Bagian Keenam: Pergelutan Islam - Kristen Potret Sejarah Keagamaan di Parigi

BAGIAN V: DAMPAK KRISTENISASI DI PARIGI

Reaksi Elit Islam Terhadap Kristenisasi di Parigi

Meskipun Islam dan Kristen sama- sama agama langit dan merupakan sama-sama agama dari Nabi Ibrahim dan merupakan agama yang menganut Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun tetap ada perbedaan mendasar yang tidak dapat dinafikan. Menurut Alwi Shihab. mengatakan bahwa : Ada banyak faktor yang menyebabkan ketegangan, perselisihan dan permusuhan kaum Muslim dengan kaum Kristen . ada banyak kepentingan yang terlibat didalamnya, mulai dari kepentingan ekonomi, politik, sosial, budaya hingga keamanan. Namun ada satu faktor yang senantiasa mewarnai setiap konflik Muslim-Kristen, yakni perbedaan teologi. Sebagaimana yang kita ketahui, Islam dan Kristen menganut sistem kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, di dalam Islam dikenal dengan tauhid, sedang dalam agama Kristen dikenal dengan trinitas. Kaum Muslim menolak konsep trinitas, sebuah konsep yang dianggap mengakui adanya tiga pribadi Tuhan, yakni Tuhan Bapa, Tuhan Putra ( Yesus Kristus ) dan Roh Kudus. Penuhanan Yesus Kristus ( Isa a.s ) ini dikecam secara keras di dadalam Al- Qur’an.
Dalam laporan J. Swaak tentang sepak terjang Zending di Sulawesi Selatan  pada bulan Juni 1948. dia mengakui bahwa berdakwah (melakukan usaha kristenisasi) di tengah umat Islam akan menimbulkan pertikaian dengan mereka dan akan menimbulkan perang yang banyak menumpahkan darah. Ia juga mengakui akan kekompakan umat Islam dalam membela agama mereka. J. Swaak yang merupakan Zending Belanda berusaha berargumentasi untuk menyerang Islam dan Muhammad.
Ia menuduh Muhammad dengan sengaja menyusun pengajarannya sebagai pertentangan melawan apa  yang diajarkan oleh orang-orang Yahudi dan Kristen yang berada disekitarnya. Bahkan Muhammad dituduh mengarang dogma-dogma yang berlawanan dengan apa yang diajarkan agama Yahudi dan agama Kristen, karena katanya Muhammad kebetulan berkenalan dengan jenis agama Kristen yang kurang halus di Arab kala itu.
Dengan demikian pada dasarnya di hati penganut-penganut Kristen telah tertanam bara permusuhan yang besar terhadap Islam, apalagi terutama kepada para Zending atau penginjil mereka yang dalam sanubari mereka permusuhan terhadap Islam dan selalu siap meracuni aqidah umat Islam dan selanjutnya mengkristenkan mereka.
Ada sejumlah fakta bahwa ajaran Kristen itu sendiri penuh dengan ajaran-ajaran kekerasan dan pemisahan. Muhammad Abduh mengatakan bahwa Agama Kristen menyerukan pemisahan dan perselisihan antara kaum Kristen dengan kaum lainnya, bahkan sesama kaum Kristen sendiri, untuk mendukung fakta ini Abduh lebih lanjut mengatakan bahwa Yesus Kristus Sendiri berkata „...Janganlah kamu kira aku datang untuk membawa perdamaian diatas bumi ini, aku datang dengan membawa pedang dan bukan perdamaian... “ . Pengaruh kata-kata Yesus Kristus ini tetap melekat di hati orang-orang Kristen meskipun ada ucapan-ucapan Yesus Kristus yang lain yang terbebas dari semangat  kekerasan ini. Bahkan dalam diktum Gereja bahwa kitab suci Bibel hanya boleh dibaca dan dipelajari oleh penguasa gereja dan melarang kaum masyarakat awam untuk membacanya apalagi memahaminya. Terbukti sejak kaum gereja berkuasa maka Eropa jatuh kedalam kelumpuhan Abad kegelapan. Renaissance (Kebangkitan kembali) Eropa hanya dimungkinkan ketika cahaya pengetahuan bersinar dari dunia Timur yang mengusir kegelapan selama berabad-abad. Muhammad Abduh menyimpulkan bahwa Eropa Kristen mencapai tingkat kemajuan dan kekayaan besar ketika meninggalkan ajaran Kristen. Pada sisi lain Islam kehilangan tempatnya yang terkemuka di pentas dunia karena meninggalkan agamanya itu.
