprihatinkan, dimana jenis padi yang di tanam penduduk pada waktu itu adalah jenis padi tradisional yang biasa dikenal dengan nama Ase Lapang dan Ase Padaelo. Dimana jenis padi tradisional ini berusia dari sejak penyemaian sampai panen berkisar antara 6 bulan sampai 7 bulan. Pemakaian pupuk dan pestisida/racun hama dan herbisida/racun rumput belum dikenal waktu itu. Untuk menggarap sawah, mereka belum menggunakan bantuan mekanik melainkan dari tenaga mereka maupun tenaga hewan. Tanaman perkebunan (Kopi, Coklat, Cengkeh) belum di perhatikan untuk dibudidayakan, sebab tanaman seperti ini belum ada yang mau membelinya.
Akibatnya pada tahun 1960-an, kehidupan perekonomian di Parigi sangat memprihatinkan, bahkan pada tahun – tahun tersebut penduduk di wilayah ini sampai mengambil tanaman yang sebenarnya kurang layak untuk dikomsumsi, banyak yang diambil sebagai bahan pencampur beras untuk dijadikan bahan makanan pokok. Jenis yang biasa dipula’ (dicampur dengan beras tersebut antara lain assikapa (Siapa) jenis umbi-umbian hutan, karoti jenis buah-buahan hutan yang berwarna kekuning-kuningan serta  masa unti  (gedebak  pisang batu).
Keadaan inilah yang menjadi faktor pendorong suksesnya usaha kristenisasi dalam menjaring “domba-domba yang tersesat”. Karena para Zending ini jeli dalam mengambil kesempatan pada semua momen, maka sasaran kristenisasi mereka adalah wilayah Parigi. Penginjil/Zending ini kemudian membagi-bagikan  bantuan ekonomi antara lain bahan pangan berupa berasa gandong (Gandum), susu, mi’i roko’ (mie istant), kaeng robe’ ( Pakaian bekas), bingkung ( Cangkul) dan bahan pokok lainnya. Dalam melaksanakan Kristenisasi dengan cara diatas maka inilah faktor pendorong yang paling berhasil.
Kepercayaan di Parigi saat itu masih menjunjung tinggi budaya serta kepercayan tradisional setempat yang secara turun temurun dari leluhur mereka. Hal ini terlihat dengan dianutnya kepercayaan Patuntung, dimana penganut ini mengaku Islam dengan bukti mereka bahwa penganut ini mengucapkan dua kalimah syahadat ( tiket seseorang untuk menjadi pengikut Islam), Assunna’ (berkhitan), Akkatere (Akikah/upacara potong rambut) dan sebagainya tradisi yang keislam-islaman. Namun bila dilihat lebih jauh masih menganut kepercayaan Patuntung yang lebih mendominasi.
Pembagian tingkat varian keagamaan di Gowa pernah diteliti, dan menghasilkan suatu teori. Adalah Djamas dalam Sudjangi. Mengatakan bahwa: Pengelompokan penganut Islam pada dasarnya hanya terbagi kedalam dua kategori sosial yang berbeda, yaitu kelompok pertama yang merupakan bagian terbesar yakni kelompok Islam Sosorang (Keturunan), kelompok  kedua yakni kalangan islam yang patuh yangt terbagi kedalam beberapa sektarian diantaranya Muhammadiyah, Ahlul Sunnah Wal Jamaah serta kelompok tarekat.
Di wilayah Parigi golongan Islam Sosorang inilah yang mendominasi, sehinnga belum mengerti secara mendalam akan arti dan hakikat untuk menjadi seorang muslim sejati bukan “Islam So’sorang”. Hal ini diperparah dengan kepercayaan Patuntung yang kurang protektif dalam mengantisipasi masuknya kepercayaan baru, Kristen kepada penganutnya. Semua ini menyebabkan terlalu gampangnya meluluhkan keimanan Islam / Patuntung dengan gampangnya memudar digantikan ajaran Trinitas Kristen.
Keadaan sosial / Geografi pada waktu itu juga berpengaruh akan usaha kristenisasi di Parigi. Parigi dapat digambarkan sebagai berikut pada tahun 1960-an. Struktur sosial masih berbau feodal modern, dimana golongan yang terpelajar yang mulai menempati posisi pada golongan elit. Para penginjil / Zending ini rata-rata terpelajar dan selalu berpenampilan necis seperti halnya karaeng – karaeng ( tuan – tuan tanah). Sehinnga penduduk Parigi rela masuk ke Agama Kristen, karena ingin seperti para penginjilnya yang berpenampilan karaeng. Faktor geografis pulalah yang menjadi penentu kristenisasi. Wilayah Parigi yang berada ditengah-tengah jajaran pegunungan yang berpusat pada Bawakaraeng dan Lompobattang, membuat keadaan disini serba terisolasi baik trasportasi yang kurang lancar maupun jaringan informasi kurang bisa menjangkau wilayah ini. Hal inilah yang sempat membuat usaha kristenisasi sempat berkembang dan tidak terlalu mendapat tekanan dari elit-elit Islam.

Faktor Penghambat
Adapun faktor penghambat kristenisasi di Parigi dapat di katakan sebagai berikut. Meskipun sebagian besar penduduk Parigi hanya menganut Islam So‘sorang, namun secara resmi dan diakui oleh undang-undang yang berlaku di negara ini, mereka ini adalah penganut Agama Islam, sehingga bagaimanapun praktek mereka, mereka adalah bagian keluarga besar Islam, hanya mereka perlu dibimbing untuk kembali kejalan Islam sejati yang lurus. Atas dasar itulah elit-elit Islam khususnya Muhammadiyah suatu gerakan yang berusaha memurnikan Islam dari segala macam yang akan mencemarkan atau menggantikannya. Organisasi Muhammadiyah Cabang Gowa mulai mengambil berbagai langkah, diantaranya membangun lembaga pendidikan Islam di Sicini (Pusat Kristenisasi di Parigi). Yakni Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sicini ( MIS Sicini) pada tahun 1976 dan yang menjadi guru MIS Sicini yang terkenal waktu itu adalah Haji Sewang. Dengan adanya MIS Sicini ini maka perkembangan Kristenisasi mulai agak terganggu pelan namun sangat pasti. Sebab murid SDK Sicini yang terletak di Laloasa Sicini pindah pada sekolah baru ini yang dibangun dari kalangan Islam sendiri. Faktor penghambat lainnya antara lain karena terbukanya jalur transportasi dan jaringan komunikasi desa ini, yang membuat penduduk Parigi sadar telah menjadi objek kristenisasi; digalakkannya Modernisasi pertanian (Revolusi hijau) oleh pemerintah serta beberapa gerakan protektif, baik yang legal maupun yang agak ilegal dalam menghambat laju pertumbuhan kristenisasi di Parigi. Sebelumnya: Bagian Ketiga Lanjut ke : Bagian Kelima