Sejak masuknya usaha kristenisasi di Parigi, maka dari sejak semula elit Islam senantiasa berusaha untuk mempertahankan tanah leluhurnya dari setiap usaha kristenisasi. Realisasi dari pembelaan elit Islam ini mulai dari unsur gerakan Paromang (DI/TII), ormas Muhammadiyah, Tokoh Pemuda/Mahasiswa serta masyarakat setempat.
Reaksi pertama yakni pembakaran gereja pada tanggal 15 Oktober 1961 oleh gerakan Paromang. Reaksi selanjutnya yakni pembangunan lembaga pendidikan Islam oleh Muhammadiyah pada tahun 1976 untuk menyaingi lembaga pendidikan Kristen yang ada di wilayah ini.
Letupan-letupan reaksi terhadap kristenisasi di Parigi semakin nyata dan bahkan ditandai dengan adanya gerakan-gerakan yang sedikit anarkis. SD Kristen  yang terletak di Laluasa, yang tadinya digusur atas kehadiran MIS Sicini kemudian dicoba dipindahkan ke kampung Lojong untuk dilanjutkan, akhirnya dibakar pada tahun 1989 dan siapa membakarnya tidak diketahui sampai saat ini.
Rumah kediaman Pimpinan Jemaat Kristen Sicini pada tanggal 15 Januari 1991 di ganyang (dilempari batu) oleh tokoh pemuda Sicini yang sudah sadar bahwa wilayahnya telah lama digerogoti usaha kristenisasi. Pemicu pengganyangan ini, karena waktu itu pimpinan Jemaat Kristen Sicini yang bernama Pendeta Daud Kovia mengambil tindakan yang dianggap menghina Islam. Ia menjadikan lap kaki di gerejanya selembar sujadah. Padahal sujadah bagi umat Islam dikenal sebagai tempat/alas untuk sujud (Shalat) kepada Allah SWT.
Puncak dari reaksi elit Islam adalah Gereja yang terletak di kampung Benteng musnah dilalap api, seperti yang dikatakan Imam Desa Sicini, Muh. Nurdin.: Api itu bukan tampa disengaja. Pada hari Ahad pagi tanggal 7 Agustus 2000, dua buah mobil pete-pete melaju ke Sicini, penumpang mobil pete-pete ini adalah Mahasiswa yang berjumlah 48 orang. Tepat pukul 10.00 wita gereja yang berukuran 5 x 15 M2 ini dibakar oleh mereka. Waktu itu yang menjadi pimpinan Jemaat adalah Pendeta Atok Saramang. Gereja ini teryata di bakar oleh mahasiswa HMI Cabang Gowa.
Pembakaran gereja ini sempat heboh dan juga sempat ditangani oleh pihak kepolisian, namun polisi tidak dapat membuktikan siapa yang membakar gereja ini. H. Latif.mengatakan bahwa: Gereja ini memang pantas dimusnahkan atau dibakar karena pendirian gereja  ini ilegal dari segi hukum, waktu dibangun dihalangi oleh dinding gamacca dibagfian depannya, setelah gamacca dibuka ternyata sudah ada bangunan gereja yang berdiri. Gereja ini terletak diantara rumah-rumah orang yang beragama Islam serta melanggar peraturan SKB tiga Menteri tentang pembangunan tempat ibadat harus memenuhi syarat yakni terdapat sekitar 40 tanda tangan dan copy KTP penganut agama tertentu yang mengusulkan pembangunan tempat ibadat mereka. Padahal saat ini penganut Kristen secara keseluruhan sekitar 30 jiwa, besar kecil.
Setelah gereja ini di bakar maka semakin menurunlah jumlah penganut agama Kristen di Parigi. Sampai saat ini pihak Kristen tetap memimpikan berdirinya sebuah Gereja di wilayah ini, namun pemerintah setempat mulai proaktif dalam menghadapi masalah ini, apalagi telah terbit Peraturan pemerintah provinsi yang menyebutkan bahwa untuk membangun tempat ibadat, harus disetujui 90 orang yang sudah dewasa serta dukungan dari masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh Kepala Desa/Lurah.10 Dengan adanya peraturan baru ini, maka praktis Jemaat Kristen Sicini tidak akan pernah lagi bisa membangun sebuah Gereja yang selalu diimpi-impikan oleh mereka.
Usaha Pengembalian Ke Agama Semula
Sejak tahun 1967 sudah ada usaha untuk mengembalikan penganut Kristen ke agama semula, Islam. Tokoh Kristen pribumi utama Daeng Rodo akhirnya kembali ke Islam karena adanya pertengkarannya dengan pengurus Sinode GKSS yang diikuti oleh sebagian besar pengikutnya, namun beberapa keluarganya termasuk Daeng Subu masih tetap memeluk Kristen Yang menjabat Bupati Gowa waktu itu ialah KS. Mas’ud sempat memberi perhatian terhadap kembalinya Daeng Rodo ke agama Islam, ia memanggil Daeng Rodo ke kantornya, sepulangnya Daeng Rodo dari Kantor Bupati ia membawa banyak dsekali pakain bekas sebagai hadiah dari Bupati, agar tidak masuk ke dalam Kristen lagi hanya karena Kaeng Robe/Pakaian Bekas.
Sekitar 70-an orang pengikut Kristen berhasil dikembalikan ke Islam berkat usaha Muhammadiyah, sebab gerakan ini memang lahir dengan salah satu tujuannya yakni membendung kegiatan misi Katolik dan Protestan. Sewaktu ke-70 orang ini kemudian dimandikan sebagai tanda mereka telah kembali ke Islam dan yang memandikan mereka adalah Ustadz Qasim yang waktu itu menjabat sebagai Kepala Kantor Departemem Agama Kabupaten Gowa. Hal ini terjadi pada tahun 1970-an.14
Tidak hanya dari kalangan ormas dan kalangan pemuda saja yang aktif melakukan usaha untuk mengembalikan mereka dari agama semula. Kalangan perguruan tinggi pun ikut ambil bagian, pada tahun 1987, Sicini yang merupakan pusat kristenisasi di Parigi menjadi desa binaan dari IAIN Alauddin (sekarang UIN Alauddin).  Pada awal pembinaan dari IAIN Alauddin ini tercatat sekitar 30 orang lagi yang berhasil di Islamkan kembali.
Pemerintah khususnya pemerintah Desa Sicini pun berusaha memberikan penerangan kepada warganya yang belum mendapat hidayah untuk kembali keagamanya semula. Daeng Bani berhasil di Islamkan pada tahun 1987, Daeng Bani ini adalah salah satu tulang punggung Kristen. Terakhir pada bulan September 2006 salah satu pengikut kristen yang bernama Daeng Sibo akhirnya kembali memeluk agamanya semula, Islam.

Surutnya Penganut Kristen di Parigi
Puncak perkembangan Agama Kristen di Parigi pada tahun 1967, ditandai dengan adanya sekitar 302 penganutnya. Namun sepuluh tahun kemudian tepatnya tahun 1976, kehancuran usaha kristenisasi mulai nampak, sebab tokoh terpenting Kristen, Daeng Rodo kembali ke Islam. Dari tahun ketahun banyak pennganut Kristen yang mengikuti jejak Daeng Rodo, disamping banyaknya penganutnya yang kembali ke Islam juga ada dua faktor yang menyebabkan surutnya penganut Kristen di Parigi, yang pertama yakni banyak keluarga Kristen yang bermigrasi keluar Parigi serta faktor kedua sudah banyak juga yang telah meninggal dunia, setelah meninggal dunia maka keluarga mereka ramai-ramai menganut Islam kembali .
Saat ini tinggal 30-an jiwa penganut Kristen di Parigi, mereka ini bertahan menganut agama Kristen karena penganut ini memang sudah menerima Ajaran Kristen sebagai ajaran hidupnya, dan mereka adalah anak-cucu dari Daeng Subu, satu-satunya tokoh Kristen Pribumi yang masih hidup dan bertahan dalam ajaran Kristen. Saat ini yang menjadi ketua Majelis Jemat Kristen Sicini adalah Pendeta Drs. Marianus merangkap sebagai Pengantar Jemaat, Demianus sebagai Penetua merangkap Guru sukarela SD Kristen Lojong dan yang menjadi Syamas adalah Daeng Subu.
Setelah gereja mereka di bakar, maka anggota jemaat ini melaksanakan kebaktian setiap Ahad di rumah Daeng Subu yang semula menjadi tempat kediaman Daeng Subu. Tapi kini rumah Daeng Subu telah menjadi gereja yang tidak resmi. Yang setiap pekan ditempati kebaktian oleh jemaat Kristen.
SD Kristen yang sempat terbakar pada tahun 1989, di usahakan untuk beroperasi kembali. Adalah Demianus Guru Sukarela yang datang sejak tahun1989 berusaha membangun SD Kristen ini dengan menggunakan kolong rumahnya sebagai tempat belajar mengajar. Meskipun resminya SD Kristen ini telah ditutup oleh pemerintah, namun kenyatannya tetap eksis dan setiap tahun menelorkan siswa baik dari siswa kalangan Kristen maupun dari Islam. Pada bulan April 20006 dibangun lagi sarana Kristenisasi yakni pembangunan Saluran Air PAM ke rumah-rumah penduduk, sponsor pembangunan PAM ini dari Yayasan Mateppe salah satu yayasan yang resminya bergerak dibidang sosial namun dibalik itu, yayasan ini merupakan mitra dari GKSS (Gereja Kristen di Sulawesi Selatan) yang disinyalir akan melakukan usaha kristenisasi secara halus, namun agaknya usaha kristenisasi ini akan sia-sia.

Lampiran Lampiran
LAMPIRAN A
ARSIP PEMBANGUNAN GEREJA PERTAMA DI SICINI TERTANGGAL MALINO SEPTEMBER 1961
[ ... ]
Pembangunan Pondok/Geredja di Sitjini telah selesai pd tgl 27 sept. 61. Dan pd tgl 28-9-61 pd djam 9.00 pagi kami mengadakan kebaktian pendek dipimpin oleh Sdr. B. Doynga. Pembtj. ALK Kis. 20:17,28. Hadir Lk 8. Pr 12 orang. Setelah kebk. Selesai kami adakan rapat, sesuai dengan nota instruksi dan PP. Pd perkundjungan kami ke Makassar Pd tgl 20-9-61. Antara lain ditekankan: seperti tertjantum dibawah ini:
Madjelis Djemaat dibentuk. Dan kami telah bentuk:
  • Ketua : B. Doynga
  • Wakil Ketua : Hasan
Anggota:
  • Rodo
  • Subu
  • Tangka
Persatuan organisasi Djemaat jaitu Persatuan kematian jaitu mengumpulkan wang Rp. 10 (sepuluh rupiah) dlm satu keluarga. Wang juran tiap2 bulan Rp. 1 (satu rupiah).
Usul2 membuat kebun Geredja untuk menanam pisang d.l.l. mengerdjakan sawah untuk Geredja, untuk penanaman pisang adalah dalam kintal Geredja. Sawah adalah kepunjaan anggota sendiri ttp dalam keadaan gadai Rp. 1000 (seribu rupiah). Mengenai tanah kering untuk penanaman pisang, ubi d.l.l. itu kira2 makan ongkos Rp. 1500 (seribu lima ratus rupiah).
Perongkosan jg tertjantum diatas jg Rp. 2500 (dua ribu lima ratus rupiah) itu tentunja diharap bantuan dari Geredja pendukung karena ini baru permulaan pembukaan. Lain daripada itu anggota Djemaat mengusulkan supaja Pa‘ Guru berusaha mentjari kain2 robe sekedar untuk menolong anggota2 jg perlu ditolong.
Tentang baptisan Kami katakan bahwa nanti saja kembali dari Makassar baru ada ketentuan, dan bila ada perubahan tentunja akan disampaikan, waktu mana dilakukan. Sj kemukakan pada anggota2 bahwa pondok ini sudah selesai, dan perkundjungan P.P dari Makassar, dan tentunja kita undang Bapak2 di Malino, untuk turut menjaksikan adanja rumah Geredja di Sitjini. Dan jg sangat penting ialah persatuan kita disini sebagai anak2 Jesus Keristus jg hidup di tengah2 api.
Perlu Sj djelas disini bahwa Sitjini sangat tidak aman, sebab ppermulaan September Gerombolan selalu berkeliaran di Kamp., diantaranja dua Pos APR dibakar, dua rumah ra’jat jg dibakar habis. Oleh sebab itu anak2 sangat chawatir kalau2 rumah Geredja ini djadi sasaran api.
Saja katakan bahwa djanganlah kita terlalu terpengaruh oleh keadaan, tetapi baiklah kita kerdja terus, karena ini adalah  untuk hormat dan kelebaran Keradjaan Allah. Dan kalau ada biarlah itu menurut kehendaknja.[ … ] Djika keuangan mengizinkan, sangat perlu ada pondok dekat Geredja jg akan dibangun tersebut supaja ada org jg mendjaganja dan setidak2nja pembantu Guru.
[ … ] Lain dari Sitjini kami angkat seorang pembantu guru lagi jg berkedudukan di Pangadjian 7 Km dari Malino

LAMPIRAN B
ARSIP SURAT KEPALA DESA PATTALLIKANG TENTANG PENOLAKAN PEMBANGUNAN GERJA DI SICINI TERTANGGAL SALUTOWA, 6 MEI 1964
[ ... ] Bersama ini Kami sampaikan bahwa pihak Kami tidak dapat mempertanggung-jawabkan Pembangunan geredja tsb berdasarkan bahwa menurut pengetahuan Kami sebagai Kepala Desa:
  • Djumlah Ummat Kristen di kampung tsb hanja berdjumlah 3 keluarga ( 7 orang) termasuk anak-anak.
  • Dari segi keamanan dan persatuan dichawatirkan akan tidak terdjamin karenanja, mengingat bahwa sebelum rentjana Pembangunan Geredja tsb lebih dahulu Ummat Islam jang berdjumlah 2.157 org jang bertempat tinggal di Kampung tsb mengadjukan keberatannja kepada Kami. [ .... ]
LAMPIRAN C
ARSIP LAPORAN PERKUNJUNGAN KE SICINI M. SINGGIH 30 APRIL – 3 MEI 1964 TERTANGGAL MAKASSAR, 16 MEI 1964
[ ... ]Tentang pernikahan, maka semua setudju, bilamana diadakan pertjakapan lebih dahulu. Tentang baptisan, maka kepada Raba dan Subu diberikan instruksi untuk mengumpulkan semua tjalon baptisan untuk dibaptis besok. Djuga harus diberitahukan kepada seluruh anggota Djemaat, bahwa hari minggu akan diadakan kebaktian dan diminta segera hadir. Tentang pembangunan Geredja, kita mendapat keterangan, bahwa tempatnja telah tersedia, akan tetapi bhb dengan kesakitan dari Sdr. Rodo, maka baru beberapa potong balok jg selesai. Tempatnja pun belum diratakan, bahwa kita semua besok pagi akan pergi ketempat itu dan menanam tiang pertama (ini sesuai dengan kebiasaan orang Makassar jang menjebutnja balo tangnga. Artinya balok tengah).
Pada kesempatan ini djuga kami memberikan penerangan mengenai pembentukan geredja GKSS di waktu dekat dan pentingnja pembangunan Djemaat di Sitjini. Kami pun usulkan agar supaja dalam rangka ini kita adakan peneguhan Madjelis Djemaat, agar supaja dengan resmi anggota2 dapat melihat dan menerima pemimpin2nja. Dengan kata lain, segala hal jg bersangkutan dengan kehidupan djemaat adalah tanggung djawab Madjelis. Hal ini disetudjui, sesudah mana rapat ditutup. Ibu Rodo telah menjediakan hidangan jg sederhana, dan ditengah2 kita sedang menikmati hidangan itu ada panggilan dari orang tua dg. Dao, jg telah tiba dirumahnja.
Berhubung karena telah lewat djam 17. 00 maka kita tergesa2 kerumahnja penganten bersama madjelis. Dengan kaki jg penuh dengan lumpur dan pakaian jg kotor dan berkeringat kita masuk kerumahnja pengantin dan terus mengadakan pertjakapan, jg dipimpin oleh ds. Dungke dan Barnabas. Suatu pertjakapan geredjani jg benar dalam tempat dan suasana jg primitif, ditengah2 orang jg sedang sibuk dengan menjediakan makanan dan pelbagai matjam tugas perkawinan.
Dg. Dao (i.e pengantin perempuan) mendjawab dengan  dengan tegas, bahwa sjarat yg diminta itu harus diterimanja, oleh karena dari semula ia memilih djalan ini. Ini juga jg menjebabkan  sehingga ia menunggu keputusan  dari tuan guru (i.e Barnabas Doynga). Djawabab ini sangat mengharukan  dan kita tidak ragu2 lagi memberikan persetudjuan kita mengenai pernikahan.
Setelah itu barulah dg. Dao mengumumkan, bahwa pernikahan akan berlangsung dan mengirim orang  kerumah wali pengantin lelaki [wali ini ialah  kepala kampung, orang Islam]. Waktu kira2 djam 18. 00. Setengah djam kemudian maka tibalah rombongan pengantin dengan membawa sunrangnja  (bruidscat). Sesudah itu diadakan upatjara pernikahan setjara adat, hal mana merupakan nikah resmi bagi pemerintah. Untuk siswa2 Theologia dan kamipun jg upatjara ini sangat  ini sangat menarik hati. Lampu minjak jg dibawa oleh Barnabas dari Malino utk djemaat di Sitjini mulai dipasang dan semua jg berkepentingan bersama kepala kampung duduk disebuah baki dan guling dan terjadilah tawar menawar mengenai mas kawin. Jang dipakai dahulu kala ialah mata uang jg disebut Reala‘, dan sekarang diganti dengan uang logam Indonesia. Jg tentu kurang merdu suaranja. Akan tetapi dengan segala humor jg hanja terdapat pada orang Makassar, maka pernikahan dapat diselesaikan.
Sekarang tibalah saatnja untuk peneguhan kawin setjara Keristen. Disini barulah kita liat ds. Dungke in action. Ia muntjul komplit dengan djas dan dasi hitam, rambut jg mengkilat dengan pomade dan berbau minjak wangi. Pengantin dan tamu diberikan petundjuk bagaimana harus duduk, dan mulailah kebaktian perkawinan, tepat sebagai tertulis dalam buku liturgi dari GKSS, ialah berbuatlah demikian, komplit dengan njanjian, pengakuan pertjaja, penerangan nikah menurut firman tuhan, pertanjaan yg dijawab oleh kedua mempelai dengan tojeng, berarti ja, semuanja dari permulaan hingga penghabisan dalam bahasa Makassar. Kita semua dan Ds. Dungke sendiri merasa sangat terharu. Kita semua anggota djemaat dari Geredja jg telah lama berdiri dengan sendirinja biasa dengan kebaktian perkawinan, akan tetapi disini decornja lain. Tidak ada gedung, tidak ada kursi, tidak ada bunga, tidak ada musik. Disini hanja ruangan 3x3 meter, disinari dengan tjahaja lampu minjak, sedangkan diluar gelap gulita. Dibawah ruangan rumah disimpan kuda dan ternak lainnja. Disini tidak ada wol dan sutera, akan tetapi kita semua sama rupanja, berbau lumpur dan keringat. Meriahnja berlainan, tenang dan penuh kepertjajaan. Pada waktu kedua mempelai berlutut didepan pendeta dan menerima berkat jg kasih dan kemurahan hati Tuhan kita Jesus Keristus jang mengizinkan pernikahan ini berlaku ditempat jg jauh ini, tinggi diatas gunung dan terpentjil dari ummat manusia lainnja. Sekonjong2 kita merasa, bahwa kita merasa tidak asing lagi disini, bahwa kita semua adalah sama, dan kami sendiri menganggap Djemaat ini adalah wadjar disebut dewasa, walaupun menurut pendapat theoretisch belum.
Ingatlah dan Insjafilah, bahwa mereka dan Dg. Dao menunggu 2 hari dan 17 djam untuk mendengar keputusan kita, baru mulai dengan upatjara jg penting itu! Tidak ada keluhan, penuh kesabaran, tidak ada tafsiran jg salah, tidak ada tuduhan atau perkataan jg kasar, penuh dengan kepertjajaan tentang tindakan kita. Tjoba hal demikian terjadi dikalangan kita di Djemaat jg old established, tjoba pendetanja terlambat 5 menit saja, tjoba madjelisnja mengambil keputusan jg berlainan dengan kemauan jg bersangkutan, apa akibatnja.
Andai kata pada saat ini kita menolak peneguhan kawin, maka kami sendiri jakin, bahwa pernikahan tidak akan dilakukan. Disinilah letaknja penilaian kami mengenai sifat mereka di Sitjini itu dan baru ini kalilah kami sendiri merasa betapa besar bahagia jg kami terima dari Tuhan jg memanggil kami untuk turut serta dalam pekerjaan pengkabaran Indjil ini. [ ... ] Djam 12. 30 [pada hari berikut] kita tiba kembali di rumah Dg. Dao dan melihat telah banjak orang jg menunggu2. [ ... ] Ds. Dungke dan Barnabas telah mulai dengan mengatur tempat duduk untuk kebaktian baptisan. Sesudah itu maka sebagai pendeta jg ernstig, maka Ds. Dungke mulai memeriksa tjalon baptisan, menanjakan nama ibu dan bapa, tentang peladjaran jg telah didapat dan tentang kejakinannja. Ada juga anak jg ditolak, oleh karena ibu bapanja tidak hadir. Jg menarik hati kami ialah sikap Guru Barnabas, jg melihat domba2nja diperiksa dan slalu ingin memperlunak pertanjaaan. Maklumlah, ialah gembalanja dan dengan sendirinja ia ingin agar supaja semua dombanja masuk ke kandang. Waktu dihitung semua tjalon baptisan, maka malang, seorang tidak ada, dan djusteru ia inilah jg terpenting bagi semua pihak. Sdr. Maliang, penganten baru, jg berdjanji akan dibaptis, hilang. Ditanjakan kemana, tidak ada jg ketahui, mungkin ke rumahnja, mungkin ke ladangnja. Apa jg harus diperbuat Ds. Dungke tidak akan menerima begitu sadja tindakan ini. Barnabas pun djuga rupanja telah putus asa. Sdr. Rodo, jg turut hadir dan sangat impulsief mulai berkata2 tentang djanji dan lari. Semua mata ditujukan kepada kami. Oleh karena kami mengetahui sifat orang Makassar da Maliang dan djuga kami pertjaja kepada Dg. Dao, maka kami andjurkan untuk mulai sadja dengan kebaktian. Sesudah itu kita akan bitjara dengan Dg. Dao dan mengikat ia pada djanjinja, lalu besok kita akan baptis Sdr. Maliang.
[ ... ].

LAMPIRAN D
ARSIP SURAT MAJELIS JEMAAT SICINI TENTANG PENDIRIAN SD KRISTEN SICINI TERTANGGAL SICINI, 15 SEPTEMBER 1965
[ ... ] Dengan ini, Kami menjampaikan [ ... ]
  • Bahwa Djemaat Kristen Sitjini insjaf, sebagai Geredja terpanggil untuk ikut setjara aktif mengambil bahagian bersama2 dengan pemerintah dalam usaha2 pembangunan masjarakat a. l. Dibidang pendidikan, sebagai salah satu segi penjelesaian Revolusi Nasional, menudju masjarakat adil dan makmur.
  • Bahwa Djemaat Kristen Sitjini merasa perlu untuk membuka sebuah Sekolah Dasar Swasta di Sitjini [ ... ].
  • Bahwa rentjana dan usaha pembukaan Sekolah Dasar Swasta di Sitjini, memang dikehendaki dan didukung oleh Pemerintah setempat, pemuka2 masjarakat serta masjarakat pada umumnja, terutama jg berdiam dalam lingkungan sekolah tsb. [ ... ].
  • Berdasarkan hal2 tsb, maka Madjelis Djemaat Kristen Sitjini [ ... ] akan membuka sebuah Sekolah Dasar Kristen (SDK) Sitjini di Sitjini, dengan beberapa ketentuan sbb: a.   Pembukaan Sekolah Dasar Kristen (SDK) Sitjini, terhitung mulai tanggal 1 Agustus 1965, sedang pembukaannja dengan resmi akan dilakukan nanti pada tanggal 1 Oktober 1965; b.  SDK Sitjini berstatus Perguruan Swasta jang diasuh oleh Gerdja Kristen di Sulawesi Selatan (GKSS) c. Q. Madjelis Djemaat Keristen Sitjini; c.   SDK Sitjini bertempat dikampung Leloasa (RT. 15 / RK. III / Desa Parigi / Krtjamatan Tinggimontjong / Dati II Gowa). Gedungnja sementara direntjanakan pembangunannja dan untuk sementara waktu bertempat dirumah Geredja Djemaat Kristen Sitjini; d.  SDK Sitjini terutama menampung anak2 dari 4 buah RT (RT. 14 s/d 17) serta anak2 penduduk disekitarnja jang dekat; e.   SDK Sitjini dimulaikan dengan murid: 45 orang jang terdiri dari kelas I, 33 orang dan Kelas II 12 orang.[ ... ].
LAMPIRAN E
ARSIP LAPORAN BULANAN ALS. MAKATONAN TENTANG KEADAAN ADAT ISTIADAT DI SICINI (PARIGI) TERTANGGAL SICINI SEPTEMBER 1965
[ ...] 6. 1 – 5 – 1965: Mengadakan perkundjungan berturut2: Keluarga Pulo, Rodo, Bantong (bukan anggota). Dalam perkundjungan ini, semuanja untuk mempertjakapkan penjelesaian Sdr. Suddin dan Djumaria. Tjeriteranja demikian: „sejak tahun lalu njata bahwa Suddin (laki2) anak Pulo dengan Djumaria anak Rodo, saling bertjinta2an. Untuk itu orang tuanja berdjanji akan mengawinkan anaknja pada tahun depan (1965) setelah panen“. Kepada Suddin ALS. Makatonan nasihatkan supaja djangan terburu2 dan lebih baik sabar menunggu rentjana orang tua kamu berdua. Pada tgl 16 April 1964 ALS. Makatonan ke Tombolo dan akan tinggal di Malino untuk persiapan ke Soppeng musjawarah. Tgl 19 april 1964 utusan2 dari Sitjini jang akan ke Soppeng datang di Malino dan membawa berita bahwa Suddin dan Djumaria telah melarikan diri ( Silariang) untuk kawin. Rodo mengantjam bahwa musti membunuh Suddin djika tidak sanggup membajar: 1 ekor kuda, beras 200 liter dan Uang Rp.30.000. kepada Rodo ALS. Makatonan nasihatkan agar tenang dulu nanti kembali dari Soppeng baru hal ini diselesaikan. Sebagai tindakan pertama ALS. Makatonan menulis surat kepada Anggota Madjelis Djemaat jang masih tinggal di Sitjini dan Pemerintah setempat jang isinja adalah demikian:
  • Supaja Sdr. Suddin dan Djumaria diambil dimana ia bersembunji dan dipisahkan dirumah tempat ditahan masing2.
  • Djangan ada jang berbuat apa2 sebagai tindakan penjelesaian sebelum ALS. Makatonan kembali dari Soppeng.
Oleh karena Notulen musjawarah, ALS. Makatonan tinggal di Soppeng 7 hari sesudah musjawarah berakhir, sehingga utusan2 dari Sitjini berangkat lebih dahulu diantaranja Rodo. Setibanja Rodo di Sitjini, keadaan tambah meruntjing. ALS. Makatonan kembali dari Soppeng boleh dikata langsung ke Sitjini atas inisiatip (Oto) dari Pak Singgih berhubung persoalan itu. Di tengah djalan menudju ke rumah di Sitjini, Dao menemui ALS. Makatonan jg baru tiba dan memberitahukan keadaan dimana Rodo tetap keras pada pendiriannja dan masjarakat bersepakat akan mengeluarkan Rodo dari kampung kalau tetap mengatjaukan keadaan. ALS. Makatonan langsung mengadakan kundjungan2 kepada ketiga keluarga tersebut. Bantong ialah menantu Rodo jang berpengaruh dalam kampung. Sesudah pertjakapan pandjang lebar dan nasihat2 maka keadaan reda dan Suddin akan dikawinkan dengan Djumaria setjepat mungkin (tgl 9 Mei 1965) dan keluarga Pulo hanja membajar Rp.50.000,-. [ … ] Sebelumnya" Bagian Kelima
###Selesai###